KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pembiayaan sektor produktif pada industri
fintech lending atau pinjaman daring (pindar) masih menunjukkan kinerja positif. Sayangnya, porsi pembiayaan produktif terhadap total
outstanding pembiayaan industri masih lebih kecil jika dibandingkan dengan pembiayaan konsumtif. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, porsi pembiayaan produktif pindar adalah sebesar 33,38% dari total
outstanding pembiayaan industri
fintech lending per Juli 2026 yang mencapai Rp 105,63 triliun. Sementara itu, pada periode yang sama penyaluran pembiayaan
fintech lending ke sektor produktif termasuk pada segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) adalah sebesar Rp 35,25 triliun.
Kendati demikian, porsi pembiayaan pada sektor produktif itu masih jauh dari target yang diterapkan oleh OJK. Dalam Roadmap Pengembangan dan Penguatan Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (LPBBTI), OJK menargetkan porsi pembiayaan produktif dari industri
fintech lending adalah sebesar 40%-50% dalam rentang waktu 2025 hingga 2026.
Baca Juga: Usai Alami Tren Pertumbuhan, Laba Fintech Lending Tertekan per Agustus 2026 Sayangnya, selain target tersebut belum terpenuhi, masih ada tantangan yang dihadapi oleh
fintech lending dalam segmen pembiayaan produktif ini yaitu pencatatan dan analisis penggunaan dana oleh segmen UMKM. Pasalnya, Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) sempat menyampaikan banyak pinjaman konsumtif dengan nilai relatif kecil digunakan oleh
borrower, khususnya UMKM untuk aktivitas produksi, misalnya digunakan untuk pengusaha rumahan seperti penjahit, produksi makanan rumahan, dan sebagainya. Namun, pinjaman mereka tidak tercatat sebagai pinjaman di sektor produktif, tetapi masih tercatat sebagai sektor konsumtif. Menurut Direktur Ekonomi Digital (Celios) Nailul Huda, penyebab dari kondisi ini adalah kemudahan masyarakat untuk mengakses pinjaman konsumtif jika dibandingkan dengan produktif. Selain itu, pencatatan peminjaman sektor produktif seringkali hanya terbatas pada pembelian mesin atau pembelian barang dengan proses
invoice. Inilah yang menjadi salah satu penyebab proses analisis pembiayaan produktif lebih sulit dilakukan. "Yang pasti, kemudahan mengakses untuk pinjaman konsumtif menjadi faktor masyarakat masih banyak yang mengakses kredit konsumtif dibandingkan produktif," ujarnya kepada Kontan, Rabu (28/10/26). Di sisi lain, pinjaman daring untuk sektor usaha lebih tinggi risikonya saat ini. Hingga semester I-2026, data perbankan menunjukkan tingkat kredit macet UMKM tercatat sudah di level 4,54% secara tahunan. Kondisi ini berpotensi membuat akses kredit produktif akan lebih sulit dibandingkan sektor konsumtif saat ini. Terutama jika menghitung bunga pinjaman yang lebih tinggi di sektor konsumtif sehingga insentif bagi platform yang menyalurkan ke sektor konsumtif juga lebih besar.
Baca Juga: Fintech Lending Perlu Bentuk Pooling Funds guna Perkuat Perlindungan Lender Kondisi ini membuat juga dilihat oleh OJK sebagai hal yang perlu dicermati lebih lanjut. Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman mendorong penyelenggara fintech lending untuk memperkuat pencatatan dan analisis penggunaan dana. "Hal itu dilakukan agar pemetaan pendanaan produktif dan konsumtif lebih optimal," ungkapnya dalam lembar jawaban tertulis RDK OJK, Kamis (8/10). Nailul juga mengamini hal itu dengan mengimbau agar sektor produktif perlu didorong untuk memperbaiki kualitas terlebih dahulu. Kualitas ini penting karena bisa mempengaruhi lender dalam menyalurkan pembiayaan melalui pindar. Upaya seleksi kredit produktif juga terus dilakukan oleh PT Amartha Mikro Fintek atau Amartha. Saat ini, fokus perusahaan menyalurkan pembiayaan produktif bagi UMKM perempuan di perdesaan. VP of PR Amartha Harumi Supit mengungkapkan sejumlah langkah yang dilakukan perusahaan untuk memastikan pembiayaan tetap sesuai dengan kebutuhan usaha dan profil mitra. "Amartha fokus menyalurkan pembiayaan produktif bagi UMKM perempuan di perdesaan," ujarnya. Pada
credit scoring, perusahaan memanfaatkan bantuan teknologi yang sudah berbasis Artificial Intelligence (AI). Di sisi lain, Amartha juga memiliki 10 tenaga lapangan yang membantu pendampingan mitra secara langsung. Fokus pembiayaan UMKM juga dilakukan oleh PT Sahabat Mikro Fintek (Samir). Perusahaan menyebut, dukungan terhadap pembiayaan UMKM merupakan upaya yang sejalan dengan arah kebijakan OJK untuk mendorong industri pindar dalam menghadirkan akses pembiayaan yang lebih luas.
Oleh karena itu, Direktur Utama Samir Handy Juniandri mengatakan ke depannya penting bagi industri
fintech lending untuk menguatkan kolaborasi dengan
stakeholders, seperti pemerintah, regulator, investor, perbankan dan pihak lainnya. Selain itu, pembiayaan UMKM yang dilakukan Samir juga diharapkan bisa membuka akses permodalan bagi pelaku usaha di berbagai daerah. Berdasarkan data perusahaan, dari periode Januari hingga September 2026, pembiayaan Samir ke luar Pulau Jawa tercatat meningkat sebesar 62% secara tahunan dengan nilai mencapai Rp 1,02 triliun. Sementara itu, secara kumulatif total pembiayaan yang disalurkan Samir adalah sebesar Rp 8,25 triliun kepada 2 juta peminjam.
Baca Juga: Fintech Lending Akan Dikelompokkan Menjadi Empat Tier Berdasarkan Sejumlah Indikator Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News