Forum Keamanan ASEAN Dimulai, Perang Timur Tengah dan Laut China Selatan Jadi Sorotan



KONTAN.CO.ID - Para menteri luar negeri dan diplomat senior dari Asia, Eropa, serta Amerika Utara berkumpul di Manila, Filipina, pada Kamis (23/7/2026) dalam ASEAN Regional Forum (ARF) untuk membahas berbagai isu keamanan global, dengan konflik Timur Tengah dan ketegangan di Laut China Selatan menjadi agenda utama.

Mengutip Reuters, pertemuan yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) itu diperkirakan akan menghasilkan seruan bersama agar konflik di Timur Tengah diselesaikan melalui jalur damai.

Baca Juga: Bursa Korea Selatan Melonjak 3% Hari Ini, Ditopang Ledakan Ekspor Chip dan Belanja AI


Perang yang kembali memanas antara Iran dan Amerika Serikat, serta blokade di Selat Hormuz, diperkirakan mendominasi pembahasan dalam sidang pleno forum tersebut.

Pertemuan dihadiri oleh Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas, serta pejabat tinggi dari China, Jepang, Korea Selatan, Australia, India, Inggris, dan sejumlah negara lainnya.

Bagi ASEAN, konflik tersebut memiliki dampak besar karena kawasan dengan produk domestik bruto (PDB) gabungan sekitar US$ 3,8 triliun itu sangat bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah. Gangguan pasokan energi telah meningkatkan tekanan inflasi di berbagai negara.

Wakil Menteri Luar Negeri China Hua Chunying mengatakan dunia kini memasuki periode baru yang penuh gejolak.

"Dunia telah memasuki periode baru yang penuh gejolak dan perubahan. Situasi di Timur Tengah telah merembet ke rantai pasok energi dan pangan, mengganggu keamanan dan ketahanan. Kebutuhan untuk menjaga perdamaian dan stabilitas menjadi semakin mendesak," ujar Hua dalam forum ASEAN Plus Three yang melibatkan ASEAN, China, Jepang, dan Korea Selatan.

Baca Juga: Mata Uang Asia Bergerak Terbatas Kamis (23/7), Won Korea Selatan Menguat Paling Besar

Hingga kini, sudah 12 hari sejak gencatan senjata di Timur Tengah runtuh. Militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap Iran untuk malam ke-12 berturut-turut.

Di saat yang sama, kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim telah menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi sebagai bagian dari blokade di Laut Merah.

Situasi tersebut meningkatkan risiko terganggunya pasokan minyak global melalui dua jalur pelayaran strategis, yakni Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb.

Rubio bertemu Lavrov

Di sela-sela forum, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dijadwalkan bertemu dengan Menlu Rusia Sergei Lavrov untuk membahas perang di Ukraina.

Rubio mengatakan, Washington tetap menginginkan penyelesaian diplomatik terhadap konflik dengan Iran.

"Masalah yang kami hadapi saat ini adalah mereka tidak serius dalam perundingan," kata Rubio kepada para menteri ASEAN.

Baca Juga: Thailand Perketat Aturan Transaksi Emas, Pembayaran Tunai Bakal Dibatasi

Laut China Selatan juga menjadi perhatian

Selain konflik Timur Tengah, ketegangan di Laut China Selatan kembali menjadi salah satu fokus utama pembahasan.

Hubungan antara China dan Filipina kembali memanas setelah terjadi insiden singkat antara penjaga pantai China dan personel Angkatan Laut Filipina di dekat sebuah karang yang disengketakan di zona ekonomi eksklusif (ZEE) Filipina pada Senin (20/7).

Insiden tersebut mendorong kedua negara saling memanggil duta besar masing-masing.

China mengklaim hampir seluruh wilayah Laut China Selatan melalui garis sembilan putus-putus (nine-dash line), termasuk area yang juga diklaim oleh Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Vietnam.

Beijing juga tetap menolak putusan arbitrase internasional tahun 2016 yang menyatakan klaim tersebut tidak memiliki dasar hukum berdasarkan hukum internasional.

Baca Juga: Lapangan Kerja Australia Melonjak pada Juni, Tingkat Pengangguran Tetap 4,4%

Dalam pertemuan dengan para menteri luar negeri ASEAN pada Rabu (22/7), Menteri Luar Negeri China Wang Yi menyebut Laut China Selatan sebagai "rumah bersama" kawasan.

Menurut Wang, negara-negara regional perlu menolak campur tangan kekuatan luar dan menjaga stabilitas kawasan melalui kerja sama antarnegera di Asia.