Fondasi Lebih Kuat, Buma Internasional (DOID) Targetkan Pemulihan Kinerja Tahun Ini



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID) berkomitmen untuk mengejar pertumbuhan bisnis lebih solid tahun 2026 baik seara organik maupun anorganik. Perusahaan mengklaim punya fondasi operasional yang lebih kuat, neraca keuangan yang lebih tangguh, serta basis kontrak yang lebih terjamin memasuki tahun ini.

Direktur BUMA International Group, Iwan Fuad Salim mengatakan, pihaknya telah memiliki prioritas untuk dijalankan tahun. Diantaranya mendorong keunggulan operasional, menjaga disiplin biaya dan belanja modal, dan memperkuat pengelolaan kas.

“Kami juga akan mewujudkan pemulihan menjadi kinerja keuangan yang konsisten, sembari mengejar pertumbuhan yang lebih baik seara organik maupun anorganik,” kata Iwan dalam keterangannya, Minggu (29/3).


Sepanjang 2025, kinerja DOID tertekan oleh gangguan operasional, cuaca buruk, serta berakhirnya sejumlah kontrak, ditambah beban non-operasional seperti penyisihan piutang dan penurunan nilai aset di Australia dan Amerika Serikat (AS), yang sebagian tertopang oleh keuntungan nilai wajar US$41 juta dari investasi di 29Metals.

Namun, kinerja berangsur pulih sepanjang tahun lewat peningkatan produktivitas dan efisiensi biaya. Arus kas tetap positif—mencapai puncak di kuartal IV—dan likuiditas menguat, sehingga posisi keuangan memasuki 2026 lebih solid.

Baca Juga: BUMA Internasional (DOID) Raih Perpanjangan Kontrak di Tambang Blackwater

“Kami merespons dengan memperketat disiplin operasional, memperkuat pengendalian biaya dan pemeliharaan, serta mengambil langkah tegas untuk menjaga likuiditas dan memperkuat neraca. Upaya ini mendorong perbaikan produktivitas, efisiensi biaya, dan arus kas, sekaligus menjadi fondasi yang lebih solid memasuki 2026,” tutur Iwan. 

Volume overburden removal turun 19% YoY menjadi 439 juta BCM, sementara produksi batu bara turun 6% menjadi 84 juta ton. Penurunan ini mencerminkan gangguan pada kuartal I, cuaca buruk, serta berkurangnya kontribusi dari site yang mengalami ramp-down dan yang telah selesai beroperasi.

Pendapatan turun 16% YoY menjadi US$ 1,48 miliar akibat penurunan volume, sementara ASP relatif stabil (-1% YoY) berkat porsi kontrak rise-and-fall yang lebih tinggi. EBITDA tercatat US$ 175 juta dengan margin 14%, tertekan volume yang lebih rendah, biaya pesangon, dan kenaikan harga bahan bakar. Tanpa biaya pesangon, EBITDA mencapai US$ 207 juta dengan margin 17%.

Buma Internasional tahun lalu membukukan rugi bersih US$ 128 juta, dipicu penurunan EBITDA, penyisihan piutang dari kontrak Australia yang telah berakhir, serta penurunan nilai aset di Australia dan AS. 

Dampak ini sebagian diimbangi oleh keuntungan nilai wajar US$ 41 juta dari investasi di 29Metals, keuntungan selisih kurs US$36 juta, serta pembalikan pencadangan piutang di Australia pascaputusan Mahkamah Agung Queensland yang memenangkan BUMA Australia, dengan penyelesaian keuangan ditargetkan pada 2026.

Baca Juga: Ada Perbaikan Kinerja BUMA Internasional Secara Kuartalan

Arus kas bebas berbalik positif menjadi US$8 juta dari negatif US$60 juta pada 2024, dengan kontribusi terbesar pada 4Q25 sebesar US$ 57 juta. Belanja modal tetap disiplin di US$ 179 juta, relatif stabil YoY, dengan alokasi seimbang antara kebutuhan pemeliharaan dan pertumbuhan.   Secara operasional, kinerja membaik bertahap sepanjang tahun. Overburden removal meningkat dari 76 MBCM pada 1Q25 menjadi 79 MBCM pada 4Q25, didorong perbaikan perencanaan, disiplin operasional, maintenance, dan penyelesaian bottleneck. Dari Januari 2025 hingga Januari 2026, jam kerja alat naik 6%, downtime turun 31%, jam non-produktif turun 17%, dan cycle time membaik 3%. Perbaikan ini menurunkan biaya unit dari US$2,22/BCM menjadi US$1,83/BCM

Di tingkat Grup, berbagai perbaikan mendorong penguatan kinerja keuangan secara bertahap. EBITDA meningkat signifikan dari US$14 juta pada 1Q25 menjadi US$48 juta pada 4Q25, mencerminkan pemulihan yang konsisten sepanjang tahun. Sepanjang 2025, lanjut Iwan, Grup aktif memperkuat likuiditas dan memperpanjang profil jatuh tempo utang. Pada Februari, BCA bergabung dengan BNI dan Bank Mandiri dalam fasilitas sindikasi US$1 miliar, memperluas sumber pendanaan.

Selanjutnya, pada Maret, Grup menerbitkan Sukuk Ijarah US$ 121,7 juta, menjadi penerbitan Sukuk Ijarah Korporasi Syariah berperingkat A+ terbesar dalam satu kali penerbitan di Indonesia. Pada Oktober, diterbitkan Obligasi III BUMA 2025 senilai Rp884 miliar (US$53,8 juta). Kemudian pada November, Grup melunasi lebih awal Senior Notes senilai US$212 juta, meningkatkan fleksibilitas struktur modal. Secara keseluruhan, langkah ini menghasilkan profil utang yang lebih seimbang.

Grup mengamankan tiga kontrak besar tahun lalu hingga awal 2026, termasuk perpanjangan kontrak BUMA Australia dan kontrak jangka panjang dengan PT Adaro Indonesia hingga 2030. Di saat yang sama, diversifikasi diperkuat melalui investasi di sektor tembaga dan antrasit di Australia, AS, dan Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News