Futures Saham AS Melemah, Prospek Meredanya Konflik Timur Tengah Masih Buram



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks berjangka saham Amerika Serikat melemah pada perdagangan Kamis (26/3/2026), setelah sebelumnya mencatatkan kenaikan. Pelemahan ini terjadi seiring sikap hati-hati investor terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah, sekaligus menimbang peluang de-eskalasi.

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Iran “putus asa” untuk mencapai kesepakatan guna mengakhiri konflik.

Namun, pernyataan ini bertolak belakang dengan sikap Iran, yang melalui menteri luar negerinya menyebut Teheran masih meninjau proposal AS, tetapi tidak berniat melakukan pembicaraan untuk mengakhiri perang dalam waktu dekat.


Baca Juga: Harga Minyak Naik 2%, Konflik Timur Tengah Picu Kekhawatiran Pasokan Energi

Sinyal yang saling bertentangan dari kedua pihak membuat pasar keuangan global tetap berada dalam ketidakpastian. Harapan untuk pemulihan jalur pelayaran di Selat Hormuz—yang menjadi jalur vital distribusi energi dunia—masih belum jelas.

Indeks Berjangka Melemah

Pada pukul 04:55 waktu New York, kontrak berjangka Dow Jones turun 242 poin atau 0,52%. Sementara itu, S&P 500 turun 0,59% dan Nasdaq 100 melemah 0,73%.

Meski demikian, indeks utama Wall Street sempat ditutup menguat pada perdagangan Rabu setelah Washington menyampaikan proposal kepada Iran melalui Pakistan.

Pernyataan dari pejabat Iran juga sempat memberi sinyal keterbukaan terhadap solusi diplomatik, meskipun secara publik mereka membantah adanya negosiasi aktif.

Molly Schwartz, analis strategi makro lintas aset di Rabobank, menyebut ketenangan relatif pasar menunjukkan adanya kepercayaan investor bahwa konflik pada akhirnya dapat mereda, meski peluangnya masih tipis.

Baca Juga: Dampak Perang Iran: Korsel Naikkan Batas Harga BBM dan Suntik Likuiditas Obligasi

Investor Menimbang Risiko dan Peluang

Menurut analis Swissquote Bank, Ipek Ozkardeskaya, investor saat ini mencoba mengantisipasi skenario berakhirnya perang sekaligus memperhitungkan potensi reli pasar. Namun, risiko tetap tinggi mengingat ketidakpastian geopolitik yang masih berlangsung.

Lonjakan harga minyak akibat konflik ini kembali memicu kekhawatiran inflasi global. Kondisi tersebut menempatkan bank sentral, termasuk Federal Reserve, dalam posisi sulit terkait kebijakan suku bunga.

Data dari CME Group FedWatch Tool menunjukkan pelaku pasar kini tidak lagi memperkirakan adanya penurunan suku bunga oleh The Fed tahun ini, setelah sebelumnya mengantisipasi dua kali pemangkasan sebelum konflik Iran memanas.

Data Ekonomi dan Pergerakan Saham

Investor juga mencermati data klaim pengangguran mingguan AS serta pernyataan dari sejumlah pejabat The Fed, termasuk Lisa Cook, Stephen Miran, Michael Barr, dan Philip Jefferson, untuk mencari petunjuk arah kebijakan moneter ke depan.

Di sisi korporasi, saham Olaplex Holdings melonjak 47% pada perdagangan pra-pasar setelah Henkel sepakat mengakuisisi perusahaan tersebut dalam transaksi senilai US$ 1,4 miliar.

Baca Juga: Lonjakan Harga BBM Dorong Penjualan Mobil Listrik Bekas di Eropa

Sementara itu, saham perusahaan tambang emas yang tercatat di AS mengalami penurunan seiring melemahnya harga emas lebih dari 2%. Saham Newmont turun 2,8%, diikuti Sibanye Stillwater yang melemah 3,7%, serta Harmony Gold yang turun 3%.

Sentimen Pasar Masih Rapuh

Secara keseluruhan, pasar keuangan global masih dibayangi ketidakpastian tinggi akibat konflik geopolitik. Investor terus memantau perkembangan diplomasi antara AS dan Iran, serta kondisi keamanan di Selat Hormuz yang menjadi kunci stabilitas pasokan energi global.

Selama belum ada kepastian de-eskalasi, volatilitas pasar diperkirakan akan tetap tinggi dalam jangka pendek.