KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mempertimbangkan sejumlah opsi termasuk melibatkan PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) di bawah Kemenkeu maupun Indonesia Investment Authority (INA) untuk membayar utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh. Sebagaimana diketahui, pengelolaan kewajiban utang Whoosh akan dialihkan dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) kepada Kementerian Keuangan (Kemenkeu) pada 15 September 2026. Kemenkeu juga mengambil alih 60% saham PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia yang berada di PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Manager Riset Sekretariat Nasional Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) Badiul Hadi menilai opsi pembayaran utang Whoosh melalui INA dan SMI menunjukkan pemerintah sedang mencari jalan keluar atas persoalan pembiayaan yang sejak awal di rancang proyeknya tidak benar-benar matang, terutama menyangkut pembagian risiko dan kemampuan pengembalian.
FITRA Soroti Opsi INA-SMI untuk Bayar Utang Whoosh, Risiko ke Negara
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mempertimbangkan sejumlah opsi termasuk melibatkan PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) di bawah Kemenkeu maupun Indonesia Investment Authority (INA) untuk membayar utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh. Sebagaimana diketahui, pengelolaan kewajiban utang Whoosh akan dialihkan dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) kepada Kementerian Keuangan (Kemenkeu) pada 15 September 2026. Kemenkeu juga mengambil alih 60% saham PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia yang berada di PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Manager Riset Sekretariat Nasional Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) Badiul Hadi menilai opsi pembayaran utang Whoosh melalui INA dan SMI menunjukkan pemerintah sedang mencari jalan keluar atas persoalan pembiayaan yang sejak awal di rancang proyeknya tidak benar-benar matang, terutama menyangkut pembagian risiko dan kemampuan pengembalian.