FTSE 100 Tertekan Harga Minyak dan Prospek Kenaikan Suku Bunga The Fed



KONTAN.CO.ID - LONDON. Indeks saham utama Inggris, FTSE 100, bergerak melemah pada perdagangan Senin (7/9/2026). Kenaikan harga minyak dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat (AS) menjadi sentimen yang membebani pasar.

Pada pukul 09.27 GMT, indeks FTSE 100 turun 0,1% menjadi 10.824,74 poin. Sementara itu, indeks saham berkapitalisasi menengah FTSE 250 juga terkoreksi 0,1%.

Tekanan terhadap pasar saham Inggris terjadi ketika harga minyak mentah bertahan di dekat level tertinggi dalam enam pekan. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh aksi saling serang antara AS dan Iran terhadap kapal-kapal yang berlayar di Selat Hormuz dan sejumlah wilayah lainnya.


Gangguan tersebut membuat arus pasokan minyak mentah tetap rendah sehingga mendorong harga minyak. Kenaikan harga energi juga meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi di berbagai negara.

Baca Juga: UBS Revisi Proyeksi, The Fed Berpotensi Naikkan Bunga

Dampak inflasi akibat perang tersebut turut meningkatkan spekulasi bahwa sejumlah bank sentral global akan menaikkan suku bunga. Ekspektasi tersebut semakin menguat setelah data ketenagakerjaan AS yang dirilis pada Jumat menunjukkan hasil yang kuat.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang The Fed menaikkan suku bunga pada September kini mencapai sekitar 58%, naik dari sekitar 44% sebulan sebelumnya.

Saham Energi Jadi Penopang FTSE 100

Sebagian besar sektor dalam indeks FTSE 100 bergerak melemah pada awal perdagangan Senin. Sektor barang konsumsi seperti perawatan pribadi, obat-obatan dan kebutuhan pokok turun 0,8%, sedangkan sektor minuman merosot 1,6%.

Saham-saham perbankan yang memiliki bobot besar dalam indeks FTSE 100 juga terkoreksi sekitar 0,3%.

Di tengah tekanan tersebut, saham sektor energi justru menjadi penopang utama indeks. Saham BP dan Shell masing-masing menguat sekitar 1%.

Pergerakan saham energi mendapatkan dukungan dari kenaikan harga minyak yang berpotensi meningkatkan prospek pendapatan perusahaan minyak dan gas.

Investor Menanti Data Inflasi AS

Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian terhadap sejumlah data ekonomi penting yang akan dirilis pekan ini. Data inflasi AS dan pertumbuhan ekonomi Inggris akan menjadi perhatian utama investor untuk menilai ketahanan kedua perekonomian tersebut.

Baca Juga: Bank Sentral China Makin Agresif Memborong Emas

Data-data tersebut juga berpotensi memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter The Fed serta bank sentral Inggris.

Pada perdagangan pekan sebelumnya, FTSE 100 relatif tidak banyak berubah. Namun, indeks FTSE 250 mencatat penurunan mingguan terbesar sejak awal Juni karena kenaikan imbal hasil obligasi menekan aset-aset berisiko.

Sejumlah Saham Bergerak Signifikan

Di antara saham individual, Standard Life menguat 1,5% setelah perusahaan asuransi tersebut melaporkan laba semester pertama yang lebih baik dari perkiraan analis.

Sementara itu, Ashmore, perusahaan manajemen aset yang berfokus pada pasar negara berkembang, turun 1,4%. Penurunan terjadi setelah perusahaan melaporkan kenaikan laba tahunan sebesar 17%, tetapi hasil tersebut sedikit meleset dari ekspektasi analis.

Saham Spire Healthcare melonjak sekitar 3% setelah perusahaan menyepakati akuisisi oleh konsorsium yang terdiri dari dana yang dikelola Toscafund, Three Hills, dan Ares.

Kesepakatan tersebut memberikan nilai sekitar £1,026 miliar atau sekitar US$1,39 miliar terhadap modal saham Spire Healthcare.

Aktivitas perdagangan saham Inggris diperkirakan relatif sepi karena pasar AS ditutup untuk memperingati hari libur. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi likuiditas dan membuat pergerakan indeks lebih terbatas.