KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sepak bola dunia menghadapi potensi kebuntuan berkepanjangan setelah sejumlah asosiasi sepak bola Eropa menarik dukungan terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino. Di tengah tekanan tersebut, Norwegia secara terbuka mendesak Infantino untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Pada Jumat (7/8), perselisihan di tubuh sepak bola internasional semakin melebar. Para konfederasi dan asosiasi sepak bola nasional terus menentukan sikap masing-masing, sepekan setelah Infantino membatalkan proposal untuk menghimpun sekitar US$4,2 miliar melalui penjualan sebagian hak komersial Piala Dunia dan turnamen FIFA lainnya. Presiden Federasi Sepak Bola Norwegia (NFF) Lise Klaveness menilai Infantino sudah kehilangan kepercayaan dari komunitas sepak bola internasional.
"Dia tidak memiliki kepercayaan institusional yang diperlukan untuk memimpin FIFA secara stabil dalam situasi seperti sekarang. Tidak ada jalan untuk kembali bagi Gianni Infantino," kata Klaveness, yang juga merupakan seorang pengacara.
Baca Juga: Trump Kumpulkan Bos Tambang Dunia, AS Perkuat Pasokan Mineral Strategis Menurut dia, kerja sama sepak bola internasional saat ini berada dalam kondisi serius dan membutuhkan langkah untuk memulihkan kepercayaan antaranggota. "Kerja sama sepak bola internasional berada dalam masalah besar, dan kita harus memiliki alasan untuk berkumpul sekarang. Kami ingin meminta presiden FIFA untuk mengundurkan diri sekarang," ujarnya.
UEFA Tetap Ancam Boikot FIFA
Di tengah meningkatnya tekanan terhadap Infantino, UEFA yang menaungi 55 asosiasi sepak bola Eropa tetap mempertahankan ancamannya untuk memboikot seluruh agenda yang diselenggarakan FIFA. UEFA sebelumnya menyatakan sejumlah syarat utama yang diajukan untuk kembali berpartisipasi dalam kompetisi FIFA belum terpenuhi. Badan sepak bola Eropa tersebut juga menegaskan tetap berkomitmen melakukan boikot terhadap Piala Dunia hingga memperoleh jaminan bahwa upaya serupa untuk mengubah struktur dan masa depan komersial sepak bola tidak akan kembali dilakukan. UEFA mengatakan tetap berkomitmen memboikot Piala Dunia sampai memperoleh kepastian bahwa "upaya untuk mengubah permainan dengan cara seperti ini tidak akan pernah dilakukan lagi." Namun, UEFA belum memutuskan apakah tim-tim Eropa akan melewatkan agenda FIFA berikutnya, yakni Piala Dunia Wanita U-20 yang akan berlangsung di Polandia pada bulan depan.
Meksiko Beri Dukungan kepada Infantino
Di tengah tekanan dari Eropa, posisi Infantino masih mendapatkan dukungan dari sejumlah asosiasi sepak bola nasional.
Baca Juga: Harga Pangan Dunia Sentuh Level Tertinggi dalam Tiga Tahun Federasi Sepak Bola Meksiko (FMF), yang menjadi salah satu tuan rumah Piala Dunia yang baru saja berakhir, mengambil sikap berbeda dari konfederasi regionalnya, CONCACAF. FMF menyatakan dukungan terhadap kepemimpinan Infantino. Sebelumnya, CONCACAF menyerukan evaluasi menyeluruh terhadap kepemimpinan Infantino. Konfederasi yang menaungi sepak bola Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Karibia tersebut menjadi salah satu pihak yang paling kritis terhadap FIFA bersama UEFA. Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) juga menyatakan "berdiri dalam solidaritas" dengan UEFA dan CONCACAF. Kendati demikian, beberapa dari 47 anggota AFC, termasuk Indonesia, Filipina, dan Qatar yang menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022, telah menyatakan dukungan kepada Infantino. Sementara itu, Konfederasi Sepak Bola Amerika Selatan (CONMEBOL) menyatakan kekhawatiran terhadap "tindakan sepihak yang berulang kali dilakukan tanpa melalui dialog." CONMEBOL menolak upaya untuk menggulingkan Infantino apabila proses tersebut tidak melibatkan pemungutan suara dari seluruh 211 anggota FIFA. Federasi sepak bola Meksiko juga menyampaikan sikap serupa. "FMF tidak akan mengakui atau menyetujui proses apa pun yang diselenggarakan di luar kerangka kelembagaan tersebut, dan kami bergabung dengan seruan yang disampaikan Presiden Infantino untuk terus bersama-sama mengembangkan sepak bola demi kepentingan 211 asosiasi anggota," kata FMF dalam pernyataannya. "FMF mendukung kepemimpinan Presiden Infantino dalam melanjutkan pengembangan sepak bola melalui penguatan kelembagaan," lanjut pernyataan tersebut.
