KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Fitch Ratings Indonesia memberikan peringkat Nasional Jangka Panjang AA+(idn)untuk penerbitan obligasi dan sukuk PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (
TBIG) senilai total Rp 2,37 triliun. Fitch Ratings dalam rilis Rabu (30/9) memaparkan jika peringkat tersebut sama dengan peringkat Nasional Jangka Panjang TBIG yang berada di level AA+(idn) dengan outlook Stabil. Fitch menyebut obligasi dan sukuk tersebut merupakan kewajiban senior tanpa jaminan (senior unsecured) TBIG. Penerbitan ini merupakan tahap kelima dari program obligasi TBIG senilai Rp 20 triliun dan program sukuk senilai Rp 8 triliun. Dana hasil penerbitan akan digunakan untuk membiayai kembali utang yang telah ada.
Baca Juga: Rupiah Menguat, Pasar Masih Waspadai Sentimen The Fed dan Harga Minyak Menurut Fitch, peringkat AA pada skala nasional menunjukkan ekspektasi risiko gagal bayar yang sangat rendah dibandingkan penerbit atau kewajiban lainnya di negara atau kawasan moneter yang sama. Risiko gagal bayar tersebut hanya sedikit berbeda dibandingkan penerbit atau kewajiban dengan peringkat tertinggi di negara tersebut. Fitch memperkirakan TBIG mempertahankan rasio EBITDA net leverage sekitar 5,0 kali pada 2026-2027, sedikit meningkat dari 4,9 kali pada 2025. Fitch memperkirakan integrasi jaringan setelah merger PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (XLSMART) akan meningkatkan tingkat tidak diperpanjangnya sewa menara TBIG. Kondisi ini berpotensi menekan pertumbuhan tenancy bersih TBIG pada 2026. Meski demikian, Fitch menilai TBIG memiliki ruang yang cukup untuk menyerap dampak tidak diperpanjangnya kontrak tersebut. Sebagian dampaknya juga diperkirakan dapat dikompensasi melalui relokasi menara dan pesanan baru seiring XLSMART memperluas jaringannya setelah merger. TBIG berkomitmen mempertahankan target net debt terhadap EBITDA tahunan kuartal terakhir sebesar 5,0 kali, yang kurang lebih sejalan dengan rasio EBITDA net leverage versi Fitch. Fitch mencatat TBIG tetap menjaga leverage di bawah target tersebut ketika terjadi konsolidasi sektor telekomunikasi pada 2022-2023. Saat itu, tingkat tidak diperpanjangnya kontrak sewa meningkat karena PT Indosat Tbk melakukan integrasi jaringan. Fitch menilai TBIG memiliki kendali leverage yang cukup kuat, didukung visibilitas arus kas yang tinggi dan fleksibilitas dalam pembayaran dividen. Fitch memperkirakan pembayaran dividen tahunan TBI berada di kisaran Rp 1,2 triliun-Rp 1,3 triliun pada 2026-2027, dibandingkan Rp 529 miliar pada 2025.
Baca Juga: Transaksi Kripto Rp 171 Triliun, Bisnis Bursa Aset Digital Makin Prospektif Peringkat TBIG juga ditopang oleh tingginya visibilitas arus kas. TBIG memiliki kontrak sewa jangka panjang yang umumnya tidak dapat dibatalkan dengan tenor sekitar 10 tahun. Tingkat perpanjangan kontrak juga cenderung tinggi karena menara telekomunikasi merupakan infrastruktur penting bagi operator telekomunikasi. Operator umumnya menghindari pemindahan peralatan untuk meminimalkan risiko gangguan layanan. Fitch mencatat total pendapatan TBIG yang sudah terkunci melalui kontrak mencapai sekitar Rp 36,4 triliun pada akhir Juni 2026, meningkat dari Rp 35,7 triliun pada akhir 2025. Rata-rata sisa masa kontrak juga tetap sekitar 5,5 tahun. Dari sisi posisi pasar, TBIG merupakan operator menara telekomunikasi terbesar ketiga di Indonesia dan memiliki sekitar 20% menara di Indonesia. Industri menara telekomunikasi nasional juga telah terkonsolidasi menjadi struktur oligopoli. Tiga perusahaan terbesar menguasai sekitar 90% menara. Di sisi lain, operator telekomunikasi Indonesia sangat bergantung pada menara yang disediakan operator independen karena pembangunan menara baru di lokasi yang berdekatan dengan menara operator lain umumnya dihindari. Fitch memperkirakan permintaan terhadap operator menara, termasuk TBI, akan membaik seiring stabilnya sektor telekomunikasi Indonesia setelah merger XLSMART. Persaingan yang lebih baik diperkirakan mendorong operator meningkatkan kualitas jaringan. Peluncuran jaringan 5G dan fixed-wireless access juga diperkirakan semakin cepat mulai 2027. Selain itu, lelang spektrum pada pertengahan 2026 menetapkan persyaratan cakupan jaringan bagi seluruh operator, sehingga turut mendorong investasi infrastruktur telekomunikasi. Fitch menilai TBIG berdasarkan profilnya secara standalone. Perusahaan induk TBIG, Bersama Digital Infrastructure Asia Pte. Ltd. (BDIA), dinilai memiliki profil kredit konsolidasi yang serupa dengan TBIG karena anak usaha BDIA lainnya jauh lebih kecil.
