KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Fintech peer to peer (P2P) lending PT Sahabat Mikro Fintek (Samir) menyalurkan total pembiayaan secara kumulatif sebesar lebih dari Rp 7,8 triliun kepada 5,3 juta akun peminjam atau borrower yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia per 9 September 2026. Direktur Utama Samir Handy Juniandri menerangkan dari total pembiayaan yang disalurkan tersebut, rata-rata digunakan untuk kebutuhan pembiayaan produktif bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Secara portofolio, sebesar 63% merupakan peminjaman kembali. "Selain itu, sebesar 37% merupakan peminjaman baru dari masyarakat atau UMKM," ungkapnya saat media gathering, Sabtu (12/9/2026).
Baca Juga: 17 Tahun Indonesia Eximbank Memperkuat Peran Policy Bank Pendukung Ekspor Nasional Handy juga mengatakan angka kredit macet secara agregat atau TWP90 Samir masih terjaga berada di level 2%, atau berada di bawah rata-rata TWP90 industri yang sebesar 4,32% per Juli 2026. Dia bilang kinerja positif tersebut menandai bahwa Samir terus menjaga kestabilannya dengan tetap mengedepankan prinsip tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG) dan menjalankan keberlangsungan bisnis usaha dengan patuh pada regulasi. "Dengan demikian, setiap pertumbuhan penyaluran pembiayaan yang berlangsung setiap tahunnya selalu disertai dengan kualitas dari pembiayaan itu sendiri," tuturnya. Menurut Handy, Samir selama tujuh tahun berdiri, selalu berkomitmen untuk mendorong pertumbuhan bisnis UMKM yang tidak lagi berfokus di Pulau Jawa, melainkan sudah makin ekspansif di luar Pulau Jawa. Secara portofolio, dia bilang kontribusi penyaluran pembiayaan kumulatif Samir yang tertinggi di luar Pulau Jawa adalah Sumatra sebesar 15%, kemudian cukup merata dari Sulawesi, Kalimantan, Bali dan Nusa Tenggara, serta makin berimbang antara Papua dan Maluku sebesar 1% lebih. “Gambaran peningkatan dan pemerataan di luar Pulau Jawa, khususnya di Indonesia bagian Timur makin menunjukkan komitmen Samir untuk mendukung pemerataan ekonomi nasional dan menciptakan inklusi keuangan makin realistis," ucapnya. Selain itu, Handy menjelaskan Samir juga selalu aktif mendukung pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan berkolaborasi bersama Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) dan Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) dalam menyelenggarakan kegiatan-kegiatan literasi dan edukasi finansial untuk membantu masyarakat maupun UMKM. Dengan demikian, mereka dapat memahami konsep dasar pengelolaan uang, perbedaan antara layanan keuangan pindar yang legal dan pinjaman online (pinjol) yang ilegal, serta risiko penggunaan platform pembiayaan digital.
Baca Juga: Pembiayaan Kendaraan Listrik Berpotensi Tumbuh, Berikut Tantangan yang Membayangi Handy menyebut upaya itu juga untuk mencegah terjadinya penipuan, kebocoran data, atau masalah kerugian akibat kurangnya wawasan terkait keamanan transaksi finansial digital. Dengan demikian, langkah-langkah tersebut diharapkan mampu menciptakan lanskap keuangan digital yang aman, transparan, dan berkelanjutan. Sementara itu, Samir juga mengumumkan perubahan kepemimpinan pada jajaran Dewan Komisaris dan Direksi. Adapun perubahan itu disahkan melalui keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang berlaku efektif pada Agustus 2026. Dalam jajaran Dewan Direksi, pemegang saham menunjuk Handy Juniandri sebagai Direktur Utama untuk menggantikan Yonathan Gautama. Seiring hal itu, Yonathan Gautama disahkan menjadi Direktur Hukum dan Kepatuhan. Untuk jajaran Komisaris, pemegang saham juga mengesahkan Ettyta Ramadhani sebagai Komisaris. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News