KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Fitch Ratings Indonesia mempertahankan peringkat nasional jangka panjang PT Samator Indo Gas Tbk (
AGII) di level A(idn) dengan outlook stabil. Fitch juga mempertahankan peringkat atas obligasi dan sukuk yang diterbitkan Samator Indo Gas di level yang sama. Keputusan tersebut mencerminkan ekspektasi Fitch bahwa rasio EBITDA net leverage Samator Indo Gas akan kembali ke sekitar 3,5 kali pada 2026 dan terus menurun pada tahun-tahun berikutnya. Rasio leverage perusahaan sempat berada di atas level tersebut pada 2024–2025 akibat tingginya belanja investasi. Fitch dalam rilis Kamis (10/9/2026) memperkirakan EBITDA net leverage Samator Indo Gas turun menjadi sekitar 3,5 kali pada 2026, dibandingkan 4 kali pada 2025. Penurunan leverage akan didukung oleh rampungnya sejumlah proyek investasi besar dalam dua tahun terakhir, termasuk pabrik di Batang, Jawa Tengah, pembangunan pabrik on-site untuk pelanggan baru, serta fasilitas
liquefaction di Batam.
Baca Juga: Harga Minyak Tembus US$ 100 Per Barel, Ancaman Demand Destruction Mengintai Selain berkurangnya kebutuhan investasi, proses penurunan leverage juga akan ditopang oleh perbaikan profitabilitas. Namun, Fitch mengingatkan tekanan tak terduga terhadap profitabilitas, seperti penghentian operasional pabrik yang tidak direncanakan atau memburuknya kondisi makroekonomi global, dapat memperlambat proses deleveraging. Sebagai catatan, EBITDA net leverage Samator Indo Gas berada di atas 3,5 kali sepanjang 2024–2025. Pada semester I 2026, rasio tersebut telah turun menjadi 3,4 kali. Sebelumnya, tingginya leverage terutama dipicu belanja investasi yang besar, tekanan profitabilitas akibat gangguan pada salah satu pabrik, serta waktu yang dibutuhkan fasilitas baru untuk mencapai tingkat efisiensi optimal. Fitch juga memperkirakan margin EBITDA Samator Indo Gas meningkat menjadi 27%–28% pada 2026–2027, dibandingkan 26% pada 2025. Pada semester I 2026, margin EBITDA perusahaan bahkan telah mencapai 29%. Perbaikan tersebut antara lain didukung peningkatan peralatan yang menekan konsumsi listrik di sejumlah pabrik. Efisiensi energi menjadi faktor penting bagi Samator Indo Gas mengingat listrik menyumbang sekitar 70%–80% dari biaya produksi. Selain itu, perusahaan meningkatkan profitabilitas melalui sejumlah inisiatif operasional, termasuk penerapan aplikasi baru untuk proses penagihan serta sentralisasi pengelolaan persediaan tabung gas dan peralatan lainnya. Setelah periode investasi besar pada 2024–2025, Fitch memperkirakan belanja modal alias
capital expenditure (capex) Samator Indo Gas akan kembali normal di kisaran Rp 350 miliar–Rp 400 miliar per tahun pada 2026–2028, dibandingkan Rp 427 miliar pada 2025. Belanja modal tersebut terutama akan dialokasikan untuk kebutuhan pemeliharaan rutin, termasuk penambahan peralatan distribusi seperti tabung gas. Dengan normalisasi capex dan membaiknya profitabilitas, Fitch memperkirakan arus kas bebas (free cash flow/FCF) Samator Indo Gas akan mulai positif pada 2026. Proyeksi tersebut tetap memperhitungkan asumsi rasio pembayaran dividen yang lebih tinggi, yakni 60% mulai 2026, dibandingkan 25% pada 2025.