Baca Juga: IHSG Ditutup Turun 0,83% ke 6.071 pada Rabu (30/9), GOTO, MEDCO, CUAN Top Losers LQ45 Akses BDIA terhadap kas TBIG juga dinilai terbatas pada kebijakan pembagian hasil kepada pemegang saham. Fitch mencatat sekitar 9% saham TBIG dimiliki publik, sehingga transaksi material dengan pihak terafiliasi atau entitas terkait BDIA memerlukan persetujuan pemegang saham independen dan pengungkapan kepada regulator. Dalam skenario pemeringkatannya, Fitch memperkirakan pertumbuhan pendapatan TBIG berada di kisaran satu digit rendah pada 2026-2027. Margin EBITDA diperkirakan stabil di sekitar 85%, dibandingkan 85,8% pada 2025. Belanja modal, termasuk pembayaran di muka untuk sewa lahan, diperkirakan sekitar Rp 3 triliun per tahun pada 2026-2027, naik dari Rp 2,4 triliun pada 2025. Fitch juga memasukkan asumsi pembayaran dividen tahunan sebesar Rp 1,2 triliun-Rp 1,3 triliun pada 2026-2027. Pada akhir Juni 2026, TBI memiliki saldo kas sebesar Rp 700 miliar. Selain itu, TBIGmemiliki fasilitas committed yang belum ditarik sebesar US$ 325 juta atau sekitar Rp 5,8 triliun serta fasilitas pinjaman bank dalam rupiah yang belum ditarik sebesar Rp 9,8 triliun, yang sebagian besar bersifat uncommitted. Jumlah tersebut dibandingkan dengan utang TBIG yang akan jatuh tempo dalam 12 bulan ke depan sebesar Rp 17,8 triliun. Fitch menilai likuiditas dan kemampuan refinancing TBIG akan didukung akses yang kuat ke perbankan domestik dan offshore serta pasar obligasi domestik. TBIG juga merupakan penerbit reguler di pasar obligasi lokal, dengan total penerbitan obligasi dan sukuk sekitar Rp 26 triliun sejak 2022. Fitch memberikan peringkat yang sama untuk sukuk TBIG karena kegagalan memenuhi kewajiban senior tanpa jaminan dinilai akan mencerminkan gagal bayar TBIG. Dalam menentukan peringkat sukuk, Fitch tidak memperhitungkan aset dasar transaksi. Fitch menilai kemampuan TBIG memenuhi pembayaran sukuk pada akhirnya bergantung pada kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban pembayaran tanpa jaminan kepada wali amanat sesuai dokumen transaksi. TBIG wajib membayar imbal hasil ijarah dan/atau sisa imbal hasil ijarah secara penuh pada setiap tanggal pembayaran atau jatuh tempo. Keterlambatan pembayaran juga mewajibkan TBIG memberikan kompensasi. Kegagalan membayar pendapatan sukuk dan/atau pokok sukuk ijarah pada tanggal pembayaran yang ditentukan merupakan
event of default. Dalam perbandingan dengan perusahaan sejenis, TBIG memiliki peringkat satu tingkat di bawah PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) yang berada pada peringkat BBB/Negative/AAA(idn)/Stable. Perbedaan tersebut mencerminkan
leverage Protelindo yang lebih rendah, skala bisnis yang lebih besar, serta posisi pasar yang lebih kuat. Fitch memperkirakan EBITDA net leverage Protelindo sekitar 4,0 kali dalam jangka menengah, dibandingkan sekitar 5,0 kali untuk TBIG Sementara itu, peringkat Nasional Jangka Panjang TBIG setara dengan XLSMART. Keduanya memiliki posisi kuat di sektornya masing-masing. TBIG memiliki visibilitas arus kas yang lebih kuat berkat kontrak sewa jangka panjang serta menghadapi tingkat persaingan dan risiko belanja modal yang umumnya lebih rendah dibandingkan XLSMART. Namun, kondisi tersebut diimbangi oleh leverage TBIG yang lebih tinggi, sekitar 5,0 kali dibandingkan sekitar 2,0 kali untuk XLSMART. Fitch menyebut peringkat TBIG dapat tertekan jika pembayaran kepada pemegang saham menjadi lebih agresif atau tingkat pergantian penyewa menara lebih tinggi dari perkiraan, sehingga EBITDA net leverage bertahan di atas 5,3 kali.
Baca Juga: Batavia Luncurkan Reksadana Saham USD Berbasis Emas, AUM Tembus US$ 10 Juta Sebaliknya, peningkatan peringkat dapat terjadi jika EBITDA net leverage TBIG bertahan di bawah 4,3 kali. Perubahan peringkat TBIG juga akan berdampak pada peringkat obligasi dan sukuk. Khusus sukuk, perubahan peran dan kewajiban TBI dalam struktur serta dokumen sukuk juga dapat memengaruhi peringkatnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News