KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Literasi keuangan menjadi bekal penting bagi generasi muda untuk mengelola uang, memahami risiko, dan mengambil keputusan finansial secara bijak. Penguatan literasi ini turut mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing. Penguatan literasi keuangan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan regulator, tetapi juga membutuhkan peran aktif pelaku usaha di sektor keuangan. Melalui edukasi yang berkelanjutan, pelaku industri dapat membantu masyarakat memahami produk keuangan, mengenali risiko, serta mengambil keputusan finansial secara bijak dan bertanggung jawab. Pengamat BUMN Toto Pranoto menilai, keterlibatan dunia usaha dalam edukasi keuangan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengelola keuangan. Perusahaan jasa keuangan, termasuk sektor nonbank, berperan membantu masyarakat memahami manfaat dan risiko berbagai produk keuangan.
“Perusahaan yang bergerak di sektor jasa keuangan nonbank memiliki peluang untuk berkontribusi dalam meningkatkan literasi keuangan publik. Dengan demikian, masyarakat dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai layanan keuangan, termasuk manfaat dan risiko yang menyertainya,” ujar Toto dalam keterangannya, Kamis (29/10/2026).
Baca Juga: Bank Mandiri Akan Melepas 20% Saham Inhealth ke IFG Life, Nilainya Rp 570 Miliar Menurutnya, penguatan literasi keuangan perlu menyesuaikan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri. Edukasi sejak dini penting untuk membentuk kebiasaan finansial yang sehat sekaligus meningkatkan pemahaman generasi muda terhadap risiko keuangan di era digital. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) OJK 2024, tingkat literasi keuangan kelompok usia 15–17 tahun baru mencapai 51,70%, di bawah rata-rata nasional sebesar 65,43%. Sementara itu, tingkat inklusi keuangan kelompok tersebut mencapai 85,10%. Kesenjangan ini menunjukkan pentingnya mengimbangi akses layanan keuangan dengan pemahaman yang memadai mengenai manfaat, risiko, dan penggunaannya. Salah satu upaya menjawab tantangan tersebut dilakukan Indonesia Financial Group (IFG melalui program IFG Goes to School yang berkolaborasi dengan Sekolah Alam Bogor dan Jaringan Sekolah Alam Nusantara. Menggunakan metode game-based learning, program ini membekali siswa dengan pemahaman tentang pengelolaan keuangan, risiko finansial di era digital, serta pentingnya proteksi dan manajemen risiko.
Baca Juga: IFG Life Perkuat Layanan dan Perluas Akses Proteksi Selain melalui edukasi di sekolah, IFG memperluas literasi keuangan melalui kegiatan publik yang menekankan pentingnya perlindungan risiko. Salah satunya melalui kegiatan tahunan untuk memperingati Hari Asuransi, yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap peran asuransi dalam perencanaan keuangan dan perlindungan dari berbagai risiko.
IFG juga berpartisipasi dalam Jogja Financial Festival 2026 untuk memperluas edukasi mengenai pengelolaan keuangan dan pentingnya perencanaan keuangan jangka panjang. Sekretaris Perusahaan IFG Denny S. Adji mengatakan, literasi keuangan menjadi salah satu faktor penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat sekaligus mendukung keberlanjutan industri jasa keuangan nasional. “IFG bersama anggota holding terus memperkuat komitmen dalam meningkatkan literasi dan inklusi keuangan masyarakat, khususnya pada sektor asuransi, penjaminan, dan investasi. Kami meyakini bahwa pemahaman yang baik mengenai pengelolaan keuangan dan perlindungan risiko dapat membantu masyarakat mengambil keputusan keuangan secara lebih bijak sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi,” ujar Denny. Ke depan, sinergi pemerintah, lembaga pendidikan, dunia usaha, dan industri jasa keuangan diperlukan untuk memperluas jangkauan edukasi. Penguatan literasi sejak dini diharapkan membekali generasi muda dengan kemampuan mengelola keuangan secara bertanggung jawab dan menghadapi risiko ekonomi di masa depan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News