FTSE 100 Anjlok 1,68%, Lonjakan Yield Tekan Saham Bank Inggris



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa saham Inggris tertekan tajam pada perdagangan Kamis (1/10/2026), seiring lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah ke level tertinggi dalam beberapa dekade yang kembali menghidupkan kekhawatiran inflasi dan memperburuk selera risiko investor.

Indeks FTSE 100 ditutup anjlok 1,68% ke level 10.428,7. Penurunan ini menjadi yang keempat secara beruntun sekaligus koreksi harian terbesar sejak 15 Mei. Sementara itu, indeks saham lapis menengah FTSE 250 turun 1,62%.

Tekanan terutama datang dari sektor perbankan. Yield gilt Inggris bertenor 30 tahun melonjak ke 5,9352%, level tertinggi sejak awal 1998. Sementara yield gilt 10 tahun naik ke 5,4033%, tertinggi sejak 2007.


Baca Juga: Vietnam Masuk Indeks Acuan Emerging Market FTSE Russell

"Lonjakan ini juga terkait kekhawatiran terhadap prospek fiskal Inggris menjelang anggaran akhir bulan," kata Fiona Cincotta, Senior Market Analyst StoneX.

Kenaikan yield membuat saham perbankan menjadi penekan terbesar FTSE 100. Indeks sektor bank merosot 4,2% dan berada di level terendah dalam lebih dari tiga bulan.

Sejumlah bank besar ikut tertekan. HSBC dan Barclays masing-masing turun sekitar 4%, sedangkan NatWest anjlok 5,4%.

Tekanan juga menyebar ke saham-saham siklikal. Kenaikan harga minyak dan yield obligasi memperkuat kekhawatiran bahwa inflasi yang bertahan tinggi dapat membuat suku bunga tetap tinggi lebih lama, sekaligus menekan pertumbuhan ekonomi.

Harga minyak Brent sendiri melonjak sekitar US$3 per barel setelah China menghentikan ekspor produk minyak.

Pasar juga mulai meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of England (BoE). Data LSEG menunjukkan pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan biaya pinjaman pada rapat BoE November mencapai 85%.

Baca Juga: Vietnam Resmi Masuk Indeks Emerging Market FTSE, Dana Asing US$6 Miliar Mengintai

Pernyataan pejabat BoE Catherine Mann turut menjadi perhatian pasar. Ia mengatakan penanganan bank sentral terhadap dampak perang di Timur Tengah telah meningkatkan biaya pinjaman Inggris, sehingga belum memberikan banyak ruang bagi pelonggaran kondisi moneter.

Tekanan terhadap sektor properti turut memperlihatkan dampak suku bunga tinggi terhadap ekonomi Inggris. Harga rumah Inggris mencatat pertumbuhan tahunan terlemah sejak Desember 2025.

Saham perusahaan pengembang perumahan pun ikut terkoreksi 4,9%.

Di luar sektor keuangan dan properti, saham produk perawatan pribadi serta farmasi juga menjadi kelompok yang tertinggal dalam perdagangan.

Baca Juga: FTSE 100 Terkoreksi ke Level Terendah Dua Pekan, Saham Bank dan Energi Tertekan

Sementara itu, saham perusahaan material konstruksi Breedon Group turun 3,4% setelah menunjuk James Brotherton untuk menggantikan Rob Wood sebagai Chief Executive Officer (CEO) grup.