KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Telkom Indonesia Tbk (
TLKM) dinilai memiliki fundamental bisnis yang defensif untuk menghadapi ketatnya kompetisi industri dan volatilitas pasar saham domestik hingga akhir 2026. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, tren penguatan kinerja PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) sangat ditopang oleh eskalasi kebutuhan konektivitas data dan percepatan transformasi digital. Menurutnya, lini bisnis seluler dan pita lebar (
broadband) masih menjadi jangkar utama penyumbang pendapatan maupun arus kas perusahaan.
Baca Juga: CDS Indonesia Terus Menanjak, Sentimen MSCI Tekan Persepsi Risiko Investor Di sisi lain, emiten telekomunikasi ini juga memiliki mesin pertumbuhan baru melalui pengembangan pusat data NeutraDC yang diyakini mampu menangkap lonjakan permintaan layanan
artificial intelligence (AI),
cloud computing, serta
edge computing. Komitmen perluasan kapasitas infrastruktur digital dan kualitas jaringan tersebut salah satunya tercermin dari serapan belanja modal perusahaan yang menembus Rp 10,8 triliun pada semester I 2026. "Apabila investasi tersebut dapat dikonversi menjadi pertumbuhan pendapatan dan efisiensi operasional, kinerja TLKM berpeluang semakin solid hingga akhir tahun," ungkap Nafan kepada Kontan, Rabu (21/10/2026). Kendati ditopang oleh prospek jangka panjang yang menjanjikan, perusahaan masih harus merespons sejumlah tantangan industri yang cukup berat hingga akhir tahun nanti.
Baca Juga: Rupiah Spot Ditutup Melemah 0,17% ke RP 18.022 per Dolar AS pada Rabu (21/10) Nafan menyoroti tingginya tekanan kompetisi harga maupun paket data yang berisiko membatasi ruang peningkatan rata-rata pendapatan per pengguna atau
average revenue per user (ARPU). Selain itu, masifnya kebutuhan modal untuk pengembangan jaringan juga menuntut tingkat efisiensi yang tinggi agar tidak menekan posisi arus kas bebas perusahaan. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan bisnis pusat data tetap sangat bergantung pada capaian utilisasi, ketersediaan energi, serta kemampuan perusahaan dalam mencetak imbal hasil investasi yang memadai. "Dengan demikian, kunci bagi TLKM adalah menjaga daya saing bisnis inti sekaligus memastikan ekspansi infrastruktur digital mampu menghasilkan pertumbuhan laba dan arus kas yang berkelanjutan," jelas Nafan.
Dari kacamata eksternal, sentimen investor terhadap laju saham TLKM turut dibayangi oleh volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), dinamika perubahan suku bunga, pelemahan rupiah, serta arus keluar dana asing. Meski diliputi tantangan makroekonomi, prospek emiten pelat merah ini dinilai tetap positif secara selektif berkat kemampuannya dalam mencetak arus kas yang stabil serta daya tarik pembagian dividen bagi investor berorientasi jangka menengah hingga panjang. Mempertimbangkan pergerakan valuasi saat ini serta realisasi kinerja keuangannya, Nafan merekomendasikan
buy on weakness untuk saham TLKM dengan target harga Rp 2.450 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News