Fitch Revisi Harga Komoditas pada Tahun 2026, Berikut Catatan Analis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings, menaikkan asumsi harga logam dan komoditas tambang untuk tahun 2026.\

Namun, pelaku pasar diingatkan untuk tidak menjadikan revisi tersebut sebagai acuan utama dalam menentukan timing investasi.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai revisi yang dilakukan lembaga pemeringkat tersebut umumnya didasarkan pada data makro, tren permintaan, serta kondisi pasokan yang sudah terlihat di pasar.


Menurutnya, kuatnya permintaan logam untuk kebutuhan elektrifikasi, pembelian emas oleh bank sentral, hingga gangguan pasokan akibat tensi geopolitik menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga komoditas.

Baca Juga: Outlook Negatif Fitch Ratings Bebani Rupiah, Waspada Tembus Rp 17.000 per dolar AS

"Namun, sifat revisi ini cenderung lagging atau tertinggal, karena biasanya dilakukan setelah harga sudah bergerak signifikan di pasar," jelas Lukman kepada Kontan, Rabu (1/4/2026).

Artinya, kata Lukman, revisi tersebut lebih bersifat konfirmasi atas tren yang sudah terjadi, bukan prediksi ke depan, sehingga kurang relevan untuk kebutuhan timing dalam investasi atau trading.

Asal tahu saja, sejumlah komoditas mengalami revisi harga oleh Fitch Rating yang cukup signifikan. Harga tembaga misalnya, diproyeksikan naik dari sekitar US$ 9.500 menjadi US$ 11.500 per metrik ton.

Aluminium meningkat dari US$ 2.550 menjadi US$ 2.900 per metrik ton.

Sementara itu, emas diproyeksikan naik dari US$ 3.400 menjadi US$ 4.500 per ons troi, sejalan dengan meningkatnya permintaan aset safe haven. 

Adapun batubara termal diperkirakan naik dari US$ 95 menjadi US$ 110 per ton akibat gangguan pasokan, sedangkan nikel meningkat dari US$ 15.000 menjadi US$ 16.000 per metrik ton.

Baca Juga: Fitch Naikkan Asumsi Harga Komoditas, Analis Soroti Peluang Emas dan Tembaga

Di kelompok logam baterai, nikel mencatat harga aktual 2025 sebesar US$ 15.154 per ton. Namun proyeksi 2026, Fitch menaikkan asumsi harga nikel jangka pendek menjadi US$ 16.000 per ton. 

Dalam kondisi tersebut, Lukman menyarankan investor untuk mencermati sejumlah komoditas utama. Emas dinilai tetap menarik sebagai aset safe haven, sementara tembaga memiliki fundamental yang kuat dari sisi permintaan jangka panjang.

Selain itu, nikel dinilai cocok untuk strategi trading jangka pendek karena volatilitasnya yang tinggi. 

Perak juga menjadi alternatif menarik karena memiliki karakter ganda sebagai aset lindung nilai sekaligus logam industri, meskipun dengan risiko fluktuasi harga yang besar.

Lukman menekankan, strategi investasi sebaiknya tidak hanya mengacu pada revisi proyeksi dari lembaga seperti Fitch.

Investor disarankan lebih fokus pada tren makro, dinamika supply-demand, serta perkembangan geopolitik yang memengaruhi pergerakan harga komoditas secara langsung.

Pendekatan yang adaptif dan berbasis dinamika pasar dinilai menjadi kunci dalam menangkap peluang di tengah volatilitas pasar komoditas global.

Ke depan, Lukman melihat harga komoditas masih akan cenderung kuat sepanjang 2026, meskipun pergerakannya tidak selalu linear.

Untuk emas, ia memperkirakan harga berpotensi bergerak di kisaran US$ 4.000 - US$ 6.000 per ons troi, didorong oleh permintaan struktural dari bank sentral. 

Sementara itu, tembaga diproyeksikan menguat di kisaran US$ 12.000 - US$ 13.500 per metrik ton akibat ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan.

Adapun nikel diperkirakan bergerak volatil di rentang US$ 15.000 - US$ 20.000 per metrik ton, seiring sensitivitasnya terhadap kebijakan. 

Sementara batubara diproyeksikan berada di kisaran US$ 90 - US$ 130 per ton, ditopang permintaan dari kawasan Asia meski dibatasi oleh tren transisi energi global.

"Secara umum, dibanding proyeksi Fitch, pendekatan ini lebih forward-looking dengan mempertimbangkan dinamika pasar yang berkembang cepat," tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News