Fundamental Masih Solid, JSMR Ditopang Pendapatan Tol dan Proyek Strategis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Jasa Marga Tbk (JSMR) diperkirakan masih memiliki prospek pertumbuhan yang solid hingga akhir 2026. Kinerja perseroan ditopang peningkatan pendapatan tol, berlanjutnya penyelesaian proyek jalan tol strategis, serta dukungan pendanaan kepada anak usaha. Namun, emiten tersebut tetap menghadapi sejumlah tantangan.

Untuk diketahui, JSMR akan memberikan pinjaman pemegang saham (shareholder loan/SHL) senilai Rp 692 miliar kepada tiga operator jalan tol yang merupakan perusahaan terkendali perseroan.

Senior Investment Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mencermati bahwa langkah pemberian pinjaman pemegang saham ini merupakan sentimen positif yang mempertegas komitmen JSMR dalam menjaga kesinambungan operasional dan mempercepat penyelesaian proyek strategis nasional (PSN), khususnya Tol Probolinggo-Banyuwangi (Probowangi) dan Yogyakarta-Bawen, serta optimalisasi ruas Manado-Bitung.


Nafan pun bilang, prospek kinerja fundamental JSMR untuk sisa tahun 2026 diperkirakan tetap solid dan bertumbuh positif. “Kucuran SHL ini meminimalkan risiko cash deficiency di tingkat anak usaha tanpa mengganggu struktur modal perseroan secara signifikan,” ujar Nafan kepada Kontan, Rabu (8/7/2026).

Selain itu, pilar utama pendapatan JSMR dari core business, yakni volume lalu lintas harian rata-rata (LHR) yang terus meningkat pasca-pemulihan mobilitas penuh dan konektivitas Trans-Jawa yang semakin matang, akan menjadi penggerak utama top-line maupun bottom-line perseroan hingga akhir tahun.

Baca Juga: Jasa Marga (JSMR) Beri Pinjaman Rp 272,40 Miliar ke Anak Usaha, Ini Tujuannya

Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, mencatat kinerja JSMR pada kuartal I-2026 menunjukkan operasional jalan tol yang tetap tangguh, meskipun laba bersih mengalami penurunan.

Pendapatan perseroan tercatat sebesar Rp 6,45 triliun, turun 27% QoQ, dan relatif stabil secara YoY, terutama dipengaruhi penurunan pendapatan konstruksi jadi Rp 1,35 triliun, atau turun 44% YoY, seiring normalisasi aktivitas proyek.

Di sisi lain, pendapatan tol meningkat menjadi Rp 4,71 triliun, tumbuh 9% YoY, dan menyumbang sekitar 73% dari total pendapatan. Pertumbuhan tersebut didukung oleh penyesuaian tarif tol serta kinerja kuat Jalan Tol Jogja-Solo Seksi 1.1 dan 1.2A, yang mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 86% YoY. Pendapatan usaha lainnya juga meningkat menjadi Rp 398 miliar, atau naik 24% YoY.

“Meskipun perusahaan masih menghadapi tekanan dari meningkatnya biaya pendanaan dan menurunnya aktivitas konstruksi, pertumbuhan pendapatan tol yang tetap kuat serta perbaikan margin menunjukkan ketahanan bisnis inti perseroan,” ujar Sukarno dalam riset 9 Juni 2026.

Belanja modal (capex) pada kuartal I-2026 mencapai Rp 2,4 triliun, sejalan dengan target belanja modal tahunan sekitar Rp 12 triliun, seiring berlanjutnya pembangunan sejumlah proyek strategis seperti Jogja–Solo, Probolinggo–Banyuwangi, dan Jakarta–Cikampek II Selatan.

Lebih lanjut di sisa 2026, Nafan bilang katalis positif juga datang dari penyelesaian bertahap proyek Jalan Tol Probolinggo–Banyuwangi (Probowangi) dan Jogja–Bawen yang berpotensi menjadi motor pertumbuhan pendapatan jangka panjang seiring terbentuknya konektivitas dan klaster ekonomi baru di Pulau Jawa.

Selain itu, adanya hak penyesuaian tarif tol berkala pada beberapa ruas utama bertindak sebagai penopang margin profitabilitas perseroan.

Baca Juga: Minim Libur Panjang pada Semester II-2026, Simak Prospek Kinerja Jasa Marga (JSMR)

Dampak positif dari aksi divestasi minoritas saham PT Jasamarga Transjawa Tol (JTT) yang sukses dilakukan sebelumnya juga memberikan kelonggaran likuiditas, menurunkan beban leverage (gearing ratio di level induk), serta memberikan ruang bagi JSMR untuk mendanai belanja modal (capex) ekspansif ke depan.

Namun, Nafan juga mencermati sejumlah sentimen negatif. Pertama, sektor infrastruktur dan jalan tol sangat sensitif terhadap arah kebijakan suku bungan acuan baik dari The Fed maupun Bank Indonesia. 

“Jika suku bunga bertahan di level tinggi (higher for longer), biaya penggalangan dana (cost of fund) untuk proyek baru yang padat modal berpotensi membengkak,” kata Nafan.

Kedua, inflasi pada sektor konstruksi, seperti kenaikan harga semen, baja, dan aspal, dapat meningkatkan realisasi investasi capex pengerjaan proyek tol yang sedang berjalan.

Terakhir, penundaan dalam proses pembebasan lahan pada ruas konstruksi baru selalu menjadi risiko industri yang dapat memicu keterlambatan jadwal operasi komersial.

Baca Juga: Laba Jasa Marga (JSMR) Turun di Kuartal I, Tarif Tol Bisa Jadi Penopang ke Depan

Ke depan, JSMR diperkirakan masih akan berfokus pada penyelesaian proyek jalan tol yang telah masuk pipeline dibandingkan melakukan ekspansi yang terlalu agresif.

Dari sisi kinerja keuangan, Sukarno memperkirakan pendapatan JSMR pada tahun 2026 dapat mencapai Rp 31 triliun pada 2026, meningkat sekitar 3,3% YoY dibandingkan estimasi realisasi 2025 sebesar Rp 30 triliun. 

Namun, peningkatan pendapatan tersebut diperkirakan belum mampu mengerek laba bersih. Laba bersih JSMR diproyeksi akan turun menjadi sekitar Rp 3,2 triliun pada 2026, atau menyusut sekitar 13,5% YoY dibandingkan estimasi 2025 sebesar Rp 3,7 triliun.

Dengan berbagai faktor di atas, Sukarno memberikan rekomendasi kepada investor untuk buy saham JSMR dengan target harga Rp 3.850 per saham. Research Analyst CGS International Sekuritas, Bob Setiadi, memberikan rekomendasi add saham JSMR dengan target Rp 4.600 per saham.

Tak ketinggalan, Managing Director dan Head of UBS Indonesia Equities and Research, Joshua Tanja, memberikan rekomendasi untuk buy saham JSMR dengan target harga Rp 5.300 per saham.

Baca Juga: Jasa Marga (JSMR) Serap Capex Konstruksi 20% dari Anggaran Tahun 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News