KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa kripto FTX telah mengajukan kebangkrutan di pekan lalu di Delaware, Amerika Serikat (AS). Kasus ini menyebabkan kapitalisasi pasar FTX Token (FTT) merosot dari US$ 3,5 miliar pada 1 November menjadi hanya US$ 571 juta pada Rabu (16/1) pukul 16.20 WIB. Harga token FTT pun terjun dari US$ 26,33 pada 1 November 2022 menjadi hanya US$ 1,7 pada hari ini. Kasus bursa kripto FTX yang merupakan salah satu bursa kripto terbesar dunia pun menjadi pukulan yang berat dan mempengaruhi ekosistem kripto secara global. COO Tokocrypto, Teguh Kurniawan Harmanda mengatakan, Tokocrypto telah menghapus dan menghentikan perdagangan FTT, token native FTX setelah peninjauan mendalam. Penghentian transaksi ini berlaku kemarin, 15 November 2022 pukul 11.30 WIB.
Tokocrypto menyebut transaksi token FTT yang dihentikan adalah pasangan FTT/BNB, FTT/BTC dan FTT/USDT. "Alasan penghentian adalah untuk memberikan keamanan dan kenyamanan transaksi kepada seluruh nasabah Tokocrypto. Token FTT telah memiliki volatilitas yang terlalu tinggi dan tidak wajar," kata Manda kepada kontan.co.id, Rabu (16/11). Baca Juga: Pasca Kebangkrutan FTX, Indodax Sarankan Audit Total Crypto Exchange di Indonesia Dia menambahkan kasus hack yang sedang dialami oleh FTX, bisa merugikan dan membahayakan investor kripto FTT. Manda mengatakan, tidak ada permintaan withdrawal di Tokocrypto saat penghentian perdagangan token FTT. Dia menyebut, sebagian besar investor kripto FTT di Tokocrypto sudah mengalihkan dana dengan aset kripto lain yang bervariatif. Tapi Manda tidak menyebutkan detail pengalihan investasi investor kripto ini.