KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten-emiten penghasil komoditas bisa bernapas lega setelah ada penjelasan lebih jauh terkait fungsi PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Walau begitu, bukan berarti risiko atas regulasi di sektor komoditas hilang begitu saja. Dalam berita sebelumnya, Chief Executive Officer Danantara Indonesia, Rosan Perkasa Roeslani mengungkapkan saat ini DSI akan fokus mengawal ekspor tiga komoditas SDA strategis, yakni batubara, minyak sawit atau Crude Palm Oil (CPO) dan paduan besi (ferroalloy). Ketiga komoditas tersebut memiliki kontribusi penting dalam perdagangan dan perekonomian Indonesia, dengan estimasi nilai ekspor mencapai hampir US$ 70 miliar. Rincinya, nilai ekspor batubara sekitar US$ 30,35 miliar, CPO senilai US$ 22,67 miliar, dan ferroalloy sekitar US$ 16,43 miliar. Kehadiran DSI dipastikan tidak akan mengubah hubungan komersial yang telah terjalin antara eksportir dan pembeli. DSI juga tidak mengubah fungsi perizinan, pengaturan, dan pengawasan yang berada di Kementerian/Lembaga (K/L) terkait. Peran DSI adalah membangun titik verifikasi yang lebih kuat berbasis data transaksi ekspor. Baca Juga: Simak Prospek TINS Setelah Tata Kelola Diperkuat Di samping itu, DSI sedang menyiapkan plaftorm ekspor (Exporter Portal) yang ditargetkan meluncur pada 1 September 2026. Lembaga ini akan melakukan uji coba platform tersebut dengan sejumlah eksportir pada akhir September atau pertengahan Oktober 2026. Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand mengatakan, kejelasan fungsi dan peran DSI memang dapat mengurangi ketidakpastian di sektor komoditas, dibandingkan ketika lembaga baru ini pertama kali diumumkan. Menurutnya, dampak keterlibatan DSI terhadap emiten-emiten batubara berorientasi ekspor cenderung terbatas, mengingat kontrak jual-beli dengan pihak buyer sudah terikat dalam jangka menengah dan panjang. Sebaliknya, emiten-emiten eksportir CPO cenderung lebih rentan lantaran harga acuan komoditas tersebut cukup volatile dan proses klaim harga wajar berpotensi menimbulkan friksi administrasi. "Risiko regulasi belum hilang, hanya bergeser dari risiko arah kebijakan menjadi risiko eksekusi teknis," kata dia, Rabu (26/8). Managing Director of Research Samuel Sekuritas Harry Su menambahhkan, kehadiran DSI berpotensi menimbulkan dampak positif karena dapat meningkatkan transparansi ekspor dan kepastian regulasi. Memang, dampak terhadap kinerja emiten komoditas kemungkinan terbatas, namun kepastian soal fungsi dan peran DSI akan mengurangi riiko perubahan kebijakan secara mendadak. "Investor tetap perlu mencermati implementasi DSI agar tidak berkembang menjadi regulasi tambahan yang membatasi ekspor atau menekan margin," ungkap dia, Rabu (26/8). Secara umum, saham-saham di sektor komoditas batubara, CPO, ferro alloy tetap memiliki prospek menarik, namun margin keamanan (margin of safety) sektor ini akan lebih ketat. Abida menyebut, selain aktifnya DSI, sentimen lain yang perlu jadi perhatian emiten antara lain dinamika harga komoditas global yang tetap menjadi penopang utama kinerja keuangan, pelemahan kurs rupiah yang akan menguntungkan transaksi eksportir, evaluasi ulang harga domestic market obligation (DMO) batubara, hingga perkembangan permintaan ekspor dari China dan India. Lebih lanjut, terdapat tiga kunci strategi yang perlu diperhatikan oleh emiten-emiten produsen dan eksportir komoditas. Pertama yaitu kesiapan sistem pelaporan dari perusahaan agar sinkron dengan platform DSI sejak awal. Kedua, emiten perlu renegosiasi kontrak jangka panjang dengan buyer agar harga jual tetap kompetitif. "Ketiga, emiten perlu melakukan diversifikasi pasar ekspor dan hilirisasi untuk mengurangi ketergantungan pada satu jalur distribusi," jelas Abida. Sementara itu, Harry menyebut ada beberapa saham terkait komoditas batubara, CPO, dan ferro alloy yang dapat dicermati oleh investor karena memiliki fundamental solid. Di sektor batubara, ia memilih PTBA dan AADI yang ditopang oleh biaya produksi kompetitif dan dividen yang atraktif. Di sektor perkebunan sawit atau CPO, ada BWPT yang dapat menjadi pilihan bagi investor karena didorong oleh pertumbuhan operasional yang bakal berdampak pada kinerja pendapatan. Di sektor ferro alloy yang merupakan bagian dari feronikel, Harry menjagokan saham NCKL dan ANTM yang didukung oleh biaya produksi rendah serta kinerja operasional yang kuat tahun ini, khususnya bagi ANTM. Baca Juga: IHSG Anjlok 1,48%, Simak Rekomendasi Saham INDF, INKP dan DSNG
