KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lonjakan ketegangan geopolitik di Timur Tengah menyusul serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran mendorong investor global memburu aset safe haven. Dampaknya, franc Swiss melonjak ke level terkuat dalam lebih dari satu dekade terhadap euro, sementara dolar AS menguat ke posisi tertinggi dalam lima minggu pada perdagangan Senin (2/3/2026). Franc Swiss tercatat naik 0,7% terhadap euro ke level 0,9030—terkuat sejak 2015—pada awal sesi Asia. Mata uang ini juga menguat hingga 0,4% terhadap dolar AS ke posisi 0,7661.
Sementara itu, indeks dolar—yang mengukur kekuatan greenback terhadap franc, euro, dan empat mata uang utama lainnya—naik hingga 0,3% ke level 98,273, tertinggi sejak 23 Januari.
Dampak Geopolitik: Suksesi Kekuasaan di Iran
Serangan tersebut dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memicu perebutan suksesi berisiko tinggi di Teheran. Ketegangan berlanjut hingga Senin setelah Iran melakukan serangan balasan. Garda Revolusi Iran mengklaim telah menyerang tiga kapal tanker minyak milik AS dan Inggris. Ledakan juga dilaporkan terjadi di berbagai wilayah, termasuk Israel, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, dan Kuwait.
Baca Juga: Perang Iran vs AS-Israel Ganggu Pasokan Minyak ke Negara-Negara Asia Ketidakpastian meningkat, terutama terkait potensi penutupan Selat Hormuz—jalur vital perdagangan energi global. “Tidak ada yang tahu berapa lama konflik ini akan berlangsung, seberapa tinggi harga minyak akan naik, atau berapa lama Selat Hormuz akan ditutup,” ujar Jason Wong, analis strategi di BNZ Wellington.
Harga Minyak Melonjak, Yen Melemah
Harga minyak menjadi fokus utama pasar dan sempat melonjak sekitar 9% pada awal perdagangan Senin akibat gangguan perdagangan laut. Namun setelah penguatan awal sebagai aset safe haven, yen Jepang justru melemah 0,6% ke level 157 per dolar AS. Investor mulai mempertimbangkan dampak lonjakan harga energi terhadap impor minyak Jepang dan implikasinya terhadap kebijakan Bank of Japan. Analis Morgan Stanley MUFG menilai peluang kenaikan suku bunga dalam waktu dekat semakin kecil. “Di tengah meningkatnya ketidakpastian akibat situasi Timur Tengah, BOJ kemungkinan akan mengambil sikap lebih hati-hati,” tulis mereka dalam laporan riset.
Mata Uang Negara Energi Menguat
Mata uang Norwegia menguat 0,7% terhadap dolar AS, sementara dolar Kanada relatif stabil—didukung status kedua negara sebagai eksportir energi. Sebaliknya, euro melemah 0,8% ke US$1,172525 karena potensi gangguan pasokan energi ke Eropa. Poundsterling juga turun 0,9% ke US$1,3372. Presiden Siprus mengungkapkan bahwa pangkalan Angkatan Udara Kerajaan Inggris di RAF Akrotiri menjadi target drone Shahed, meski hanya menyebabkan kerusakan ringan tanpa korban jiwa. Menurut analis Wells Fargo, euro berada dalam posisi sulit. “Musim pengisian cadangan gas Eropa segera dimulai, namun persediaan saat ini berada di rekor terendah. Uni Eropa perlu membeli energi dalam jumlah besar saat harga berpotensi melonjak,” tulis mereka.
Baca Juga: Kontrak Berjangka Wall Street Anjlok, Konflik Timteng Picu Lonjakan Emas dan Minyak Dampak ke Mata Uang Asia-Pasifik
Dolar Australia yang sensitif terhadap risiko anjlok hingga 1,2% terhadap dolar AS, sementara dolar Selandia Baru turun hingga 0,8%. Yuan offshore China juga melemah 0,3% ke level 6,8801 per dolar, setelah People's Bank of China menetapkan kurs referensi harian yang lebih lemah guna menahan apresiasi mata uang domestik. China diketahui merupakan importir energi utama dan pembeli terbesar minyak Iran.
Konflik Meluas ke Lebanon
Israel dilaporkan memperluas operasi militernya dengan menargetkan militan Hezbollah yang didukung Iran di Lebanon. Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Daily Mail bahwa kampanye militer tersebut bisa berlangsung sekitar satu bulan. “Kami memperkirakan sekitar empat minggu. Memang sejak awal dirancang sebagai proses empat minggu,” ujarnya. Ketegangan yang terus meningkat ini memperkuat sentimen risk-off di pasar global, sekaligus menyoroti kerentanan ekonomi dunia terhadap gejolak geopolitik dan gangguan pasokan energi.