Fitch Pertahankan Rating INA di BBB, Outlook Negatif



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Fitch Ratings mempertahankan peringkat Indonesia Investment Authority (INA) pada level BBB dengan outlook negatif untuk peringkat gagal bayar jangka panjang valuta asing dan rupiah.

Fitch juga mempertahankan peringkat gagal bayar jangka pendek valuta asing INA di level F2. Sementara itu, peringkat nasional jangka panjang INA dipertahankan pada AAA(idn) dengan outlook stabil.

Senior Director sekaligus Primary Rating Analyst International Fitch Ratings Paul Norris mengatakan, penetapan rating INA mencerminkan penilaian Fitch terhadap kemungkinan dukungan luar biasa dari  pemerintah Indonesia jika lembaga tersebut membutuhkan bantuan.


Baca Juga: Saham Summarecon (SMRA) Kembali Bangkit Usai Presdirnya Ditangkap KPK

“Kami menilai dukungan luar biasa dari pemerintah Indonesia kepada INA hampir pasti terjadi apabila diperlukan, yang mencerminkan support score sebesar 45 dari maksimum 60,” kata Norris dalam rating commentary yang dirilis, Rabu (16/9). 

Norris menyebut penilaian tersebut didasarkan pada tanggung jawab dan insentif pemerintah untuk mendukung INA. Rating INA kemudian disetarakan dengan rating pemerintah Indonesia pada level BBB dengan outlook negatif.

Outlook negatif pada peringkat jangka panjang INA juga mencerminkan outlook pemerintah Indonesia. Sementara outlook stabil pada peringkat nasional INA menunjukkan posisi kredit relatifnya di antara entitas lain dalam skala nasional Indonesia.

Analis lembaga pemeringkat global itu menilai pengawasan dan pengambilan keputusan pemerintah terhadap INA sangat kuat. INA bertanggung jawab langsung kepada Presiden Indonesia, yang menunjuk dewan pengawas lembaga tersebut.

Dukungan pemerintah menjadi bagian penting dalam pembentukan modal INA sejak awal berdiri. Pemerintah memberikan suntikan kas awal Rp 30 triliun serta kontribusi ekuitas Rp 45 triliun melalui kepemilikan saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). 

Dividen dari kedua bank tersebut mencapai Rp 4,6 triliun pada 2025 dan menyumbang 55% terhadap total pendapatan INA. Pendapatan dividen tersebut turut mendukung akumulasi modal dan kapasitas investasi INA.

Norris bilang peran INA dalam kebijakan pemerintah sangat kuat. Mandat INA mencakup sektor prioritas seperti infrastruktur, energi, transformasi digital, kesehatan, serta material dan industri lanjutan.

Pada 2025, INA bersama mitra investornya telah menginvestasikan sekitar Rp 15,7 triliun pada sektor strategis. Fitch menilai posisi tersebut memperkuat peran INA dalam mendukung agenda pembangunan pemerintah.

Dari sisi keuangan, pendapatan INA meningkat menjadi Rp 8,5 triliun pada 2025 dari Rp 5,9 triliun pada 2024. Laba bersih juga naik menjadi Rp 7,4 triliun dari Rp 5,4 triliun.

Kinerja tersebut didorong peningkatan pendapatan investasi menjadi Rp 866,3 miliar dari Rp 504,4 miliar pada 2024 serta kenaikan pendapatan dividen dari saham yang diberikan pemerintah sebagai kontribusi modal nonkas.

Leverage INA tetap rendah pada 2025. Pertumbuhan portofolio terutama dibiayai melalui ekuitas, sumber daya internal, dan dana investor, sehingga struktur permodalan INA tetap konservatif.

Likuiditas INA juga dinilai memadai dengan dukungan kas, deposito berjangka, dan kepemilikan obligasi.  Namun, kas turun menjadi Rp 9,8 triliun pada 2025 dari Rp 12,8 triliun pada 2024.

Fitch tidak memberikan Standalone Credit Profile kepada INA karena lembaga tersebut dinilai tidak dapat dipisahkan secara efektif dari pemerintah. INA menjalankan mandat berbasis kebijakan dengan keterkaitan operasional dan keuangan yang erat.

Di sisi lain, Fitch menilai potensi gagal bayar INA dapat memengaruhi ketersediaan dan biaya pembiayaan pemerintah pusat serta entitas terkait pemerintah. Kondisi tersebut juga berpotensi menggangu kepercayaan investor.

Baca Juga: Idea Indonesia Akademi (IDEA) Jadi Target Akuisisi, Ini Calon Pengendali Barunya

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News