Freeport Kembali Operasikan Smelter Gresik, Produksi Tembaga Digenjot



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Freeport Indonesia (PTFI) kembali mengoperasikan smelter barunya di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) JIIPE, Gresik, Jawa Timur. Fasilitas pemurnian tembaga tersebut mulai memasuki fase peningkatan produksi setelah kembali memperoleh pasokan konsentrat pada Agustus 2026.

Direktur Utama PT Freeport Indonesia Tony Wenas mengatakan, proses produksi di smelter baru PTFI akan memasuki tahap peningkatan produksi atau ramp up. Pada September 2026, produksi katoda tembaga dari fasilitas tersebut ditargetkan mencapai sekitar 5.000 ton.

"Baru di bulan Agustus lalu feeding-nya ke smelter baru Freeport Indonesia itu mulai, dan mulai bisa diproduksi di bulan September ini dengan sekitar 5.000 ton katoda tembaga," jelasnya dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen, dikutip Jumat (18/9/2026).


Dengan kembali beroperasinya smelter baru tersebut, PTFI memperkirakan produksi tembaga sepanjang 2026 dari dua fasilitas pemurnian mencapai sekitar 800 juta pound.

Baca Juga: Gapmmi Pertahankan Target Pertumbuhan Industri Mamin 6,5% pada 2026

Produksi tersebut berasal dari PT Smelting sebesar 600 juta pound dan smelter baru PTFI sebesar 200 juta pound.

"Jadi total tahun 2026 ini seperti saya sampaikan tadi ada 800 juta pound tembaga yang akan dihasilkan dari dua smelter, yaitu PT Smelting sebesar 600 juta pound dan juga dari smelter PTFI yaitu 200 juta pound tembaga," ujar Tony dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen, dikutip Jumat (18/9/2026).

Produksi emas dan perak Freeport

Selain menghasilkan tembaga, operasional kedua smelter juga menghasilkan logam mulia berupa emas dan perak.

Tony memperkirakan produksi emas PTFI pada 2026 mencapai sekitar 700.000 ounces. Jika dikonversikan ke dalam satuan ton, jumlah tersebut setara dengan kurang lebih 21 ton emas.

Sementara itu, fasilitas Precious Metal Refinery (PMR) yang berada di kompleks smelter PTFI diproyeksikan menghasilkan sekitar 103 ton perak batangan sepanjang tahun ini.

Produksi emas dan perak tersebut merupakan bagian dari hasil pemurnian konsentrat tembaga yang diproses di fasilitas PTFI.

"Dan akan dihasilkan juga emas sebesar kira-kira 700.000 ounces yang kalau ditonasekan 21 ton, dan juga ada perak batangan yang akan dihasilkan dari precious metal refinery yang berlokasi di dalam smelter PTFI itu sebesar 103 ton," kata Tony.

Smelter Freeport hasilkan produk samping

Selain logam, proses pengolahan dan pemurnian konsentrat tembaga di kedua fasilitas PTFI juga menghasilkan sejumlah produk samping.

PTFI memperkirakan produksi asam sulfat dari PT Smelting dan smelter baru PTFI mencapai sekitar 1,4 juta ton sepanjang 2026.

Baca Juga: Impor Baja Galvanis China Capai 2,07 Juta Ton, Komite Anti Dumping Mulai Selidiki

Di sisi lain, produksi copper slag atau terak tembaga diperkirakan mencapai sekitar 900.000 ton.

Produk-produk tersebut menjadi bagian dari hasil samping proses pengolahan dan pemurnian konsentrat tembaga yang dilakukan melalui smelter PTFI dan PT Smelting.

Smelter Freeport sempat berhenti beroperasi

Sebelumnya, PTFI mengungkapkan smelter baru di Gresik telah kembali beroperasi pada Mei 2025. Namun, aktivitas produksi kemudian kembali terhenti setelah terjadi longsor di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave, Papua.

Insiden tersebut menyebabkan pasokan konsentrat tembaga ke fasilitas pemurnian di Gresik terhenti sehingga memengaruhi operasional smelter.

Smelter baru PTFI yang berada di Gresik memiliki kapasitas pengolahan hingga 1,7 juta ton konsentrat tembaga per tahun.

Sementara itu, PT Smelting juga meningkatkan kapasitas pengolahan sebesar 300.000 ton konsentrat per tahun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News