Fitch Pertahankan Rating BNI di BBB, Outlook Negatif Sejalan dengan RI



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lembaga pemeringkat global Fitch Ratings mempertahankan peringkat kredit PT Bank Negara Indonesia (BBNI) pada level investment grade.

Berdasarkan laporannya, Selasa (20/4/2026), Fitch menegaskan Long-Term Foreign Currency dan Local Currency Issuer Default Ratings (IDR) BNI di level BBB dengan outlook negatif.

Prospek tersebut mengikuti outlook negatif sovereign Indonesia.


Selain itu, Fitch juga mempertahankan Short-Term IDR BNI di level F2, Government Support Rating (GSR) di bbb, serta Viability Rating (VR) di bbb-.

Baca Juga: Fitch Pertahankan Rating Bank Mandiri (BMRI) di BBB, Outlook Negatif

Sementara Fitch Ratings Indonesia menegaskan National Long-Term Rating BNI di AAA(idn) dengan outlook stabil dan National Short-Term Rating di F1+(idn).

Fitch menilai rating BNI didorong ekspektasi kuat adanya dukungan luar biasa dari pemerintah apabila diperlukan. Hal ini mempertimbangkan posisi BNI sebagai bank terbesar keempat di Indonesia serta kepemilikan strategis negara.

Dari sisi fundamental, profil kredit standalone BNI dinilai solid. Fitch menyebut waralaba domestik yang kuat telah menopang profitabilitas dan permodalan yang konsisten sepanjang siklus kredit, disertai perbaikan kualitas aset dan profil risiko dalam beberapa tahun terakhir.

Fitch mencermati pangsa simpanan BNI yang mencapai kisaran 10,3% dari total sistem perbankan nasional pada akhir 2025. Skala usaha dan kedekatan dengan pemerintah memberi akses pendanaan murah serta peluang ekspansi kredit melalui hubungan erat dengan korporasi besar dan BUMN.

Untuk profil risiko, Fitch mencatat pertumbuhan kredit BNI meningkat menjadi 15,9% pada 2025 dari 11,6% pada 2024. Namun tanpa penyaluran kredit yang terkait program pemerintah, pertumbuhan kredit diperkirakan hanya sekitar 10%. Kenaikan kredit terutama ditopang segmen korporasi.

Baca Juga: Laba Bank Besar Mulai Pulih, Biaya Provisi Turun Jadi Penopang Utama

Paparan kredit BNI ke program koperasi pemerintah mencapai 5,2% dari total portofolio kredit per akhir 2025. Fitch menilai risiko dari fasilitas tersebut dimitigasi dukungan kredit pemerintah pusat. Namun jika porsinya naik signifikan tanpa mitigasi memadai, penilaian profil risiko dapat ditinjau ulang.

Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah (NPL) BNI relatif stabil di level 1,9% pada akhir 2025, membaik dari 2% pada tahun sebelumnya. Sementara rasio loans at risk turun menjadi 8,5% dari 10,3%. 

Fitch memperkirakan biaya kredit dapat meningkat bertahap pada 2026 seiring tekanan ekonomi makro dan potensi pelemahan kemampuan bayar debitur.

Meski demikian, pertumbuhan aset yang moderat, underwriting yang membaik, serta pencadangan memadai dinilai mampu menjaga kualitas aset tetap terkendali.

Profitabilitas BNI pada 2025 sempat tertekan oleh penyusutan margin bunga bersih yang terjadi secara industri. Namun kinerja laba tetap dinilai sehat dan lebih baik dibanding sejumlah bank yang lebih kecil.

Baca Juga: BSI Bangun Kampung Nelayan di NTT, Tekan Ongkos Melaut hingga Separuh

Pada 2026, profitabilitas diperkirakan tetap solid seiring meredanya tekanan margin.

Untuk permodalan, rasio common equity tier 1 (CET1) turun menjadi 18,4% pada akhir 2025 dari 18,9% pada akhir 2024. Penurunan terjadi karena pertumbuhan aset tertimbang menurut risiko lebih tinggi dibanding pembentukan modal internal. 

Fitch juga mencatat dividend payout ratio atas laba 2025 tetap tinggi di level 65%. Kebijakan pembagian dividen besar diperkirakan berlanjut dalam dua tahun ke depan dan berpotensi mengikis bantalan modal secara bertahap jika terus berlangsung.

Sementara dari sisi likuiditas, loan to deposit ratio (LDR) turun menjadi 86,4% pada akhir 2025 dari 96,3% setahun sebelumnya. Namun Fitch memperkirakan rasio tersebut akan naik bertahap seiring optimalisasi penyaluran dana.

Baca Juga: Perkuat Layanan Perbankan Segmen Institusi, BWS Perpanjang Kerjasama dengan TNI

Ke depan, penurunan rating sovereign Indonesia dapat memicu penurunan rating BNI. Sebaliknya, outlook BNI berpotensi kembali stabil jika outlook sovereign Indonesia direvisi menjadi stabil.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News