Fintech Lending 2026: Proyeksi Tumbuh Dobel Digit, Peluang Besar?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Outstanding industri fintech peer to peer (P2P) lending masih mencatatkan pertumbuhan signifikan.

Hingga November 2025, outstanding pembiayaan fintech lending tumbuh 25,45% secara year on year (YoY) menjadi Rp 94,85 triliun.

Menatap 2026, Pengamat sekaligus Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda memproyeksikan pembiayaan industri fintech lending masih berpeluang tumbuh tinggi atau tetap berada di level dobel digit.


Baca Juga: Tumbuh Dobel Digit, Amartha Salurkan Pembiayaan Produktif Rp13,2 Triliun pada 2025

"Pada 2026, sepertinya masih sama, dobel digit juga. Mungkin pertumbuhannya masih ada di atas 20%," ungkap Nailul saat menghadiri acara fintech lending Amartha di kawasan Jakarta Selatan, Jumat (23/1/2026).

Menurut Nailul, proyeksi pertumbuhan tersebut didorong oleh masih lebarnya credit gap atau kesenjangan pembiayaan di masyarakat.

Ia menilai permintaan pendanaan, khususnya dari pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), masih cukup besar sehingga mendorong masyarakat mencari sumber pembiayaan alternatif, salah satunya melalui fintech lending.

Meski demikian, Nailul menekankan pertumbuhan pembiayaan juga sangat bergantung pada sisi lender atau pemberi dana.

Baca Juga: Bareskrim Sita Barang Bukti Fisik dan Elektronik dari Penggeledahan Kantor DSI

Ia mengingatkan berbagai kasus yang sempat menerpa industri fintech lending sepanjang 2025 berpotensi memengaruhi kepercayaan dan ketersediaan pendanaan dari lender, sehingga dapat mengganggu penyaluran pembiayaan.

Namun, tingginya permintaan pembiayaan dinilai mampu meredam dampak sentimen negatif tersebut. Alhasil, pertumbuhan pembiayaan fintech lending masih tetap terjaga.

Nailul menilai perbankan maupun lender luar negeri masih akan melirik industri fintech lending sebagai saluran penyaluran dana.

Ia memperkirakan apabila pertumbuhan pembiayaan fintech lending melambat pada 2026, lajunya masih akan berada di kisaran 15% secara tahunan. Dengan demikian, industri tetap mencatatkan pertumbuhan yang relatif kuat.

Baca Juga: BRI Insurance Dorong Daya Saing Bisnis Asuransi Syariah

Di sisi lain, Nailul mengingatkan pelaku fintech lending perlu mewaspadai peningkatan risiko kredit bermasalah.

Hal ini tercermin dari rasio Tingkat Wanprestasi 90 hari (TWP90) industri yang meningkat menjadi 4,33% per November 2025, seiring dengan laju pertumbuhan pembiayaan yang tinggi.

"Pertumbuhan yang cukup tinggi itu juga harus diwaspadai dari sisi TWP90. Per November 2025, angkanya sekitar 4%, sejalan dengan tingkat kredit macet UMKM yang juga berada di kisaran 4%," ujarnya.

Ke depan, Nailul menilai fintech lending perlu mengantisipasi potensi peningkatan risiko kredit macet sejalan dengan ekspansi pembiayaan.

Oleh karena itu, strategi mitigasi risiko yang tepat menjadi kunci agar pertumbuhan industri tetap berkelanjutan.

"Permintaan pembiayaannya masih ada, tinggal bagaimana para pemain mengantisipasi risikonya," pungkas Nailul.

Selanjutnya: Oppo A78: HP 2 Jutaan Ini Bawa Fitur Premium, Apa Saja Keuntungannya?

Menarik Dibaca: Oppo A78: HP 2 Jutaan Ini Bawa Fitur Premium, Apa Saja Keuntungannya?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News