KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pendanaan fintech peer-to-peer lending ke sektor produktif mulai meningkat hingga April 2021. Hal ini meningkat seiring dengan upaya fintech lending memberikan akses pembiayaan untuk masyarakat yang unbankable serta untuk memenuhi syarat 25% penyaluran produktif dari total pendanaan. Jika melihat data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di bulan April 2021, penyaluran dana fintech lending ke sektor produktif telah mencapai 56,19% dengan nilai sebesar Rp 6,85 triliun. Angka tersebut meningkat dari awal tahun ini yang berada di level 42,48% dengan nilai Rp 3,98 triliun. Sektor perdagangan besar dan eceran menjadi kontributor paling besar untuk penyaluran di sektor produktif dengan porsi hingga 18,76%. Setelah itu, disusul dengan sektor rumah tangga dan sektor transportasi, pergudangan, dan komunikasi yang masing-masing memiliki porsi 7,37% dan 6,49%.
Direktur Eksekutif Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) mengatakan bahwa beberapa pemain fintech memang semakin mengarah untuk pembiayaan ke sektor produktif. Hanya saja, kondisi pandemi covid-19 ini menjadi tantangan bagi pemain fintech untuk menyalurkan ke sektor produktif karena memerlukan visit. “Jadi gini produktif itu kan ada keperluan untuk visit di lapangan, beda dengan pinjaman yang di bawah 1 juta gitu,” ujar Kus kepada Kontan.co.id. Baca Juga: Outstanding pinjaman fintech lending capai Rp 20,61 triliun hingga April 2021 Ketua Bidang Humas AFPI Andi Taufan Garuda juga menambahkan bahwa asosiasi selalu mendukung regulasi OJK termasuk aturan penyaluran dana ke sektor produktif minimal 25%. Ia menilai penyaluran ke sektor produktif merupakan bentuk dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.