Fitch Rating prediksi aktivitas ekonomi Indonesia tahun ini bisa terkontraksi 2%



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lembaga pemeringkat Fitch Ratings melihat kalau pandemi Covid-19  yang masih ada di Indonesia akan membelenggu aktivitas ekonomi domestik. Lembaga tersebut memperkirakan kalau aktivitas ekonomi di Indonesia akan terkontraksi 2% pada tahun 2020.

"Kontraksi merupakan dampak dari penerapan kebijakan social distancing yang memengaruhi konsumsi dan investasi, penurunan terms of trade yang bersifat temporer, dan bahkan terhentinya arus masuk wisatawan," ujar lembaga tersebut dalam keterangan resminya, Senin (10/8).

Menurut Fitch Ratings, penurunan aktivitas ekonomi sudah terlihat dari kuartal II-2020. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal lalu terkontraksi sehingga tumbuh negatif 5,31% yoy. Ini bahkan lebih dalam daripada yang diperkirakan lembaga tersebut.


Baca Juga: Wabah corona bikin ekonomi Jawa Barat babak belur

Fitch pun menyoroti upaya pemerintah untuk terus mendorong reformasi struktural. Dalam pandangan mereka, dalam jangka menengah, berbagai upaya reformasi yang ditempuh oleh pemerintah berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi dan menarik investasi langsung asing.

Upaya besar-besaran pemerintah juga tercermin dari defisit fiskal yang melebar di tahun anggaran 2020. Akan tetapi, dalam pandangan Fitch Ratings, memang tahun ini masih ada ruang bagi kebijakan pemerintah untuk mengatasi dampak Covid-19.

"Ini disebabkan oleh kebijakan fiskal yang telah dilakukan secara hati-hati dalam beberapa tahun terakhir. Ini memberi ruang bagi kebijakan saat ini," tutur lembaga tersebut.

Baca Juga: Begini strategi Kemenperin menjaga pertumbuhan positif industri makanan dan minuman

Lebih lanjut, Fitch Ratings masih optimistis kalau pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melejit pada 2021. Bahkan, menurutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa berada di kisaran 6,6% yoy pada tahun depan.

Momentum pertumbuhan ekonomi juga diperkirakan akan berlanjut pada 2022, yaitu tumbuh 5,5% yoy, dengan ditopang oleh fokus pemerintah pada pembangunan infrastruktur.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Noverius Laoli