KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kondisi permodalan PT Asuransi Bintang Tbk (
ASBI) semakin tertekan setelah perusahaan menghadapi dugaan fraud yang nilainya mencapai sekitar Rp54 miliar. Tekanan tersebut mendorong Fitch Ratings menurunkan peringkat kekuatan keuangan nasional atau National Insurer Financial Strength (IFS) ASBI. Fitch Ratings dalam rilis pada Kamis (17/9/2026) menurunkan National IFS Rating ASBI menjadi BBB+(idn) dari sebelumnya A-(idn). Tak hanya memangkas peringkat, Fitch juga menempatkan rating ASBI dalam Rating Watch Negative (RWN). Penurunan rating tersebut mencerminkan memburuknya posisi permodalan ASBI, kinerja operasional yang masih lemah, serta penilaian tata kelola perusahaan yang kini dinilai less favorable akibat penyelidikan terkait dugaan fraud di perusahaan.
Baca Juga: Ciputra Life Sebut Program Penjaminan Polis Bisa Berdampak Positif pada Perasuransian Fitch menilai masih terdapat risiko dalam waktu dekat bahwa dugaan fraud tersebut dapat memunculkan tambahan kerugian yang harus diakui ASBI. Jika terjadi, kondisi itu berpotensi semakin menekan posisi modal dan likuiditas perusahaan. Fitch menyatakan akan menyelesaikan status RWN setelah terdapat kejelasan lebih lanjut mengenai posisi likuiditas dan permodalan ASBI, termasuk realisasi rencana divestasi aset properti yang dimiliki perusahaan. Sebagai gambaran, peringkat BBB pada skala National IFS menunjukkan kapasitas yang memadai untuk memenuhi kewajiban kepada pemegang polis dibandingkan kewajiban atau penerbit lain dalam negara atau kawasan moneter yang sama.
Dugaan fraud tekan modal ASBI
Salah satu perhatian utama Fitch adalah tata kelola ASBI. Fitch mengubah penilaian corporate governance ASBI menjadi less favorable dari sebelumnya neutral. Perubahan tersebut dilakukan setelah adanya investigasi terhadap dugaan fraud investasi dan penggelapan terkait penggajian yang secara keseluruhan mencapai sekitar Rp 54 miliar, atau setara dengan 12% dari total ekuitas ASBI per akhir Desember 2025. ASBI telah melaporkan direktur keuangan, sejumlah karyawan termasuk staf dari bagian sumber daya manusia (HR) dan akuntansi, serta pihak eksternal kepada aparat berwenang terkait dugaan fraud tersebut. Menurut Fitch, kasus tersebut menimbulkan kekhawatiran signifikan terhadap efektivitas kerangka tata kelola, pengendalian internal, serta praktik manajemen risiko ASBI. Sejalan dengan perubahan tersebut, Fitch menurunkan peringkat profil perusahaan ASBI menjadi less favorable dari moderate dibandingkan perusahaan asuransi lainnya di Indonesia. Tekanan akibat pengakuan kerugian juga terlihat pada posisi permodalan perusahaan. Fitch mencatat, rasio risk-based capital (RBC) ASBI berdasarkan perhitungan internal yang telah direvisi turun menjadi 141% pada akhir Juli 2026, dari sebelumnya 162%.
Baca Juga: Skema Cicilan 50:50 Bisa Jadi Jurus Multifinance Tarik Minat Konsumen Penurunan tersebut terjadi setelah ASBI mengakui kerugian yang berkaitan dengan aset investasi yang diselewengkan serta penggelapan terkait penggajian. Pada periode yang sama, ekuitas ASBI berdasarkan perhitungan kembali Fitch turun menjadi sekitar Rp 403 miliar, dari sebelumnya Rp 465 miliar. Meski demikian, posisi tersebut masih berada di atas batas minimum modal yang baru, yakni Rp 250 miliar pada akhir 2026. Namun, Fitch menilai rasio RBC ASBI masih terbebani oleh komposisi investasinya. Pasalnya, perusahaan memiliki alokasi yang signifikan pada aset berupa tanah dan bangunan yang dikenakan beban risiko pasar lebih tinggi dalam kerangka perhitungan RBC. Untuk memperkuat permodalan sekaligus likuiditas, ASBI berencana melakukan divestasi sebagian investasi propertinya. Di sisi lain, tekanan ASBI tidak hanya berasal dari dugaan fraud dan permodalan. Kinerja operasional perusahaan juga masih lemah. ASBI mencatat rugi bersih sekitar Rp 4 miliar dalam tujuh bulan pertama 2026. Kondisi tersebut berbalik dari laba bersih Rp 16 miliar sepanjang 2025. Fitch menyebut tingginya beban operasional menjadi faktor utama yang menekan kinerja ASBI. Profitabilitas perusahaan juga masih menghadapi risiko penurunan apabila penyelidikan fraud berujung pada pengakuan tambahan kerugian atau impairment. Selain itu, Fitch menyoroti tingginya eksposur ASBI terhadap investasi properti. Pada akhir 2025, tanah dan bangunan mencakup lebih dari 60% aset investasi ASBI. Menurut Fitch, komposisi aset tersebut tergolong lebih agresif dan kurang likuid dibandingkan rata-rata industri asuransi. Kualitas investasi ASBI juga berpotensi lebih lemah dari yang dilaporkan sebelumnya, mengingat investigasi fraud yang masih berlangsung menimbulkan ketidakpastian mengenai keberadaan, valuasi, serta kemampuan pemulihan sejumlah aset investasi.
Baca Juga: Nobu Bank Hadirkan QRIS Tap untuk Pembayaran LRT Jakarta Status Rating Watch Negative juga membuat arah peringkat ASBI masih menghadapi tekanan. Fitch menyebut rating dapat kembali diturunkan apabila tata kelola perusahaan dinilai semakin memburuk, termasuk jika struktur tata kelolanya melemah. Selain itu, pelemahan permodalan dengan rasio RBC yang secara persisten berada di bawah 150% juga dapat menjadi pemicu tindakan rating negatif. Sebaliknya, ruang untuk kenaikan rating masih terbatas selama status RWN berlangsung. Fitch baru dapat mempertimbangkan perbaikan apabila terdapat peningkatan tata kelola ASBI yang berkelanjutan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News