FIFA Menang Taruhan, Tiket Mahal Piala Dunia 2026 Tetap Laris Diburu Penonton



KONTAN.CO.ID - Piala Dunia 2026 membuktikan bahwa tingginya harga tiket tidak menyurutkan minat penggemar sepak bola.

Menjelang partai final yang mempertemukan Argentina melawan Spanyol pada Minggu (19/7/2026), FIFA dinilai berhasil memenangkan pertaruhan dengan menetapkan harga tiket yang jauh lebih tinggi dibandingkan edisi sebelumnya.

Baca Juga: Trump Ingin AS Jadi Tuan Rumah Piala Dunia Lagi, Tanpa Kanada dan Meksiko


Laga final di New York New Jersey Stadium bahkan disebut sebagai salah satu ajang olahraga dengan harga tiket termahal yang pernah digelar di Amerika Serikat.

Keberhasilan tersebut menjadi pencapaian tersendiri bagi FIFA setelah sebelumnya muncul kekhawatiran mengenai pembatasan visa serta situasi politik domestik di Amerika Serikat yang diperkirakan dapat mengurangi jumlah penonton.

Pakar industri tiket olahraga sekaligus pendiri Ticket Talk Network, Scott Friedman, menilai FIFA berhasil memperkirakan tingginya permintaan pasar.

"FIFA melakukan pekerjaan yang sangat baik dalam mengukur permintaan. Orang-orang tetap bersedia membayar harga tiket yang sangat tinggi untuk hampir seluruh pertandingan," ujar Friedman dilansir dari Reuters Sabtu (18/7/2026).

Menurutnya, setahun lalu banyak pihak memperkirakan isu kebijakan imigrasi Amerika Serikat dan berbagai kekhawatiran lainnya akan menekan minat penonton internasional. Namun, popularitas Piala Dunia tetap mampu menarik penggemar dari berbagai negara.

Baca Juga: Iran Serang Kembali Negara-Negara Teluk, AS Lanjutkan Gelombang Serangan ke-7

Hampir seluruh stadion terisi

Analisis Reuters terhadap data kehadiran penonton FIFA menunjukkan lebih dari separuh dari 72 pertandingan fase grup berlangsung dengan stadion terisi penuh.

Sementara itu, sebagian besar pertandingan lainnya hanya menyisakan beberapa ratus kursi kosong.

FIFA menyebut tingkat keterisian kursi pada fase grup mencapai sekitar 99,7% dari total kapasitas yang tersedia.

Data tersebut mematahkan kekhawatiran awal bahwa tingginya harga tiket akan membuat banyak kursi kosong.

Kekhawatiran itu sempat muncul setelah laga Korea Selatan melawan Republik Ceko di Stadion Guadalajara pada 11 Juni memperlihatkan sejumlah kursi kosong, meski FIFA melaporkan jumlah penonton mencapai 44.985 orang dari kapasitas stadion sekitar 46.000 kursi.

Baca Juga: Trump Media Jual Akses Kilat ke Unggahan Trump, Tarifnya Tembus US$100.000

Harga tiket melonjak

Seiring bertambahnya jumlah peserta menjadi 48 tim, minat masyarakat terhadap turnamen juga meningkat.

Pada awal penjualan, harga tiket pertandingan fase grup dipatok mulai US$ 575 per lembar, lebih dari dua kali lipat harga tiket termahal fase grup pada Piala Dunia 2022.

Namun, FIFA menerapkan sistem dynamic pricing, sehingga harga tiket dapat berubah mengikuti tingkat permintaan pasar. Akibatnya, banyak penonton membeli tiket dengan harga yang jauh lebih tinggi.

Menjelang final, sempat tersedia ratusan tiket di platform resmi FIFA dengan harga lebih dari US$ 7.000. Kondisi tersebut memunculkan spekulasi bahwa FIFA mungkin telah menetapkan harga terlalu tinggi.

