KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai revisi outlook lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings dan Moody’s terhadap sejumlah bank besar di Indonesia, termasuk empat bank Himbara, lebih mencerminkan perubahan outlook sovereign Indonesia ketimbang pelemahan fundamental industri perbankan nasional. Seperti diketahui, setelah sebelumnya Moody’s memangkas outlook sejumlah bank besar di Indonesia, kini giliran Fitch yang menurunkan outlook bank pelat merah menjadi negatif dari sebelumnya stabil. Meski demikian, Fitch tetap mempertahankan peringkat (rating) ketiga bank tersebut. Bank yang outlook peringkatnya direvisi menjadi negatif adalah PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae mengatakan, penyesuaian outlook tersebut terjadi seiring perubahan outlook sovereign Indonesia dari stabil menjadi negatif. Karena itu, langkah lembaga pemeringkat tersebut dinilai lebih terkait faktor eksternal, dinamika makroekonomi global, dan keterkaitannya dengan profil sovereign.
Baca Juga: Fitch Revisi Outlook Bank Mandiri, BRI, BNI dan LPEI Jadi Negatif, Rating Tetap BBB “Penyesuaian tersebut lebih mencerminkan faktor eksternal dan dinamika makroekonomi global, serta keterkaitan dengan profil sovereign, dan bukan karena penurunan fundamental kinerja bank-bank dimaksud,” ujar Dian dalam jawaban tertulisnya, dikutip Minggu (15/3/2026). Menurut Dian, di tengah ketidakpastian global, bank-bank Himbara tetap menunjukkan kinerja intermediasi yang stabil serta menjalankan peran strategis dalam mendukung pembiayaan sektor riil dan program prioritas pemerintah. Dengan demikian, OJK memandang outlook negatif lebih merupakan sinyal kewaspadaan terhadap risiko eksternal dan fiskal, bukan indikasi langsung adanya tekanan pada kesehatan bank-bank BUMN. “Oleh karena itu, outlook negatif lebih merupakan sinyal kewaspadaan terhadap risiko eksternal dan fiskal, bukan indikasi langsung adanya tekanan pada kesehatan bank,” katanya. OJK mengakui perubahan outlook sovereign dapat mendorong kenaikan risk premium yang berpotensi meningkatkan cost of fund secara moderat. Selain itu, kondisi tersebut juga dapat memicu volatilitas jangka pendek pada saham-saham bank Himbara di pasar modal. Meski begitu, Dian menegaskan akses pendanaan bank-bank Himbara ke pasar global masih tetap terjaga. Hal ini tercermin dari peringkat kredit masing-masing bank yang masih dipertahankan pada level investment grade.
Baca Juga: BTN Pastikan Penurunan Rating Moody’s Tak Berdampak Besar “OJK menilai perubahan outlook sovereign dapat meningkatkan risk premium yang akan berdampak pada meningkatnya cost of fund secara moderat dan memicu volatilitas jangka pendek di beberapa saham Bank Himbara. Namun demikian, akses keuangan Bank Himbara ke pasar global masih tetap terjaga,” ujarnya. Ia menambahkan, valuasi saham bank Himbara juga masih menarik, didukung oleh kondisi permodalan yang solid, likuiditas yang memadai, kualitas aset yang terjaga, serta profitabilitas yang tetap resilien. Selain itu, minat investor global terhadap emerging market seperti Indonesia juga masih cukup baik. Dian menjelaskan, bank Himbara memiliki keunggulan struktural berupa jaringan yang luas dan terdiversifikasi, baik di dalam negeri maupun di sejumlah pusat keuangan internasional. Jaringan tersebut dinilai menjadi modal penting untuk memperluas basis nasabah, memperdalam penghimpunan dana pihak ketiga, serta menjaga efisiensi struktur pendanaan. “Pertumbuhan dana murah atau CASA yang berkelanjutan mencerminkan tingkat kepercayaan publik yang tetap kuat terhadap Bank Himbara, sekaligus memperkuat struktur pendanaan yang efisien dan stabil,” kata Dian.
Baca Juga: OJK Catat Pinjaman Paylater Perbankan Tumbuh 20% Per Januari 2026 Dari sisi pengawasan, OJK memastikan tata kelola, manajemen risiko, dan pencadangan bank dilakukan secara prudent dan sesuai standar internasional. OJK juga menilai ketahanan perbankan nasional, termasuk bank Himbara, masih berada pada level yang kuat. Hingga akhir 2025, mayoritas bank Himbara tercatat membukukan pertumbuhan kredit double digit, melampaui pertumbuhan kredit industri perbankan yang sebesar 9,6%. BNI mencatat pertumbuhan kredit 10,13%, Bank Mandiri 14,13%, BRI 10,41%, dan BTN 11,90%. Dari sisi pendanaan, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) juga tetap tinggi. BNI mencatat pertumbuhan DPK 14,72%, Mandiri 26,21%, BRI 7,35%, dan BTN 14,62%. Menurut OJK, pertumbuhan tersebut terutama ditopang komponen dana murah atau current account saving account (CASA), yang menunjukkan kepercayaan masyarakat tetap terjaga. Sementara itu, rasio kecukupan modal (CAR) bank Himbara berada di kisaran 18% hingga 21%, jauh di atas ketentuan minimum. Adapun rasio kredit bermasalah atau NPL gross berada di kisaran di bawah 1% hingga 3%, dengan loan at risk (LaR) yang tetap terkendali serta didukung cadangan yang memadai. “Hingga akhir tahun 2025, OJK menegaskan bahwa kinerja fundamental Bank Himbara tetap solid, resilien, dan terkelola dengan baik,” kata Dian.
OJK pun memandang penyesuaian outlook ini masih bersifat reversible atau dapat berubah kembali, seiring perbaikan prospek ekonomi global dan domestik serta penguatan indikator fiskal dan eksternal Indonesia. “Outlook tersebut berpotensi kembali stabil maupun positif apabila prospek perekonomian global dan domestik membaik serta indikator fiskal dan eksternal menguat,” tutup Dian.
Baca Juga: OJK: Perbankan Triwulan I-2026 Tetap Resilien Meski Geopolitik Memanas Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News