FIFA Minta Maaf soal Proposal Hak Komersial
Kontroversi bermula dari proposal Infantino untuk menjual sebagian hak komersial masa depan Piala Dunia dan kompetisi FIFA lainnya guna menggalang dana sekitar US$4,2 miliar. Proposal tersebut akhirnya dibatalkan setelah mendapat penolakan dan menimbulkan ketegangan di antara asosiasi anggota serta konfederasi regional.
Baca Juga: Putin Buka Jalan Penjualan 30,4% Saham Bandara Terbesar Rusia Dalam pertemuan di Rabat pada pekan ini, FIFA menyatakan telah meminta maaf kepada para anggotanya atas kesalahan yang terjadi dalam proses pengajuan proposal tersebut. FIFA juga berjanji meninjau kembali proses yang mengarah pada kontroversi. Sejumlah asosiasi anggota dan konfederasi regional sebelumnya mengaku tidak memperoleh informasi yang memadai mengenai rencana tersebut. Meski demikian, FIFA menegaskan seluruh tindakan yang berkaitan dengan proposal hak komersial telah dilakukan sesuai dengan regulasi organisasi. FIFA menyebut persoalan yang muncul berkaitan dengan proses dan komunikasi, bukan pelanggaran terhadap aturan tata kelola organisasi.
Dukungan Argentina untuk Infantino
Perselisihan tersebut juga membayangi upaya Infantino untuk kembali memimpin FIFA untuk periode keempat. Pemilihan presiden FIFA dijadwalkan berlangsung dalam Kongres FIFA di Maroko pada Maret mendatang. Dua bulan sebelumnya, kemenangan Infantino untuk masa jabatan keempat sempat dipandang hampir pasti. Namun, kontroversi terkait proposal hak komersial kini membuat peta dukungan menjadi lebih kompleks. Meski demikian, hingga saat ini belum muncul kandidat kuat yang secara terbuka maju untuk menantang Infantino dalam pemilihan tersebut. Infantino masih memiliki dukungan yang cukup besar, termasuk dari Argentina yang merupakan juara Piala Dunia 2022. Dalam surat kepada Infantino, Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) memberikan dukungan terhadap kinerja FIFA selama satu dekade terakhir. AFA menilai FIFA telah memberikan perhatian terhadap pengembangan sepak bola global dan tata kelola yang transparan. AFA mengakui proposal tersebut menimbulkan lebih banyak ketidakpastian dibandingkan kepastian dan terdapat sejumlah kesalahan dalam prosesnya. Namun, federasi tersebut menilai solusi ke depan adalah melanjutkan pekerjaan di bawah kepemimpinan FIFA menjelang Kongres FIFA tahun depan. Federasi Sepak Bola Paraguay (APF) juga menerbitkan surat dukungan kepada Infantino. "Menegaskan kembali komitmennya untuk terus bekerja bersama FIFA," tulis APF dalam surat tersebut.
Baca Juga: Arab Saudi Waspadai Serangan Milisi Irak dan Houthi Dukungan terhadap Infantino Mulai Tergerus
Di sisi lain, sejumlah federasi nasional mulai menarik dukungan mereka terhadap Infantino. Federasi Sepak Bola Kroasia menjadi salah satu asosiasi nasional terbaru yang menarik dukungan, setelah langkah serupa sebelumnya dilakukan Inggris dan Albania.
Tekanan juga datang dari serikat pemain sepak bola internasional FIFPRO. Pada Kamis, FIFPRO menilai proposal Infantino bukan sekadar kegagalan dalam tata kelola, tetapi merupakan "penyalahgunaan kekuasaan presiden secara mendalam." Kontroversi tersebut membuat posisi Infantino menjelang Kongres FIFA pada Maret menjadi lebih sulit diprediksi. Di satu sisi, sejumlah konfederasi besar dan asosiasi nasional mulai mempertanyakan kepemimpinannya. Di sisi lain, Infantino masih memperoleh dukungan dari sejumlah negara dan konfederasi, termasuk CAF yang pada Kamis memberikan dukungan bulat terhadap kepemimpinannya. Dengan belum munculnya kandidat penantang yang jelas, pertarungan politik di tubuh FIFA berpotensi berlangsung hingga Kongres FIFA pada Maret mendatang. Perbedaan sikap antaranggota juga berpotensi menimbulkan ketegangan lebih luas terhadap hubungan FIFA dengan konfederasi regional dan asosiasi sepak bola nasional.