Namun, Friedman menjelaskan kondisi tersebut merupakan bagian dari strategi slow ticketing, yakni metode yang lazim digunakan penyelenggara ajang besar dengan merilis tiket secara bertahap guna menjaga permintaan tetap tinggi.

Pada Jumat (17/7), hampir seluruh tiket final telah habis terjual. Hanya tersisa beberapa tiket di platform resmi FIFA dengan harga sekitar US$ 32.000 per lembar.

Baca Juga: Banjir Bandang di Vietnam Tewaskan Empat Orang, Empat Lainnya Masih Hilang

Dynamic pricing picu perdebatan

Penerapan dynamic pricing untuk pertama kalinya di Piala Dunia juga memicu perdebatan.

Melalui sistem ini, harga tiket dapat berubah sewaktu-waktu berdasarkan permintaan pasar dan faktor lainnya.

Associate Professor Industrial Engineering and Operations Research Columbia University, Adam Elmachtoub menilai, masyarakat sebenarnya sudah terbiasa dengan sistem harga dinamis, seperti pada tiket pesawat maupun industri ritel.

Namun, menurutnya, FIFA perlu memberikan transparansi yang lebih besar mengenai mekanisme penentuan harga tiket.

"Salah satu penyebab munculnya frustrasi adalah tidak ada yang benar-benar mengetahui bagaimana mekanisme ini bekerja. Transparansi akan sangat membantu," katanya.

Sebagai respons atas kritik tersebut, FIFA akhirnya menyediakan sebagian tiket dengan harga yang lebih terjangkau.

Langkah ini diambil setelah sejumlah politisi, termasuk Wali Kota New York Zohran Mamdani, meminta agar masyarakat lokal tetap memiliki akses terhadap tiket dengan harga yang lebih terjangkau.

Baca Juga: Rusia Gencarkan Serangan ke Pelabuhan Laut Hitam Ukraina, Tiga Orang Tewas

Pasar tiket sekunder ikut terdongkrak

Longgarnya aturan penjualan kembali tiket di Amerika Serikat juga ikut mendorong kenaikan harga.

Berbeda dengan Meksiko yang melarang penjualan tiket di atas harga beli, penjual tiket di Amerika Serikat relatif bebas menentukan harga jual kembali.

Platform penjualan tiket SeatGeek mencatat rata-rata harga tiket final yang diperdagangkan di pasar sekunder masih berada di atas US$ 11.000 hingga Jumat (17/7).

Angka tersebut sekitar 8% lebih tinggi dibandingkan rata-rata harga tiket Super Bowl 2024, menjadikan final Piala Dunia 2026 sebagai ajang olahraga termahal yang pernah dijual melalui platform tersebut.

Senior Director of Marketing SeatGeek, Chris Leyden, mengatakan permintaan tiket tetap kuat sepanjang turnamen.

"Permintaan terhadap turnamen ini bertahan dengan sangat baik sejak fase grup hingga babak gugur," ujarnya.

Baca Juga: AS Tuntaskan Gelombang Serangan Ketujuh ke Iran, Konflik Kian Memanas

Dinilai belum inklusif

Di sisi lain, sejumlah kelompok pemerhati hak asasi manusia menilai Piala Dunia 2026 masih belum sepenuhnya inklusif.

Sport & Rights Alliance menyebut banyak pendukung dari berbagai negara gagal memperoleh visa untuk masuk ke Amerika Serikat.

Selain itu, tingginya harga tiket juga dinilai membuat turnamen hanya dapat dinikmati oleh kalangan tertentu.

Direktur Eksekutif Football Supporters Europe Ronan Evain menyebut, Piala Dunia kali ini lebih banyak dinikmati oleh penggemar yang memiliki kemampuan finansial tinggi.

"Ini adalah Piala Dunia bagi segelintir orang yang beruntung. Mereka yang memiliki daya beli tinggi, tidak memerlukan visa, dan mampu membayar harga tiket yang sangat mahal," ujarnya.