Flu Burung H5N1 Mulai Sebar di Satwa Liar Australia, Puluhan Burung Laut Mati



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Australia memperingatkan risiko penyebaran virus flu burung H5N1 yang semakin meluas setelah mencatat kejadian kematian massal pertama pada burung laut. Sekitar 50 ekor burung laut jenis greater crested tern ditemukan mati di lepas pantai selatan Adelaide akibat infeksi virus tersebut.

Meski demikian, hingga saat ini belum ditemukan bukti penyebaran virus H5N1 di peternakan unggas Australia. Sejak kasus pertama terdeteksi pada Juni lalu, banyak peternakan di negara tersebut telah menerapkan pembatasan akses dan memperketat biosekuriti untuk melindungi populasi unggas.

Menteri Pertanian Australia Julie Collins mengatakan hasil pengujian mengonfirmasi virus flu burung H5N1 pada kelompok burung laut yang terdiri dari 49 ekor burung mati dan 35 ekor burung sakit.


Burung-burung tersebut ditemukan melalui pemantauan menggunakan helikopter di bebatuan lepas pantai Cape Jaffa, sekitar 250 kilometer dari Adelaide, pada Jumat (31/7/2026).

Baca Juga: Yield US Treasury 10 Tahun Turun, Didukung Harapan Perundingan Perdamaian dengan Iran

"Masyarakat Australia harus bersiap melihat penyebaran yang lebih luas dan jumlah satwa liar yang terdampak semakin banyak," ujar Collins kepada wartawan di Canberra, ibu kota Australia.

Ia menambahkan bahwa insiden tersebut merupakan kejadian kematian massal pertama yang telah terkonfirmasi akibat H5N1 di negara itu.

"Ini adalah kasus pertama yang terkonfirmasi sebagai kematian massal. Ketika flu burung H5 mulai menyebar di satwa liar dan lingkungan alami, tidak mungkin menghindari kerugian yang signifikan. Itulah yang mulai kita saksikan sekarang," katanya.

Menurut Collins, hingga saat ini Australia telah mencatat 74 kasus terkonfirmasi H5N1 yang tersebar di sejumlah wilayah, mulai dari Australia Barat hingga Queensland. Namun sebagian besar kasus masih terkonsentrasi di negara bagian Australia Selatan.

Baca Juga: Bank Terbesar Jepang Nikmati Era Suku Bunga Tinggi, Laba Melonjak 48%

Australia bersama Selandia Baru, yang melaporkan kasus H5N1 pertamanya bulan lalu, telah bertahun-tahun mempersiapkan diri menghadapi ancaman virus tersebut.

Berbagai langkah telah dilakukan, mulai dari memperketat biosekuriti di peternakan, meningkatkan pengujian terhadap burung pantai, memberikan vaksin kepada spesies yang rentan, hingga melakukan simulasi penanganan wabah.

Dalam beberapa tahun terakhir, virus H5N1 telah menyebabkan kematian ratusan juta burung dan mamalia di berbagai negara. Wabah ini juga menimbulkan kerugian miliaran dolar AS bagi industri perunggasan, menginfeksi sapi di Amerika Serikat, serta menyebabkan banyak bangkai burung dan anjing laut ditemukan di sepanjang garis pantai.

Virus flu burung H5N1 juga dapat menginfeksi manusia yang melakukan kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi. Namun, jumlah kasus pada manusia di seluruh dunia masih tergolong sedikit dan para pejabat kesehatan menilai risiko penularannya kepada masyarakat umum tetap rendah.