KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Fitch Ratings mempertahankan peringkat nasional jangka panjang PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) di level tertinggi, yakni AAA(idn) dengan outlook stabil. Peringkat ini terutama ditopang ekspektasi kuat Fitch terhadap dukungan luar biasa dari pemerintah apabila BTN menghadapi tekanan keuangan. Selain peringkat nasional jangka panjang, Fitch juga mempertahankan peringkat utang senior tanpa jaminan BTN di AAA(idn) serta peringkat nasional jangka pendek di F1+(idn). Fitch dalam keterangan resmi pada Senin (5/10/2026) menjelaskan peringkat AAA(idn) merupakan peringkat tertinggi dalam skala nasional Fitch di Indonesia. Peringkat tersebut mencerminkan ekspektasi risiko gagal bayar yang paling rendah dibandingkan emiten atau kewajiban lain dalam skala nasional yang sama.
Baca Juga: Kredit Sindikasi Jadi Pilihan Bank Biayai Proyek Jumbo Sementara itu, peringkat F1+(idn) menunjukkan kapasitas terkuat untuk memenuhi komitmen keuangan secara tepat waktu dibandingkan penerbit atau kewajiban lainnya di Indonesia. Fitch menilai posisi BTN sebagai bank milik negara dan pemain utama pembiayaan perumahan menjadi faktor penting yang menopang peringkat tersebut. Lembaga pemeringkat ini menilai terdapat probabilitas tinggi bahwa pemerintah akan memberikan dukungan luar biasa kepada BTN jika diperlukan. Penilaian tersebut didasarkan pada kepemilikan negara yang mayoritas, peran BTN yang kuat dalam menjalankan kebijakan pemerintah, serta tingkat kepentingannya terhadap sistem perbankan nasional. Saat ini, sekitar 60% saham BTN dikuasai negara, dengan sekitar 59% melalui PT Danantara Asset Management dan 1% melalui Badan Pengaturan BUMN. BTN juga merupakan bank yang ditetapkan regulator sebagai bank sistemik domestik atau domestic systemically important bank (D-SIB). Hingga akhir Juni 2026, BTN menguasai sekitar 3,8% aset industri perbankan Indonesia, menjadikannya bank komersial terbesar kelima di Indonesia. Namun, menurut Fitch, faktor yang paling menentukan adalah peran BTN dalam pembiayaan perumahan. Fitch menilai pemerintah memiliki kecenderungan kuat untuk memberikan dukungan karena BTN memegang peran penting dalam menyediakan pembiayaan rumah bagi masyarakat. "
Default BTN dapat mengganggu sektor perumahan dengan dampak sosial-ekonomi yang signifikan," demikian penilaian Fitch. Peran tersebut semakin penting karena sektor perumahan menjadi salah satu prioritas pemerintah melalui Program 3 Juta Rumah. BTN saat ini merupakan penyedia kredit pemilikan rumah (KPR) terbesar di Indonesia dengan pangsa pasar sekitar 38%.
Baca Juga: Downgrade Konsumsi Mengancam Asuransi Lifestyle, Premi 2026 Diprediksi Tumbuh 3%-6% Khusus untuk KPR subsidi, posisi BTN bahkan jauh lebih dominan. Per akhir Juni 2026, BTN menguasai sekitar 81% pangsa pasar KPR subsidi. Fitch menilai BTN merupakan saluran utama pemerintah dalam menjalankan program penyediaan rumah terjangkau. Dengan posisi tersebut, peran BTN dalam mencapai target pemerintah untuk penyaluran KPR subsidi dinilai sulit digantikan dalam waktu dekat. Selain melihat kuatnya kemauan pemerintah memberikan dukungan, Fitch juga menilai pemerintah Indonesia memiliki kemampuan yang cukup untuk memberikan dukungan kepada bank-bank sistemik, termasuk BTN. Penilaian ini ditopang oleh ukuran aset sektor perbankan Indonesia yang relatif kecil terhadap produk domestik bruto (PDB), serta rasio utang pemerintah terhadap PDB yang relatif rendah dibandingkan negara-negara dengan peringkat BBB lainnya. Meski demikian, Fitch mencatat terdapat faktor penyeimbang berupa besarnya porsi aset sistem perbankan yang dimiliki bank-bank yang berpotensi membutuhkan dukungan pemerintah ketika terjadi tekanan. Di sisi lain, Fitch menegaskan profil kredit mandiri atau standalone BTN bukan faktor yang menentukan peringkat nasional bank tersebut. Profil mandiri BTN dinilai mencerminkan waralaba bisnis yang moderat, risk appetite di atas rata-rata serta risiko kualitas aset. Profitabilitas dan permodalan BTN juga dinilai masih berada di bawah sejumlah bank sekelasnya. Kondisi tersebut sebagian diimbangi oleh profil pendanaan dan likuiditas BTN yang terus memperoleh manfaat dari dukungan operasional atau ordinary support sebagai bank milik negara. Dengan demikian, posisi rating BTN saat ini lebih banyak mencerminkan kekuatan hubungan dengan pemerintah dibandingkan semata-mata kondisi fundamental bank. Fitch menyatakan tidak terdapat ruang untuk kenaikan rating BTN karena peringkat nasional bank sudah berada di level tertinggi dalam skala nasional. Sebaliknya, penurunan rating dapat terjadi jika profil kredit BTN memburuk relatif terhadap entitas lain dalam skala nasional atau jika Fitch menilai kecenderungan pemerintah untuk memberikan dukungan melemah.
Baca Juga: BCA Ikut Danai 13 Proyek Besar, Nilai Kredit Sindikasi Capai Rp 27,6 Triliun Hal tersebut, antara lain, dapat dipicu oleh penurunan material kepemilikan pemerintah serta berkurangnya secara signifikan peran BTN dalam pembiayaan perumahan terjangkau. Namun, Fitch menilai kedua kondisi tersebut tidak mungkin terjadi dalam waktu dekat. Penurunan profil kredit mandiri BTN juga belum tentu langsung memicu penurunan rating nasional, kecuali pelemahan tersebut turut mengurangi faktor-faktor yang mendasari ekspektasi dukungan pemerintah.
Sementara itu, peringkat nasional jangka pendek BTN berpotensi turun apabila peringkat nasional jangka panjangnya merosot setidaknya empat tingkat. Untuk surat utang senior tanpa jaminan BTN, Fitch mempertahankan peringkat di level yang sama dengan peringkat nasional jangka panjang, yakni AAA(idn). Hal ini karena surat utang tersebut merupakan kewajiban langsung tanpa jaminan BTN dan memiliki kedudukan yang setara dengan kewajiban tanpa jaminan lainnya. Peringkat surat utang senior tersebut juga akan sensitif terhadap perubahan peringkat nasional jangka panjang BTN. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News