Frekuensi Lelang SRBI Dikurangi, BI Jaga Likuiditas Tetap Terukur



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) mengurangi frekuensi lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menjadi sekitar 1 dalam satu minggu, dari sebelumnya sekitar 2-3 kali dalam seminggu.

Deputi Gubernur Senior BI Aida S Budiman mengatakan, penyesuaian frekuensi lelang SRBI tersebut merupakan bagian dari pengelolaan operasi moneter dan dapat dievaluasi sesuai dengan kebutuhan.

"Langkah ini kita lakukan untuk pengelolaan operasi moneter dan sesuai dengan keperluannya. Selalu bisa dievaluasi," ujar Aida kepada Kontan, Kamis (10/9/2026).


Baca Juga: Defisit APBN 0,91% dari PDB per Juli 2026, Menkeu: Masih Terkendali

Dalam kesempatan berbeda, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia Erwin Gunawan Hutapea menjelaskan, penyesuaian jadwal lelang SRBI dilakukan sejalan dengan kebijakan BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan kecukupan likuiditas guna mendukung pertumbuhan ekonomi.

"Sejalan dengan kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan kecukupan likuiditas untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, Bank Indonesia melakukan kalibrasi dalam pengelolaan likuiditas melalui operasi moneter," ujar Erwin.

Menurut Erwin, jadwal lelang SRBI telah disesuaikan sejak Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada Agustus 2026. Dari yang sebelumnya dilakukan sekali dalam seminggu, kini lelang SRBI dilakukan sekali dalam dua minggu.

Baca Juga: Terbitkan Inpres 11/2026, Prabowo Perketat Pembukaan Lahan dengan Cara Membakar

Sejalan dengan penyesuaian tersebut, outstanding SRBI juga telah menurun. Erwin mencatat, posisi outstanding SRBI saat ini sebesar Rp 1.037 triliun, turun dari posisi sebelumnya yang sempat mencapai Rp 1.096 triliun.

Meski demikian, Erwin menegaskan bahwa kalibrasi pengelolaan likuiditas dilakukan secara gradual dan terukur dengan tetap memperhatikan stabilitas nilai tukar.

"Termasuk implementasi kebijakan insentif pada instrumen lindung nilai (swap dan DNDF) untuk menjaga daya tarik aset rupiah terhadap investor asing," jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News