Fungsi dan Peran DSI Mulai Jelas, Begini Prospek Saham Komoditas
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten-emiten penghasil komoditas bisa bernapas lega setelah ada penjelasan lebih jauh terkait fungsi PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Walau begitu, bukan berarti risiko atas regulasi di sektor komoditas hilang begitu saja. Dalam berita sebelumnya, Chief Executive Officer Danantara Indonesia, Rosan Perkasa Roeslani mengungkapkan saat ini DSI akan fokus mengawal ekspor tiga komoditas SDA strategis, yakni batubara, minyak sawit atau Crude Palm Oil (CPO) dan paduan besi (ferroalloy). Ketiga komoditas tersebut memiliki kontribusi penting dalam perdagangan dan perekonomian Indonesia, dengan estimasi nilai ekspor mencapai hampir US$ 70 miliar. Rincinya, nilai ekspor batubara sekitar US$ 30,35 miliar, CPO senilai US$ 22,67 miliar, dan ferroalloy sekitar US$ 16,43 miliar. Kehadiran DSI dipastikan tidak akan mengubah hubungan komersial yang telah terjalin antara eksportir dan pembeli. DSI juga tidak mengubah fungsi perizinan, pengaturan, dan pengawasan yang berada di Kementerian/Lembaga (K/L) terkait. Peran DSI adalah membangun titik verifikasi yang lebih kuat berbasis data transaksi ekspor. Baca Juga: Simak Prospek TINS Setelah Tata Kelola Diperkuat Di samping itu, DSI sedang menyiapkan plaftorm ekspor (Exporter Portal) yang ditargetkan meluncur pada 1 September 2026. Lembaga ini akan melakukan uji coba platform tersebut dengan sejumlah eksportir pada akhir September atau pertengahan Oktober 2026. Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand mengatakan, kejelasan fungsi dan peran DSI memang dapat mengurangi ketidakpastian di sektor komoditas, dibandingkan ketika lembaga baru ini pertama kali diumumkan. Menurutnya, dampak keterlibatan DSI terhadap emiten-emiten batubara berorientasi ekspor cenderung terbatas, mengingat kontrak jual-beli dengan pihak buyer sudah terikat dalam jangka menengah dan panjang. Sebaliknya, emiten-emiten eksportir CPO cenderung lebih rentan lantaran harga acuan komoditas tersebut cukup volatile dan proses klaim harga wajar berpotensi menimbulkan friksi administrasi. "Risiko regulasi belum hilang, hanya bergeser dari risiko arah kebijakan menjadi risiko eksekusi teknis," kata dia, Rabu (26/8). Managing Director of Research Samuel Sekuritas Harry Su menambahhkan, kehadiran DSI berpotensi menimbulkan dampak positif karena dapat meningkatkan transparansi ekspor dan kepastian regulasi. Memang, dampak terhadap kinerja emiten komoditas kemungkinan terbatas, namun kepastian soal fungsi dan peran DSI akan mengurangi riiko perubahan kebijakan secara mendadak. "Investor tetap perlu mencermati implementasi DSI agar tidak berkembang menjadi regulasi tambahan yang membatasi ekspor atau menekan margin," ungkap dia, Rabu (26/8). Secara umum, saham-saham di sektor komoditas batubara, CPO, ferro alloy tetap memiliki prospek menarik, namun margin keamanan (margin of safety) sektor ini akan lebih ketat. Abida menyebut, selain aktifnya DSI, sentimen lain yang perlu jadi perhatian emiten antara lain dinamika harga komoditas global yang tetap menjadi penopang utama kinerja keuangan, pelemahan kurs rupiah yang akan menguntungkan transaksi eksportir, evaluasi ulang harga domestic market obligation (DMO) batubara, hingga perkembangan permintaan ekspor dari China dan India. Lebih lanjut, terdapat tiga kunci strategi yang perlu diperhatikan oleh emiten-emiten produsen dan eksportir komoditas. Pertama yaitu kesiapan sistem pelaporan dari perusahaan agar sinkron dengan platform DSI sejak awal. Kedua, emiten perlu renegosiasi kontrak jangka panjang dengan buyer agar harga jual tetap kompetitif. "Ketiga, emiten perlu melakukan diversifikasi pasar ekspor dan hilirisasi untuk mengurangi ketergantungan pada satu jalur distribusi," jelas Abida. Sementara itu, Harry menyebut ada beberapa saham terkait komoditas batubara, CPO, dan ferro alloy yang dapat dicermati oleh investor karena memiliki fundamental solid. Di sektor batubara, ia memilih PTBA dan AADI yang ditopang oleh biaya produksi kompetitif dan dividen yang atraktif. Di sektor perkebunan sawit atau CPO, ada BWPT yang dapat menjadi pilihan bagi investor karena didorong oleh pertumbuhan operasional yang bakal berdampak pada kinerja pendapatan. Di sektor ferro alloy yang merupakan bagian dari feronikel, Harry menjagokan saham NCKL dan ANTM yang didukung oleh biaya produksi rendah serta kinerja operasional yang kuat tahun ini, khususnya bagi ANTM. Baca Juga: IHSG Anjlok 1,48%, Simak Rekomendasi Saham INDF, INKP dan DSNG