Fitch Turunkan Outlook Bank BUMN, Begini Efeknya ke Saham dan Fundamental Bank



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja saham bank badan usaha milik negara (BUMN) mayoritas melemah pada perdagangan Selasa (10/3/2026). Tekanan ini muncul setelah lembaga pemeringkat global Fitch Ratings merevisi outlook peringkat tiga bank Himbara menjadi negatif dari sebelumnya stabil.

Meski demikian, Fitch tetap mempertahankan peringkat (rating) ketiga bank tersebut. Bank yang outlook peringkatnya direvisi menjadi negatif adalah PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).

Pada penutupan perdagangan Selasa (10/3/2026), saham BBNI turun 0,70% ke level Rp 4.260 per saham. Padahal pada pembukaan perdagangan sahamnya sempat menguat di level Rp 4.350. Dalam sepekan terakhir, saham BBNI juga melemah 0,93%.


Baca Juga: Hadapi Geopolitik Iran-AS, Sekuritas Ini Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Investor

Sementara itu, saham BBRI ditutup turun 0,28% ke level Rp 3.560 per saham. Saham ini sempat dibuka menguat di level Rp 3.600, namun dalam sepekan terakhir terkoreksi hingga 5,57%.

Adapun saham BMRI justru ditutup menguat 1,87% ke level Rp 4.910 per saham. Pada pembukaan perdagangan sahamnya juga dibuka menguat di level Rp 4.920. Meski begitu, dalam sepekan terakhir saham BMRI masih terkoreksi 3,73%.

Dari sisi kinerja, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatat laba bersih Rp 8,9 triliun hingga Februari 2026 atau tumbuh 16,7% secara tahunan. Pertumbuhan ini ditopang oleh pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) sebesar Rp 13,7 triliun atau naik 9,16% secara tahunan.

Penyaluran kredit Bank Mandiri mencapai Rp 1.513,1 triliun atau tumbuh 15,7% secara tahunan. Pertumbuhan tersebut diikuti oleh penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) yang mencapai Rp 1.644,8 triliun atau naik 16,3% secara tahunan.

Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini mengatakan peningkatan kinerja tersebut sejalan dengan semakin aktifnya transaksi nasabah di berbagai kanal layanan digital Bank Mandiri.

“Laba bersih Bank Mandiri tumbuh 16,7% secara tahunan menjadi Rp 8,9 triliun hingga Februari 2026, seiring meningkatnya aktivitas transaksi digital masyarakat melalui Livin’ by Mandiri yang turut mendorong pertumbuhan pendapatan berbasis komisi,” ujar Novita dalam keterangan resmi, Selasa (10/3).

Dengan fundamental bisnis yang tetap kuat, Bank Mandiri optimistis dapat menjaga momentum pertumbuhan ke depan.

Baca Juga: Zurich Asuransi Indonesia Proyeksikan Premi Travel dan Kendaraan Naik Jelang Lebaran

“Ke depan, Bank Mandiri akan terus memperkuat sinergi yang terintegrasi di seluruh lini bisnis guna mendorong akselerasi pertumbuhan yang berkelanjutan sekaligus memperkuat keunggulan kompetitif perseroan,” tambah Novita.

Kinerja PT Bank Rakyat Indonesia Tbk juga menunjukkan perbaikan di awal 2026. Pada Januari 2026, laba bersih BRI mencapai Rp 3,72 triliun atau melonjak 85,39% secara tahunan dari Rp 2 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan laba tersebut ditopang oleh pendapatan bunga yang tumbuh 1,92% secara tahunan menjadi Rp 13,24 triliun. Selain itu, penyaluran kredit BRI juga meningkat 11,95% secara tahunan menjadi Rp 1.354,09 triliun pada Januari 2026.

Di sisi lain, PT Bank Negara Indonesia Tbk mencatat laba bersih bank-only sebesar Rp 1,7 triliun pada Januari 2026. Angka ini turun 2,5% secara bulanan, namun masih tumbuh 3,5% secara tahunan.

Pendapatan bunga bersih (NII) BNI tercatat meningkat 17% secara tahunan, ditopang oleh pertumbuhan kredit yang solid. Sementara margin bunga bersih (NIM) bertahan di level 3,7%. Adapun pertumbuhan kredit BNI mencapai 19% secara tahunan, meski secara bulanan melambat menjadi 1,3%.

