KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks literasi dan inklusi industri pergadaian pada tahun 2026 masih menunjukkan
gap yang cukup besar. Berdasarkan Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, indeks literasi pergadaian adalah sebesar 52,82% dan inklusinya mencapai 7,99%. Namun, Direktur Utama PT Gadai ValueMax Indonesia Brian Wiraatmadja mengatakan bahwa industri pergadaian masih dihadapkan pada sejumlah tantangan dalam meningkatkan literasi di masyarakat.
Baca Juga: BRI Insurance Gandeng PNM Perluas Literasi Keuangan kepada Pengusaha UMKM Menurutnya, persepsi masyarakat umumnya menganggap layanan pergadaian hanya digunakan saat orang sedang mengalami kesulitan keuangan. "B
anyak masyarakat sudah memanfaatkan atau mengakses produk gadai, tapi tetap masih banyak masyarakat yang belum paham tentang layanan tersebut," ujarnya kepada Kontan, Jumat (14/8/26). Padahal, layanan gadai sebenarnya bisa menjadi salah satu instrumen pengelolaan keuangan bagi orang yang mempunyai aset, misal untuk kebutuhan modal usaha atau menjaga arus kas jangka pendek. Literasi pegadaian juga dibayangi oleh minimnya pemahaman masyarakat akan layanan gadai resmi yang berizin dan tidak resmi. Dengan tantangan itu, Gadai ValueMax berkomitmen untuk melakukan edukasi secara langsung melalui kantor cabang dan tim kepada nasabah mereka. Lewat media edukasi ini, mereka berupaya mengubah persepsi masyarakat bahwa gadai bukan hanya solusi keuangan dalam kondisi terpaksa atau darurat saja, tetapi sebagai strategi layanan keuangan yang modern, aman, dan produktif. Selain itu, edukasi yang dilakukan bukan hanya tentang uang pinjaman yang diterima saja, melainkan edukasi perihal sewa modal dan biaya admin, jangka waktu tenor, dan cara pelunasan untuk transaksi gadai. Oleh karena itu, ke depannya ia mengatakan kalau edukasi pergadaian bisa dilakukan secara lebih sederhana dan dekat dekat kebutuhan masyarakat. Salah satunya adalah melalui kanal digital secara lebih intens, tanpa menghilangkan metode edukasi langsung karena karakter bisnis gadai sangat membutuhkan interaksi langsung antara tim dengan nasabah. Sayangnya, edukasi bagi gadai swasta juga dihadapkan pada tantangan yakni membutuhkan investasi dan sumber daya yang cukup besar, sementara hasilnya tidak selalu terlihat secara langsung dalam bentuk peningkatan transaksi dalam waktu dekat.
Oleh karenanya, kolaborasi antara regulator, industri, asosiasi, dan pelaku usaha dinilai penting agar edukasi bisa berlangsung secara terkoordinasi. "
Pada akhirnya, menurut kami inklusi dan literasi harus berjalan bersama," tutupnya. Baca Juga: Gap Inklusi dengan Literasi LKM Lebar, Ini Penyebabnya Menurut LKM BKD Pekalongan Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News