Baca Juga: Pesanan Jumbo Bisa Dongkrak Penjualan SR025 Tenor 5 Tahun Pendapatan Diproyeksi Tumbuh 5%
Dari sisi bisnis, Fitch memperkirakan pendapatan Samator Indo Gas tumbuh rata-rata 5% pada 2026–2028, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 3,5% pada 2025. Pertumbuhan tersebut diproyeksikan sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Fitch menilai kinerja pendapatan perusahaan akan sangat bergantung pada aktivitas manufaktur dan industri domestik. Pada semester I 2026, pendapatan Samator Indo Gas telah tumbuh 9% secara tahunan, setelah permintaan melemah akibat tantangan ekonomi global pada 2024–2025. Sektor infrastruktur menjadi kontributor terbesar terhadap pendapatan perusahaan pada semester I 2026, dengan kontribusi hampir 30% dari total pendapatan. Posisi Samator Indo Gas di industri gas juga menjadi salah satu penopang peringkatnya. Fitch mencatat perusahaan merupakan produsen gas industri terbesar di Indonesia dengan pangsa pasar sekitar 40% pada 2025 berdasarkan data perusahaan. Di segmen gas medis, Samator Indo Gas juga menjadi pemimpin pasar dengan pangsa sekitar 75%–80%. Jaringan distribusi yang luas menjadi salah satu keunggulan perusahaan, dengan sekitar 60 pabrik dan 103 stasiun pengisian di 30 provinsi. Selain posisi pasar, visibilitas pendapatan Samator Indo Gas juga ditopang karakter kontrak bisnisnya. Lebih dari 60% pendapatan berasal dari kontrak jangka panjang berdurasi lima hingga 15 tahun, terutama dari segmen distribusi bulkdan pipeline. Kontrak dengan skema formula pricing memungkinkan perusahaan meneruskan kenaikan biaya kepada pelanggan. Basis pelanggan Samator Indo Gas juga terdiversifikasi, mencakup sektor kesehatan, infrastruktur, barang konsumsi hingga ritel. Meski prospek deleveraging membaik, Fitch tetap mencermati posisi likuiditas Samator Indo Gas. Per akhir Juni 2026, perusahaan memiliki kas sekitar Rp 628 miliar, sementara utang yang jatuh tempo dalam 12 bulan berikutnya mencapai sekitar Rp 700 miliar. Utang tersebut antara lain mencakup pinjaman modal kerja Rp 200 miliar yang dapat diperpanjang (rolled over), serta obligasi dan sukuk yang jatuh tempo pada kuartal IV 2026 sebesar Rp 140 miliar dan Rp 124 miliar pada kuartal II 2027.
Baca Juga: Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb Memanas, Harga Minyak WTI Tembus US$100 Di sisi lain, Samator Indo Gas memiliki fasilitas kredit berkomitmen yang belum ditarik sekitar Rp 1,5 triliun per akhir Juni 2026. Fasilitas tersebut terdiri dari fasilitas modal kerja Rp800 miliar dan fasilitas pendanaan capex sekitar Rp 717 miliar. Fitch menilai akses pendanaan Samator Indo Gas tetap kuat. Perusahaan memiliki rekam jejak penerbitan obligasi di pasar domestik serta hubungan dengan sejumlah bank lokal yang telah terjalin lebih dari lima tahun. Per akhir Juni 2026, total obligasi dan sukuk Samator Indo Gas yang masih beredar mencapai sekitar Rp 740 miliar.
Fitch menegaskan peringkat Samator Indo Gas dapat tertekan apabila EBITDA net leverage bertahan di atas 3,5 kali, posisi perusahaan di pasar gas industri dan medis melemah secara signifikan, atau risiko likuiditas dan refinancing meningkat. Sebaliknya, Fitch belum melihat peluang kenaikan peringkat dalam dua tahun ke depan karena skala bisnis Samator Indo Gas masih lebih kecil dibandingkan perusahaan sejenis dengan peringkat lebih tinggi. Namun, kenaikan peringkat dapat dipertimbangkan apabila perusahaan mampu memperbesar skala bisnis secara signifikan, mempertahankan posisi pasar yang kuat, serta menurunkan EBITDA net leverage hingga di bawah 2,5 kali. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News