FREN siap bundel saham & rights issue



JAKARTA. PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) meneruskan rencana membundel saham atau reverse stock split. Rencana aksi ini telah mendapat persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa, Rabu (18/1).

FREN menetapkan rasio reverse stock sebesar 20:1. Ini berarti sebanyak 20 saham akan dibundel menjadi satu saham. “Kami mencoba mencari titik teoritis yang baru. Itu pertimbangan untuk menentukan rasio 20:1. Harga saham perseroan saat ini adalah harga yang terendah di pasar. Kami berharap dengan rasio itu nanti ada volume perdagangan yang baru,” kata Antony Susilo, Direktur Keuangan FREN.

Dengan reverse stock split tersebut, nilai nominal saham seri A menjadi Rp 2.000 per saham dari sebelumnya Rp 100 per saham. Sedangkan nilai nominal saham seri B menjadi Rp 1.000 per saham dari semula Rp 50 per saham. Adapun harga saham FREN di pasar akan berubah dari 50 perak saat ini menjadi Rp 1.000 per saham.


Pemegang saham yang kepemilikan sahamnya menjadi kurang dari 1 lot perdagangan atau odd lot akibat aksi ini tak perlu khawatir. PT Global Nusa Data akan membeli odd lot tersebut dengan metode perhitungan pembulatan ke atas.

Rights issue

FREN berencana mendaftarkan rencana reverse stock itu kepada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia dalam waktu satu hingga dua minggu mendatang. Adapun harga baru saham FREN di pasar ditargetkan mulai efektif pada 16 Februari 2011.

Setelah reverse stock, FREN juga akan menerbitkan saham baru sebanyak 13,36 miliar saham seri C dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) alias rights issue. Setiap pemegang saham seri A dan seri B berhak atas dua HMETD. Satu HMETD berhak untuk membeli satu saham seri C. “Jumlah tersebut sekitar 60% dari modal disetor perseroan,” kata Antony. Pemilik saham seri A dan seri B yang tak mengeksekusi HMETD bisa terdilusi maksimum 66,7%.

Saham seri C tersebut ditawarkan dengan harga Rp 100 per saham. Harga ini terpaut jauh dari harga baru saham FREN setelah aksi pembundelan saham, yakni hanya sepersepuluhnya. Antony menyebutkan, selisih harga tersebut akan menarik minat pemegang saham perusahaan untuk melaksanakan HMETD. Dengan perbedaaan harga itu, FREN juga berharap terjadi permintaan dan penawaran di pasar sehingga aktivitas perdagangan bisa terjadi. “Nantinya pasar yang akan menentukan harga,” kata Antony.

Arief Fahruri, analis Mega Capital Indonesia, menilai, dengan reverse stock split, jumlah saham FREN yang beredar di pasar akan semakin sedikit. Meski demikian, saham FREN bisa saja menjadi likuid di pasar dengan adanya tambahan saham baru hasil rights issue. ”Saham FREN akan likuid apabila seluruh pemegang saham melaksanakan HMETD,” kata Arief.

Arief berpendapat, tawaran harga saham baru FREN menarik bagi para trader yang ingin mendapatkan keuntungan dari selisih harga saham FREN setelah reverse stock. Sebab harga saham baru yang diterbitkan 10 kali lebih murah dibandingkan harga setelah reverse stock.

Namun, investor jangka panjang harus memperhatikan kondisi fundamental perusahaan telekomunikasi ini. “Jangan hanya melihat selisih harganya. FREN hingga saat ini belum bisa membukukan laba bersih,” ungkap Arief. Alhasil, harga saham FREN selama ini tidak beranjak dari Rp 50 per saham.

Menurut Arief, sulit untuk memprediksi, berapa harga baru FREN yang tercipta di pasar dengan rentang yang lebar, antara harga setelah reverse stock dan harga saham rights issue. Sebab semua bergantung pada permintaan di pasar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News