KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelaku pasar Tanah Air tengah menanti pengumuman FTSE Russell terkait status pembekuan atau
freeze pasar saham Indonesia yang diperkirakan menjadi salah satu katalis pergerakan IHSG di sisa Agustus 2026. FTSE Russell diperkirakan mengevaluasi status tersebut pada 10–14 Agustus 2026. Pengumuman resmi hasil peninjauan ulang diproyeksikan berlangsung 21 Agustus, dengan tanggal efektif pada 18 September 2026.
Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas memproyeksikan status
freeze masih berpeluang dipertahankan pada review Agustus 2026, meski berbagai reformasi pasar telah dilakukan regulator. Baca Juga: Prospek INCO, INKP, CUAN, dan INDY Menarik, Cek Rekomendasi Sahamnya “Pertimbangannya, meskipun regulator telah melakukan berbagai reformasi untuk meningkatkan kualitas pasar, FTSE Russell cenderung menunggu bukti implementasi yang konsisten sebelum mengubah status pasar,” katanya kepada Kontan, Jumat (7/8/2026). Sukarno menyebut pengumuman FTSE Russell berpotensi meningkatkan volatilitas IHSG pada awal pekan depan. Namun, dampaknya diperkirakan lebih bersifat sentimen jangka pendek dibandingkan mengubah tren pasar secara fundamental. “Apabila status
freeze kembali dipertahankan, reaksi pasar cenderung terbatas karena skenario tersebut telah cukup diantisipasi,” ucap dia. Sebaliknya, jika FTSE Russell memberikan sinyal menuju normalisasi status, sentimen positif berpotensi mendorong penguatan IHSG, terutama pada saham berkapitalisasi besar yang menjadi target investor asing. Sementara itu, Co-Founder Pasardana & Pengamat Pasar Modal Hans Kwee memproyeksikan FTSE Russell berpotensi memperbarui atau melonggarkan status pembekuan pada periode evaluasi terbaru. “Ini menyusul progres reformasi keterbukaan informasi dan data kepemilikan saham yang dijalankan regulator. Tentu pengaruhnya akan positif terhadap pergerakan IHSG,” kata dia. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menyebut FTSE Russell tidak hanya mempertimbangkan komitmen regulator, tetapi juga konsistensi implementasi, efektivitas kebijakan, serta bukti perbaikan aksesibilitas dan integritas pasar. Menurutnya, sejumlah langkah OJK, BEI, dan KSEI menunjukkan kemajuan. Namun, FTSE Russell kemungkinan masih membutuhkan waktu untuk mengevaluasi dampak berbagai kebijakan tersebut secara lebih komprehensif sebelum mengambil keputusan. “Peluang pencabutannya berada di kisaran 30%–40%. Namun secara probabilitas, saya menilai pendekatan yang lebih konservatif masih lebih realistis,” ujar Nafan.
Baca Juga: Syailendra Capital Siap Luncurkan ETF Emas, Bidik Investor HNWI Jika
freeze dicabut, Nafan memproyeksikan sentimen pasar berpotensi berubah lebih positif. Kondisi tersebut dapat meningkatkan optimisme investor asing sekaligus mendorong minat terhadap saham blue chip dan IHSG. Sebaliknya, jika
freeze diperpanjang, reaksi pasar berpotensi negatif dalam jangka pendek. Namun, Nafan menilai tekanan tidak akan terlalu dalam karena sebagian risiko tersebut kemungkinan sudah diantisipasi pasar. “Pengumuman FTSE Russell berpotensi menjadi katalis penting bagi sentimen pasar pada pekan depan, terutama terhadap saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi konstituen indeks global,” tuturnya. Menurutnya, arah IHSG selanjutnya tetap dipengaruhi kombinasi faktor domestik dan global, seperti arus dana asing, prospek suku bunga global, harga komoditas, kinerja emiten semester II, serta stabilitas rupiah. Dari sisi strategi, Nafan menyarankan investor tidak hanya berfokus pada hasil pengumuman FTSE Russell. Investor sebaiknya mengutamakan saham berfundamental kuat, likuiditas tinggi, valuasi menarik, dan prospek laba solid. “Apabila terjadi volatilitas pasca-pengumuman, kondisi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai peluang untuk melakukan akumulasi secara bertahap atau buy on weakness pada saham-saham berkualitas,” kata dia. Nafan memperkirakan IHSG pekan depan bergerak pada kisaran support 6.354–6.292 dengan resistance berada di 6.454
–6.554. Sementara, Sukarno merekomendasikan selective buying pada saham berfundamental kuat sembari menjaga disiplin manajemen risiko. “Kami tetap merekomendasikan
selective buying pada saham berfundamental kuat dan menjaga disiplin manajemen risiko,” ucap Sukarno. Baca Juga: Nilai Transaksi Kripto Domestik Melonjak, Investor Mulai Beralih ke Altcoin Sukarno menyebut arah aliran dana asing diperkirakan menjadi faktor yang lebih menentukan pergerakan IHSG dibandingkan hasil review FTSE Russell. Karena itu, investor perlu mencermati dinamika
foreign flow. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News