FIF merilis dua seri obligasi senilai Rp 2,12 T



JAKARTA. Perusahaan pembiayaan masih mengandalkan penerbitan obligasi sebagai salah satu sumber pendanaan. Salah satunya PT Federal International Finance (FIF) yang menerbitkan obligasi berkelanjutan II tahap IV senilai Rp 2,12 triliun.

Berdasarkan keterangan resmi perusahaan, surat utang ini diterbitkan dalam dua seri. Yakni seri A senilai Rp 868 miliar dengan tenor satu tahun dan jatuh tempo 7 Oktober 2017. Seri ini menawarkan kupon 7,25%. Kemudian seri B senilai Rp 1,25 triliun dengan kupon 7,95%.

Instrumen ini bertenor tiga tahun dan jatuh tempo 27 September 2019. FIF akan melakukan masa penawaran pada 20-22 September 2016. Adapun penjatahan dijadwalkan 23 September. Dengan demikian, pencatatan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) bisa dilakukan 27 Desember 2016.


Untuk penerbitan ini, FIF menunjuk empat perusahaan sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi obligasi. Mereka adalah Indo Premier Securities, Mandiri Sekuritas, MNC Securities dan Trimegah Securities.

Obligasi ini adalah bagian dari penawaran umum berkelanjutan (PUB) II senilai total Rp 10 triliun. Sebelumnya, FIF telah menerbitkan PUB II taham I dan II masing-masing senilai Rp 3 triliun dan Rp 1,5 triliun pada 2015. Sedangkan untuk tahap III diterbitkan Rp 3,37 triliun pada April 2016.

Head of Fixed Income Indomitra Securities, Maximilianus Nico Demus memperkirakan, obligasi ini akan diincar investor di tengah minimnya imbal hasil obligasi pemerintah. Dia menilai, obligasi FIF seri A menawarkan kupon lebih tinggi ketimbang yield obligasi pemerintah tenor satu tahun sebesar 6,26%.

Demikian juga obligasi FIF seri B yang menawarkan kupon lebih tinggi daripada yield obligasi pemerintah dengan tenor sama sebesar 6,58%.

"Dengan demikian, obligasi seri B yang memberikan spread premium sekitar 1,37% tentu lebih menarik dibandingkan tenor satu tahun yang hanya sekitar 1%," ujar Nico.

Namun, prospek bisnis perusahaan leasing dinilai masih kurang menarik. Pemicunya, daya beli masyarakat rendah serta kredit bermasalah naik.

"Potensi kenaikan harga di pasar sekunder tentu ada. Namun melihat melimpahnya obligasi korporasi saat ini, bukan tak mungkin pelaku pasar dan investor mempertimbangkan obligasi sektor lain yang lebih prospek saat ini," tutur Nico.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie