Fundamental Solid Tapi Rupiah Masih Melemah, Ini Penyebabnya



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah di tengah derasnya likuiditas valuta asing dinilai sebagai sebuah anomali. 

Fundamental eksternal dan domestik Indonesia sejatinya dinilai masih cukup solid, namun ketidakseimbangan suplai dan permintaan dolar di dalam negeri menjadi faktor utama yang menekan pergerakan rupiah.

Rupiah spot ditutup pada level Rp 16.956 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Selasa (20/1/2026), melemah tipis 0,01% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 16.955 per dolar AS.


Baca Juga: Sinergi WIFI dan Pos Properti Dorong Ekspansi Jaringan Fixed Broadband 2026

Pergerakan rupiah di Jisdor BI sejalan dengan rupiah spot. Di pasar spot, rupiah ditutup pada level Rp 16.956 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Selasa (20/1/2026), melemah tipis 0,006% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 16.955 per dolar AS.

Global Market Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menilai dari sisi fundamental, kondisi likuiditas valas domestik sebenarnya sangat memadai. 

Hal ini tercermin dari surplus neraca perdagangan yang telah berlangsung selama 67 bulan berturut-turut, surplus transaksi berjalan pada kuartal III, serta potensi defisit transaksi berjalan kuartal IV yang diperkirakan tetap terbatas, yakni di bawah 0,6% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Selain itu, aliran dana asing juga tercatat deras masuk ke pasar keuangan domestik sejak awal tahun, baik ke pasar saham, surat utang negara, maupun Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Namun, kondisi tersebut belum mampu mendorong penguatan rupiah.

“Di tengah likuiditas dolar yang berlimpah, suplai dolar domestik ternyata belum mampu memenuhi permintaan dolar untuk kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri,” ujar Myrdal pada KONTAn, Selasa (20/1/2026). 

Ia menjelaskan, seretnya suplai dolar di dalam negeri disebabkan oleh perilaku eksportir, khususnya dari sektor sumber daya alam nonmigas, yang masih menahan devisa hasil ekspor dan belum mengonversinya ke rupiah. Kondisi ini memicu ketidakseimbangan antara permintaan dan suplai dolar domestik.

“Terjadi mismatch antara demand dolar yang relatif stabil atau sedikit meningkat dengan suplai dolar yang justru berkurang. Inilah yang menekan rupiah, bukan karena faktor eksternal,” tegasnya.

Myrdal menambahkan, untuk rupiah pada Rabu (20/1/2026) diperkirakan bergerak di rentang Rp 16.900 - Rp 17.000 per dolar AS.

Menurutnya, resistance Rp 17.000 merupakan area resistance yang relatif wajar dalam kondisi saat ini. Meski rupiah melemah, ia menilai dampaknya terhadap inflasi impor masih terbatas. Hal ini ditopang oleh harga energi dan minyak global yang relatif rendah, serta penggunaan skema Local Currency Settlement (LCS) dalam impor bahan pangan dari negara mitra.

Dengan kondisi tersebut, risiko imported inflation dinilai masih terkendali. Bahkan, pelemahan rupiah justru berpotensi memberikan keuntungan tambahan bagi eksportir melalui peningkatan daya saing harga di pasar global.

Ke depan, peluang penguatan rupiah dinilai masih terbuka. Dengan likuiditas dolar yang pada dasarnya berlimpah di dalam negeri, penguatan rupiah berpotensi terjadi apabila eksportir dan pemilik devisa mulai meningkatkan konversi dolar ke rupiah.

“Kalau konversi valas meningkat, peluang rupiah untuk menguat juga sangat terbuka,” pungkas Myrdal.

Baca Juga: MAP Aktif Adiperkasa (MAPA) Hadirkan Merek Sam Edelman ke Pasar Indonesia

Selanjutnya: Buruh Akan Gugat UMP Jakarta 2026 ke PTUN, Ini Tanggapan Pramono

Menarik Dibaca: Hasil Indonesia Masters 2026: Ginting ke Babak 32 Besar, 2 Ganda Ini Maju ke 16 Besar

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News