Filipina Jajaki Kerja Sama dengan Arab Saudi hingga AS untuk Cadangan Minyak



KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Pemerintah Filipina memperkuat strategi ketahanan energi dengan menjajaki kerja sama penyimpanan minyak bersama sejumlah negara, termasuk Arab Saudi, Rusia, dan Amerika Serikat (AS). Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan harga bahan bakar akibat perang Iran dan menjaga pasokan energi nasional.

Menteri Energi Filipina Sharon Garin mengatakan, negara Asia Tenggara yang sangat bergantung pada impor energi tersebut juga tengah menyiapkan langkah untuk memenuhi kebutuhan listrik di tengah potensi penurunan produksi energi terbarukan akibat fenomena El Nino.

Dalam wawancara dengan Reuters pada Rabu (28/10/2026), Garin menyebut Filipina memperkirakan produksi listrik tenaga air dapat turun sekitar 60% dan pembangkit listrik tenaga surya berkurang 20% pada paruh pertama 2027 akibat fenomena cuaca tersebut.


Untuk mengantisipasi kondisi itu, pemerintah berencana meningkatkan produksi listrik dari pembangkit berbahan bakar diesel dan gas.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik di Atas 1% Setelah Serangan Kilang Arab Saudi

Filipina juga menjajaki kerja sama penyimpanan minyak dengan Rusia, AS, Jepang, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Australia. Upaya ini dilakukan untuk memperkuat cadangan minyak setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran pada Februari mengganggu pasokan energi.

"Jika El Nino berakhir pada April, saat itulah musim panas dimulai bagi kami. Jadi, ini akan menjadi tekanan berkepanjangan bagi kami, yang dimulai dari krisis minyak di Timur Tengah," kata Garin di sela-sela konferensi Singapore International Energy Week.

Filipina Bangun Cadangan Minyak Strategis

Di tengah ketidakpastian pasokan energi global, Filipina berencana membangun tangki penyimpanan minyak milik pemerintah untuk pertama kalinya pada tahun depan. Fasilitas tersebut akan dibangun di Bataan dan digunakan untuk menampung cadangan minyak strategis nasional.

Garin mengatakan, pemerintah Filipina juga bekerja sama dengan Jepang untuk membangun cadangan minyak regional yang akan melengkapi persediaan nasional.

Langkah serupa dilakukan Arab Saudi. Negara produsen minyak utama anggota OPEC tersebut tengah mencari lokasi penyimpanan minyak setelah serangan terhadap pelabuhan dan fasilitas minyaknya.

Baca Juga: Ekspor Gas dari Indonesia Dipangkas, Singapura Mulai Buru Pasokan LNG Baru

Pada pekan ini, Arab Saudi mengumumkan kesepakatan awal untuk menyimpan minyak mentah di fasilitas gua batu bawah tanah di Singapura mulai 2027.

Sementara itu, persediaan bahan bakar Filipina saat ini setara dengan kebutuhan selama 55 hari, meningkat dari ketentuan minimum 15 hari. Pemerintah juga telah memiliki cadangan sebanyak 1 juta barel minyak yang disimpan di fasilitas swasta.

"Kami memulai dengan 1 juta barel dan akan meningkatkannya selama beberapa tahun ke depan dengan tujuan mencapai cadangan untuk kebutuhan selama 60 hari," ujar Garin.

Ia menambahkan, volume cadangan tersebut akan dibagi secara merata antara minyak mentah dan produk bahan bakar.

Berdasarkan data pemerintah, rata-rata permintaan harian produk minyak bumi di Filipina mencapai sekitar 78 juta liter atau setara dengan 490.600 barel per hari pada Mei lalu.

Filipina Tambah Pembangkit Batu Bara dan Energi Terbarukan

Selain memperkuat cadangan minyak, pemerintah Filipina juga merencanakan pembangunan pembangkit listrik tenaga batu bara baru dengan kapasitas total 2 gigawatt (GW) dalam lima tahun ke depan.

Baca Juga: Harga Emas Turun, Dipicu Kekhawatiran Inflasi Imbas Kenaikan Harga Minyak

Pembangkit tersebut ditujukan untuk menjamin pasokan listrik yang stabil sepanjang waktu, sekaligus melengkapi rencana penambahan kapasitas energi terbarukan sebesar 8 GW hingga 2028.

Garin mengatakan, pemerintah tetap berkomitmen memanfaatkan sumber energi bersih. Namun, peningkatan kebutuhan listrik dan kondisi geografis negara kepulauan menjadi tantangan dalam transisi energi.

"Negara kami perlu berkembang. Untuk menjadi negara yang maju, Anda harus memiliki energi yang stabil dan terjamin. Mengorbankan hal itu hanya demi transisi energi tidak akan membantu negara kami," kata Garin.

Ia juga menyoroti keterbatasan ruang untuk membangun pembangkit listrik tenaga surya di wilayah kepulauan Filipina.

"Kami adalah negara kepulauan, sehingga kami tidak bisa begitu saja membangun pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 5.000 megawatt di sebuah pulau kecil," ujarnya.