Formosa Ingredient Factory (BOBA) Kejar Pendapatan Rp 200 Miliar hingga Akhir 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  PT Formosa Ingredient Factory Tbk (BOBA) optimistis dapat menjaga tren pertumbuhan kinerja hingga akhir tahun 2026. 

Perusahaan membidik pendapatan sebesar Rp 200 miliar pada tahun ini atau tumbuh sekitar 19% dibandingkan realisasi tahun 2025.

Direktur Utama BOBA Yunita mengatakan, perseroan masih percaya diri dapat mencapai target tersebut. Hingga Juni 2026, realisasi pendapatan dan laba bersih telah mencapai sekitar 50% dari target yang ditetapkan.


"Perseroan masih optimis untuk mencapai target yang ditentukan hingga akhir 2026. Pencapaian pendapatan dan laba bersih hingga Juni 2026 berkisar 50% dari target. Oleh karena itu, Perseroran yakin untuk melampaui target tersebut," ujar Yunita kepada Kontan.co.id, Jumat (24/7) lalu.

Baca Juga: Realisasi Penerimaan Pungutan Ekspor Sawit Tembus Rp 21 Triliun pada Semester I 2026 Merujuk laporan keuangan perusahaan, BOBA mencatat penjualan sebesar Rp 100,63 miliar pada semester I-2026, naik 20,17% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 83,74 miliar. Seluruh pendapatan perusahaan pada periode ini berasal dari penjualan makanan dan minuman.

Hingga akhir Juni 2026, laba tahun berjalan perusahaan mencapai Rp 10,80 miliar, meningkat 31,71% dibandingkan Rp 8,20 miliar pada semester I-2025

Untuk menopang pertumbuhan pada semester II-2026, BOBA mengandalkan pengembangan portofolio produk melalui inovasi dan peluncuran produk baru yang mengikuti tren pasar.

Salah satu yang menjadi fokus utama adalah pengembangan kategori produk puree, serta penambahan berbagai varian rasa (flavor) yang sedang diminati konsumen. 

“Melalui inovasi produk dan perluasan kategori tersebut, Perseroan optimistis dapat memperkuat daya saing, memperluas pangsa pasar, dan menjadi pendorong utama pertumbuhan bisnis BOBA,” tambahnya.

Meski demikian, BOBA tetap mencermati sejumlah tantangan pada paruh kedua tahun ini. Ketidakpastian kondisi perekonomian dinilai berpotensi memengaruhi harga bahan baku, rantai pasok, daya beli masyarakat, hingga perubahan preferensi konsumen.

Karena itu, Perseroan akan terus menerapkan strategi yang adaptif dan prudent, termasuk menjaga efisiensi operasional, mengoptimalkan pengelolaan rantai pasok, serta mempercepat inovasi produk agar tetap relevan dengan kebutuhan pasar. 

Dari sisi investasi, BOBA mengalokasikan belanja modal (capex) sekitar Rp 23 miliar pada tahun 2026. Hingga semester I-2026, realisasi capex telah mencapai 57,31%.

Yunita mengatakan, sebagian besar pengembangan telah dilakukan pada semester pertama, sedangkan semester kedua akan difokuskan pada tahap penyelesaian proyek yang telah berjalan.

BOBA juga menyiapkan sejumlah inisiatif untuk memperkuat pertumbuhan pada sisa tahun ini.

Perseroan berencana meluncurkan produk baru beserta pembaruan desain kemasan, meningkatkan kapasitas produksi melalui fasilitas baru, serta memperkuat jaringan distribusi.

“Fasilitas baru diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi dan mendukung rencana pertumbuhan Perseroan di masa mendatang,” tandasnya. 

Baca Juga: Kalender Event ICE BSD Kian Padat, GIIAS hingga Trade Expo Digelar Semester II-2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News