KONTAN.CO.ID - Lembaga pemeringkat kredit Fitch Ratings menyoroti tingginya risiko pada sekuritas yang dijaminkan dengan Bitcoin, sebuah peringatan yang berpotensi menghambat ekspansi produk kredit berbasis kripto di kalangan investor institusional. Melansir
Cointelegraph dalam kajian yang dirilis Senin (12/1/2026), Fitch menyebut sekuritas berbasis Bitcoin, instrumen keuangan yang umumnya dibentuk dengan mengumpulkan Bitcoin atau aset terkait Bitcoin lalu menerbitkan surat utang dengan jaminan aset tersebut memiliki risiko yang meningkat dan “konsisten dengan profil kredit spekulatif”.
Baca Juga: Ancaman 'Jobless Recovery': Goldman Sachs Ungkap 3 Risiko Utama 2026 Menurut Fitch, karakteristik tersebut menempatkan instrumen ini pada kategori
speculative-grade, yang mencerminkan kualitas kredit lebih lemah serta probabilitas kerugian yang lebih tinggi bagi pemberi pinjaman dan investor. Sebagai salah satu dari tiga lembaga pemeringkat kredit utama di Amerika Serikat (AS), penilaian Fitch memiliki pengaruh besar terhadap cara bank, manajer aset, dan institusi keuangan lain menilai instrumen keuangan baru, khususnya yang terkait dengan kelas aset berisiko tinggi seperti kripto. Fitch menekankan bahwa volatilitas harga Bitcoin yang inheren, ditambah risiko pihak lawan (
counterparty risk), menjadi faktor utama yang meningkatkan kerentanan sekuritas ini. Lembaga tersebut juga merujuk pada gelombang kegagalan perusahaan peminjam kripto sepanjang 2022–2023, termasuk BlockFi dan Celsius, sebagai contoh bagaimana model pembiayaan berbasis jaminan kripto dapat runtuh dengan cepat saat pasar bergejolak.
Baca Juga: Imbal Hasil Obligasi Jepang Tenor 20 Tahun Cetak Rekor Tertinggi “Volatilitas harga Bitcoin merupakan pertimbangan risiko utama,” tulis Fitch, seraya memperingatkan bahwa penurunan tajam harga Bitcoin dapat dengan cepat menggerus nilai jaminan dan memicu kerugian yang terealisasi. Fitch menjelaskan bahwa rasio coverage level, yakni perbandingan nilai jaminan Bitcoin terhadap jumlah utang yang diterbitkan, dapat jatuh di bawah ambang batas yang dipersyaratkan ketika harga Bitcoin merosot tajam. Kondisi tersebut berpotensi memicu margin call hingga likuidasi paksa. Peringatan terbaru ini menyusul sikap Fitch bulan lalu yang juga mengingatkan bank-bank di AS mengenai risiko reputasi, likuiditas, dan kepatuhan yang meningkat akibat eksposur signifikan terhadap aset digital.
Baca Juga: Nasib Samsung dan Micron Terancam: SK Hynix Perkuat Monopoli Chip AI Peran Bitcoin dalam Kredit Korporasi Bitcoin kini semakin memengaruhi profil kredit sejumlah perusahaan publik, terutama yang menerbitkan obligasi konversi atau utang beragunan untuk mendanai kepemilikan aset digital. Salah satu contoh menonjol adalah Strategy, perusahaan yang dipimpin Michael Saylor, yang telah mengakumulasi hampir 688.000 Bitcoin. Perusahaan tersebut membiayai strategi akumulasi ini melalui penerbitan obligasi konversi, utang beragunan, dan saham, sehingga neraca keuangan serta profil kreditnya menjadi sangat sensitif terhadap pergerakan harga Bitcoin.
Baca Juga: Nasib Diplomasi Iran-AS: Komunikasi Diam-diam di Tengah Ancaman Trump Namun demikian, Fitch menegaskan bahwa peringatannya lebih difokuskan pada instrumen kredit dan sekuritisasi yang pelunasannya secara langsung bergantung pada nilai jaminan Bitcoin.
Penilaian tersebut tidak mencakup produk
exchange-traded fund (ETF) Bitcoin spot, yang diklasifikasikan sebagai instrumen investasi mirip ekuitas, bukan produk kredit. Bahkan, Fitch menilai adopsi ETF Bitcoin berpotensi menciptakan basis pemegang yang lebih beragam, yang dalam jangka panjang dapat membantu meredam volatilitas harga Bitcoin saat terjadi tekanan pasar.