Sebelumnya, setelah Moody’s memangkas outlook sejumlah bank besar di Indonesia, kini giliran Fitch yang menurunkan outlook bank pelat merah menjadi negatif. Langkah ini dinilai berpotensi menekan sentimen saham perbankan dalam jangka pendek.

Baca Juga: Kebijakan Dividen BBNI Dinilai Jadi Sinyal Stabilitas Masih Terjaga

Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan mengatakan penurunan outlook dari lembaga pemeringkat memang dapat meningkatkan persepsi risiko investor terhadap sektor perbankan, terutama di tengah kondisi global yang masih bergejolak.

“Pasar biasanya merespons perubahan outlook ini sebagai peningkatan persepsi risiko terhadap sektor perbankan, apalagi di tengah volatilitas pasar yang meningkat,” ujarnya kepada Kontan Selasa (10/3).

Meski demikian, Ekky menilai perubahan outlook tidak serta-merta mencerminkan penurunan fundamental bank secara langsung. Oleh karena itu, dampaknya terhadap kinerja operasional bank dinilai masih relatif terbatas.

Ia memperkirakan tekanan terhadap harga saham bank BUMN masih berpotensi terjadi dalam jangka pendek. Pasalnya, investor cenderung bersikap lebih hati-hati sambil menunggu perkembangan sentimen global maupun domestik.

Di tengah tekanan tersebut, sentimen dividen dinilai masih dapat menjadi penopang bagi saham perbankan. Bank-bank besar di Indonesia dikenal memiliki dividend yield yang relatif menarik.

“Namun dalam kondisi sentimen eksternal yang cukup kuat seperti saat ini, efek dividen kemungkinan lebih berfungsi sebagai penopang stabilitas harga dibandingkan menjadi katalis utama penguatan saham,” tambahnya.

Ke depan, arah pergerakan saham perbankan masih akan sangat dipengaruhi oleh stabilitas makro domestik, pergerakan nilai tukar rupiah, serta dinamika suku bunga global.

Menurut Ekky, jika kondisi global mulai stabil dan tekanan pasar mereda, sektor perbankan berpotensi kembali dilirik investor karena fundamentalnya yang relatif kuat, terutama dari sisi pertumbuhan kredit dan profitabilitas bank besar.

Baca Juga: Jasindo: Premi Asuransi Umum Masih Berpeluang Tumbuh Positif Tahun Ini

“Untuk saat ini outlook sektor perbankan cenderung netral. Investor sebaiknya lebih selektif dan menunggu konfirmasi stabilisasi pasar sebelum meningkatkan eksposur pada saham perbankan,” jelasnya.

Senada, Head Online Trading BCA Sekuritas, Achmad Yaki menilai revisi outlook tersebut mencerminkan kekhawatiran terhadap risiko fiskal Indonesia yang dapat berdampak pada sektor perbankan.

Menurutnya, bank-bank BUMN memiliki keterkaitan erat dengan kondisi fiskal negara sehingga perubahan outlook dapat meningkatkan persepsi risiko investor.

“Efek utamanya adalah peningkatan persepsi risiko atas bank-bank ini karena terikat erat dengan risiko fiskal negara, yang berpotensi meningkatkan biaya pendanaan atau cost of fund,” ujarnya.

Ia menambahkan, potensi pelebaran defisit fiskal hingga sekitar 2,9% pada 2026 juga dapat memicu peningkatan biaya untuk mendapatkan pendanaan valuta asing.

Meski demikian, Yaki masih melihat sejumlah saham bank tetap menarik untuk dikoleksi dengan rekomendasi berbeda.

Ia merekomendasikan buy untuk saham BBNI dengan target harga Rp 5.690, BMRI dengan target Rp 6.500, serta BBTN dengan target Rp 1.700.

Sementara saham BBRI direkomendasikan hold dengan target harga Rp 4.400. Adapun saham BBCA dinilai menarik untuk trading buy dengan target harga Rp 8.200.

Baca Juga: Bank Mandiri Taspen Perkuat Program Sosial

Dengan berbagai sentimen yang ada, pelaku pasar disarankan lebih berhati-hati dan melakukan akumulasi secara bertahap sambil menunggu stabilitas pasar keuangan global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News