Fit and Proper Test Calon Deputi Gubernur BI, Dicky Kartikoyono Bawa Isu Digitalisasi



KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dicky Kartikoyono membawa isu peran strategis digitalisasi sistem pembayaran dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan, saat mengikuti uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) bersama Komisi XI DPR RI, yang dimulai sekitar pukul 15.00 WIB, Senin (26/1/2026).

Dalam pemaparannya, Dicky yang saat ini menjabat sebagai Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI mengusung visi bertajuk “Mengukir Sejarah Digital untuk Indonesia Emas”. Visi tersebut, menurutnya, didedikasikan sebagai kontribusi Bank Indonesia dalam mendukung agenda Asta Cita pemerintah, khususnya target pertumbuhan ekonomi hingga 8% dalam lima tahun ke depan.

“Ekonomi kita seperti rumah besar yang harus memberikan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Fondasi rumah itu adalah stabilitas yang harus dijaga. Di atasnya, kita bangun pilar-pilar ketahanan yang kuat agar mampu menopang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Dicky di hadapan para anggota Komisi XI DPR, Senin (26/1/2026).


Baca Juga: Beban Negara Bertambah: Defisit Rp 1,6 Triliun Bayangi Tol Serang-Panimbang

Ia menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi harus berkualitas dan mampu memberikan manfaat luas bagi masyarakat. Untuk itu, BI memandang digitalisasi sebagai salah satu game changer utama dalam mendorong efisiensi dan akselerasi ekonomi.

Dicky memaparkan bahwa dalam sembilan tahun terakhir, perkembangan ekonomi dan keuangan digital di Indonesia berlangsung sangat pesat. Sejak peluncuran QRIS pada 2019, transaksi digital tumbuh secara eksponensial. Selain itu, keberadaan BI-Fast telah memfasilitasi transaksi perekonomian dengan nilai mencapai sekitar Rp1,6 kuadriliun.

“Dalam konsepsi sederhana, ketika jumlah uang memadai dan saluran transaksinya lancar melalui digitalisasi, maka kecepatan perputaran uang akan meningkat. Pada akhirnya, ini mendorong pendapatan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.

Meski demikian, Dicky mengakui tantangan yang dihadapi Indonesia tidak ringan, baik dari sisi global maupun domestik. Dari luar negeri, risiko geopolitik, polarisasi ekonomi, kebijakan tarif Amerika Serikat, hingga ancaman siber menjadi tekanan tersendiri. 

Sementara dari dalam negeri, tantangan mencakup ketimpangan infrastruktur digital, kualitas sumber daya manusia, defisit transaksi berjalan, serta melemahnya daya beli masyarakat.

Baca Juga: Kemenkeu Siapkan Penerbitan SBN Valas Domestik pada 2026 untuk Menyerap DHE SDA

Menurut Dicky, jawaban atas tantangan tersebut terletak pada penguatan pilar digitalisasi. Dalam lima tahun terakhir, BI telah mengembangkan berbagai inisiatif seperti QRIS, BI-Fast, hingga Standar Nasional Open API yang seluruhnya mencatat pertumbuhan signifikan.

Ke depan, Bank Indonesia memproyeksikan nilai ekonomi digital dapat mencapai Rp147,3 miliar, setelah dalam lima tahun terakhir tumbuh sekitar Rp37 miliar. Potensi tersebut ditopang oleh kemampuan inovasi domestik, penetrasi internet yang terus meningkat, serta bonus demografi.

“Kita melihat hampir 40% populasi berasal dari Gen Z dan Gen Alpha yang sangat digital oriented. Ini merupakan kekuatan besar Indonesia dalam mendorong ekonomi digital ke depan,” pungkas Dicky.

Selanjutnya: Coinbase: Mayoritas Investor Institusi Nilai Bitcoin Masih Undervalued

Menarik Dibaca: Promo Superindo Hari Ini 26-29 Januari 2026, Jambu Crystal-Bawang Merah Harga Spesial

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News