G7 Desak Perdamaian Timur Tengah, Waspadai Dampak Ekonomi Perang



KONTAN.CO.ID - Para menteri keuangan dan gubernur bank sentral negara-negara Group of Seven (G7) menegaskan urgensi mendorong perdamaian jangka panjang di Timur Tengah, sekaligus memperingatkan dampak ekonomi yang semakin besar dari konflik yang berkepanjangan.

Dalam pernyataan resmi yang dirilis oleh Prancis selaku presidensi G7 tahun ini, para pejabat sepakat bahwa pembatasan dampak perang terhadap ekonomi global menjadi prioritas utama.

Baca Juga: Menhan AS Hegseth Serang Media, Samakan Jurnalis Anti-Trump dengan Musuh Yesus


“Kesimpulannya bulat: sangat mendesak untuk membatasi biaya terhadap ekonomi global dari konflik yang berkepanjangan. Anggota G7 juga menegaskan kembali pentingnya menuju perdamaian yang berkelanjutan,” demikian pernyataan tersebut dilansir dari Reuters Kamis (16/4/2026).

Isu perang di Timur Tengah menjadi salah satu dari tiga agenda utama dalam pertemuan yang berlangsung di sela-sela Spring Meetings International Monetary Fund (IMF) dan World Bank di Washington.

Selain itu, G7 juga membahas dukungan berkelanjutan untuk Ukraina serta upaya membangun rantai pasok alternatif untuk mineral kritis guna mengurangi ketergantungan pada China.

Menteri Keuangan Prancis Roland Lescure menegaskan bahwa negara-negara G7 harus siap mengambil langkah untuk meredam risiko ekonomi dan inflasi akibat gangguan energi dan rantai pasok.

Baca Juga: Gencatan Senjata Israel-Lebanon Berlaku, Trump: AS-Iran Bertemu Akhir Pekan Ini

Didukung G7, International Energy Agency (IEA) sebelumnya telah melepas cadangan minyak strategis dalam jumlah besar untuk menahan lonjakan harga akibat terganggunya pasokan dari kawasan Teluk, termasuk jalur vital Selat Hormuz.

Lescure menambahkan, G7 akan terus memantau perkembangan situasi dan siap kembali mengambil langkah intervensi jika diperlukan, seperti pelepasan cadangan energi.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga kebebasan pelayaran di Selat Hormuz, dengan kesepakatan bahwa kapal tidak seharusnya dikenakan biaya oleh pihak mana pun untuk melintas di jalur internasional tersebut.

Sementara itu, Gubernur Bank Sentral Prancis, Francois Villeroy de Galhau, menyatakan bank sentral G7 siap bertindak untuk mencegah lonjakan harga energi dan komoditas berubah menjadi inflasi inti yang lebih persisten.

“Kami akan bertindak tanpa ragu jika diperlukan, namun saat ini masih menunggu data lebih lanjut untuk memahami dampak penuh dari guncangan harga,” ujarnya.

Baca Juga: Pemasok Cokelat Kit Kat Memprediksi Laba Tahun Ini Terpangkas 15%

Dukungan untuk Ukraina Berlanjut

Selain isu Timur Tengah, G7 juga menegaskan komitmennya untuk terus mendukung Ukraina, termasuk membantu kesiapan menghadapi musim dingin mendatang di tengah serangan terhadap infrastruktur energi.

“Ukraina tidak boleh menjadi korban sampingan dari konflik yang terjadi di Iran. Rusia tidak boleh mengambil keuntungan dari situasi ini,” tegas Lescure.

Diskusi juga mencakup reformasi ekonomi Ukraina dalam program senilai US$ 8 miliar bersama IMF, serta upaya menjaga tekanan ekonomi terhadap Rusia.

Baca Juga: Harga Emas Stabil Kamis (16/4), Pasar Cermati Negosiasi Damai AS-Iran

Tak hanya itu, G7 turut membahas percepatan pembentukan rantai pasok alternatif untuk rare earth dan mineral kritis guna mengurangi dominasi China dalam sektor tersebut.

Langkah-langkah konkret dari agenda ini diharapkan dapat dipresentasikan dalam pertemuan para pemimpin G7 yang dijadwalkan berlangsung pada Juni mendatang di Evian-les-Bains, Prancis.