JAKARTA. Nuraini Koordinator Forum Honorer Indonesia (FHI), yang juga berprofesi sebagai guru di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Talang, Tegal, mendatangi DPR RI guna mengadukan nasibnya. “Ketika pemerintah memberlakukan UMR untuk buruh, ketika pegawai negeri bergaji penuh. Ketika guru negeri dan swasta pesta sertifikasi secara riuh. Nun jauh di sana para tenaga honorer yang bekerja di instansi pemerintah masih mengeluh para guru honorer di sekolah negeri masih mengaduh karena gaji mereka hanya Rp 500 ribu, Rp 400 ribu, Rp 300, Rp 200 ribu, Rp 100 ribu bahkan Rp 50 ribu,” ujar Ani saat konferensi pers, di Gedung DPR Nusantara III, Rabu (13/4). Ia pun menjelaskan jika selama ini guru honorer dibagi atas dua yaitu yang dibiayai oleh APBN/APBD dan non APBN/APBD dan dirinya merupakan salah satu guru yang non APBN/APBD. Bukan hanya itu, pasalnya menurut Nuraini ada sekitar 600 ribu guru honorer di seluruh Indonesia yang bernasib sama sepertinya. “Ada 600 ribuan yang non APBN/APBD. Guru-guru honorer itu gajinya dibayar dari dana BOS yang diterima setiap daerah dan uang kas dari sekolah tersebut,” imbuhnya.
Forum honorer akan gelar aksi demo besar-besaran
JAKARTA. Nuraini Koordinator Forum Honorer Indonesia (FHI), yang juga berprofesi sebagai guru di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Talang, Tegal, mendatangi DPR RI guna mengadukan nasibnya. “Ketika pemerintah memberlakukan UMR untuk buruh, ketika pegawai negeri bergaji penuh. Ketika guru negeri dan swasta pesta sertifikasi secara riuh. Nun jauh di sana para tenaga honorer yang bekerja di instansi pemerintah masih mengeluh para guru honorer di sekolah negeri masih mengaduh karena gaji mereka hanya Rp 500 ribu, Rp 400 ribu, Rp 300, Rp 200 ribu, Rp 100 ribu bahkan Rp 50 ribu,” ujar Ani saat konferensi pers, di Gedung DPR Nusantara III, Rabu (13/4). Ia pun menjelaskan jika selama ini guru honorer dibagi atas dua yaitu yang dibiayai oleh APBN/APBD dan non APBN/APBD dan dirinya merupakan salah satu guru yang non APBN/APBD. Bukan hanya itu, pasalnya menurut Nuraini ada sekitar 600 ribu guru honorer di seluruh Indonesia yang bernasib sama sepertinya. “Ada 600 ribuan yang non APBN/APBD. Guru-guru honorer itu gajinya dibayar dari dana BOS yang diterima setiap daerah dan uang kas dari sekolah tersebut,” imbuhnya.