FIFA Minta Maaf, Kepemimpinan Gianni Infantino Jadi Sorotan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. FIFA berupaya meredam krisis internal terbesar selama kepemimpinan Presiden Gianni Infantino. Namun, langkah tersebut diperkirakan belum akan menghentikan sorotan terhadap tata kelola organisasi sepak bola dunia itu, terutama terkait proses pengambilan keputusan menjelang pemilihan presiden FIFA pada 2027.

Sehari setelah jajaran pimpinan FIFA berkumpul di Rabat, Maroko, untuk menyatakan kembali dukungan kepada Infantino, organisasi tersebut menyampaikan permintaan maaf kepada 211 anggotanya atas kesalahan dalam penanganan proposal yang akhirnya dibatalkan terkait penjualan sebagian hak komersial Piala Dunia.

FIFA juga berjanji meninjau kembali proses yang memicu kontroversi tersebut. Polemik itu menjadi pemberontakan paling keras terhadap kepemimpinan Infantino setelah sejumlah federasi nasional mengeluhkan bahwa mereka tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan.


Dalam pernyataan yang dirilis usai pertemuan pada Rabu (5/8/2026), FIFA mengakui bahwa proposal tersebut "seharusnya ditangani dengan cara yang berbeda" dan menegaskan bahwa organisasi itu tidak pernah bermaksud membuat Dewan FIFA maupun asosiasi anggotanya merasa dikesampingkan dari proses tersebut.

Baca Juga: Bursa Inggris Menguat Saat Pasar Asia Lesu, Saham WPP Melonjak 26%

FIFA Akan Lakukan Evaluasi Internal

Seiring meredanya polemik, FIFA akan melakukan evaluasi internal sebelum hasilnya dipresentasikan kepada Dewan FIFA pada pertemuan berikutnya.

Nada yang lebih terbuka dan kompromistis dari FIFA kali ini sangat berbeda dibandingkan sikap sebelumnya, ketika kritik yang semakin terbuka dari berbagai pihak memaksa organisasi tersebut menarik proposal tersebut.

Meski demikian, FIFA masih harus menjawab berbagai pertanyaan dari sejumlah konfederasi, liga, dan asosiasi sepak bola nasional mengenai bagaimana keputusan strategis penting diambil dan dikomunikasikan. Kekhawatiran tersebut tidak hanya berkaitan dengan proposal hak komersial Piala Dunia yang telah dibatalkan.

Salah satu kritik datang dari European Leagues yang menilai FIFA hanya memberikan waktu penilaian selama empat pekan terhadap proposal terpisah untuk memperluas jumlah peserta Piala Dunia 2030 dari 48 menjadi 64 tim.

Organisasi yang mewakili lebih dari 1.300 klub sepak bola Eropa itu menegaskan kembali keluhan bahwa para pemangku kepentingan terlalu sering hanya menerima keputusan yang sudah jadi, alih-alih diajak berkonsultasi sejak awal.

Di sisi lain, FIFA menegaskan seluruh langkah terkait proposal hak komersial tersebut telah sesuai dengan regulasi organisasi. Menurut FIFA, kesalahan yang terjadi berkaitan dengan proses dan komunikasi, bukan pelanggaran terhadap aturan tata kelola.

FIFA juga mencoba menunjukkan persatuan internal dengan memperingatkan para pengkritiknya bahwa, setelah proyek tersebut resmi dibatalkan, organisasi itu tidak akan lagi mentoleransi segala bentuk serangan terhadap integritas, tata kelola yang baik, dan proses yang semestinya.

Dampak Politik bagi Gianni Infantino

Bagi Gianni Infantino, prioritas utama saat ini adalah meredam dampak politik menjelang pemilihan presiden FIFA yang akan berlangsung di Maroko pada Maret 2027. Dalam pemilihan tersebut, Infantino diperkirakan akan kembali mencalonkan diri untuk masa jabatan keempat hingga 2031.

Pertemuan pada Rabu dinilai berhasil mencapai tujuan tersebut. Dewan manajemen FIFA dan Sekretaris Jenderal Mattias Grafstrom secara terbuka menyatakan dukungan kepada Infantino. Sebaliknya, Infantino juga memuji kinerja jajaran administrasi FIFA.

Sebelumnya, Grafstrom sempat mengirim memo internal kepada para staf yang menyayangkan rangkaian peristiwa yang menyedihkan dan patut disesalkan. Meski tidak menyebut nama Infantino secara langsung, ia menambahkan bahwa individu, masa-masa yang tidak stabil, dan berbagai insiden yang tidak menguntungkan akan datang dan pergi.

Baca Juga: Dolar Kanada Diproyeksi Stabil dalam Jangka Pendek, Berpotensi Menguat pada 2027

Namun, kesan adanya ketegangan internal tampaknya diredam secara terbuka. Infantino kemudian mengunggah foto dirinya bersama Grafstrom yang tampak tersenyum dan mengacungkan jempol saat menghadiri pertandingan Piala Afrika Wanita di Rabat.

Kepemimpinan Infantino Tetap Dipertanyakan

Meski demikian, sejumlah pemangku kepentingan berpengaruh, termasuk UEFA, secara terbuka mempertanyakan kepemimpinan Infantino. Kritik serupa juga muncul dari konfederasi lain seperti CONCACAF yang membawahi sepak bola Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Karibia, serta Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC).

Di sisi lain, Infantino masih menikmati dukungan kuat dari banyak asosiasi sepak bola yang lebih kecil, terutama di Afrika dan Asia. Bagi mereka, pendanaan program pengembangan FIFA masih menjadi bagian penting dalam mendukung perkembangan sepak bola nasional.

Secara politik, posisi Infantino masih dinilai cukup kuat karena belum muncul penantang yang dianggap memiliki peluang besar menjelang pemilihan presiden FIFA.

Namun, kontroversi terbaru ini telah mengalihkan perhatian pada mekanisme pengambilan keputusan di internal FIFA. Ke depan, setiap usulan baru yang berkaitan dengan strategi komersial, ekspansi turnamen, maupun reformasi tata kelola diperkirakan akan menghadapi tuntutan yang jauh lebih besar terkait transparansi, konsultasi, dan akuntabilitas.