BOSTON. Peringatan ditujukan bagi investor global yang hobi mengoleksi saham-saham berbasis teknologi. Sebagian besar perusahaan teknologi Amerika Serikat (AS) kemungkinan akan kecewa dengan hasil kinerja kuartal empat 2012. Hampir separuh estimasi target mereka akan meleset. Apa penyebabnya? Salah satu dan paling utama adalah krisis finansial AS seperti kasus fiscal cliff yang sulit dipecahkan pada Desember 2012. Akibat kekhawatiran fiscal cliff ini, kebanyakan perusahaan yang merupakan klien produsen IT mengencangkan ikat pinggang mereka dan menahan diri untuk menghabiskan anggaran teknologi pada 2012.
Padahal secara musiman, perusahaan teknologi banyak menikmati lonjakan pesanan pada bulan Desember. Di bulan tersebut perusahaan biasanya membelanjakan sisa anggaran tahunan untuk memperbarui teknologi mereka. Mengutip analis teknologi dan para ahli yang berbincang langsung dengan para pelanggan, perusahaan menahan diri berbelanja keperluan IT karena negosiasi di Washington yang berlangsung alot. Butuh waktu sampai larut malam pada 1 Januari 2013 bagi anggota parlemen dari Partai Republik di DPR, John Boehner menyetujui RUU untuk mencegah tebing fiscal. Sehari setelahnya, Presiden Barack Obama AS menandatangani menjadi undang-undang. "Andai saja Boehner dan Obama telah mampu mencapai kesepakatan sekitar 15 Desember, perusahaan IT bisa menggenjot dan menikmati hasil investasi di menit-menit terakhir," ulas Bartels Andrew, seorang analis dari Forrester Research. Wall Street sudah pesimis Pesimisme ini terlihat di Wall Street yang secara signifikan menurunkan harapan pada kinerja saham sektor teknologi. Perusahaan teknologi di S & P 500 melaporkan penurunan laba kuartal keempat sebanyak 1%. Padahal secara agregat tahunan, indeks S&P naik 2,8%. Menurut Thomson Reuters, tiga bulan lalu, analis mengestimasi pendapatan sektor teknologi naik 9,4% pada kuartal keempat. Namun target tersebut langsung diturunkan menjadi 2,6% lantaran masalah fiscal cliff.