Gagas Energi dan Blue Bird Kerjasama Kerek Pemanfaatan Bahan Bakar Gas



KONTAN.CO.ID-JAKARTA. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) melalui anak usahanya, PT Gagas Energi Indonesia (Gagas) meningkatkan kerjasama pemanfaatan Bahan Bakar Gas (BBG) dengan Blue Bird Group. 

Direktur Utama Gagas Muhammad Hardiansyah mengungkapkan, BBG memiliki emisi yang lebih rendah dari bahan bakar fosil lainnya, sehingga dapat menjadi alternatif energi ramah lingkungan bagi kendaraan.

Saat ini, kendaraan umum menjadi moda transportasi terbanyak yang menggunakan BBG dengan persentase mencapai 90%


Jenis kendaraan seperti taksi, bajaj, angkot, dan Trans Jakarta dinilai mendapatkan benefit paling besar yakni dari sisi efisiensi biaya bahan bakar. 

Baca Juga: PGN Genjot Penggunaan BBG lewat GasKu

"Kenapa penghematan paling besar bisa dirasakan oleh 90% kendaraan tersebut, karena jumlah kilometer per harinya paling banyak. Saat ini harga BBG itu hanya 4.500 rupiah per liter jadi ada penghematan sekitar 55%," jelas Hardiansyah dalam siaran pers, dikutip Senin (26/2). 

Hardiansya menegaskan, ke depannya Gagas terus mengembangkan infrastruktur bahan bakar gas, untuk mendukung pemenuhan energi yang ramah lingkungan untuk mencapai NZE tahun 2060. Salah satunya pengurangan emisi dari kendaraan bermotor, dimana emisinya sekitar 25-35% lebih rendah. 

Komitmen Gagas dalam menyediakan alternatif energi rendah sejalan dengan komitmen Blue Bird selaku perusahaan taksi yang telah memakai BBG. 

VP Teknik Blue Bird Group Astu Rahindo  menjelaskan, Blue Bird sejak lama mempunyai komitmen panjang untuk berkontribusi terhadap lingkungan. Tepatnya sejak 2017, Blue Bird mempunyai inisiatif untuk memakai BBG pada armadanya.

Selain itu, Blue Bird memiliki komitmen berkelanjutan “Blue bird 5030” yaitu mengurangi 50% emisi sampai tahun 2030. 

"Yang kami fokuskan adalah perbaikan lingkungan, karena dampak terhadap lingkungan cukup besar. Dari emisi yang keluar dari pemakaian gas dibandingkan kendaraan biasa sekitar 60% (lebih rendah), karena karbon lebih sedikit dan polutan lain berkurang, sehingga lebih ramah lingkungan,” ujar Astu. 

Saat ini sudah terpasang 3.200 armada Blue Bird yang memakai BBG atau sekitar 25% dari total armada yang dimiliki oleh Blue Bird. Mereka juga menggunakan teknologi paling baik untuk dual fuel atau switch dari bbm ke gas, sehingga lebih fleksibel. Jika memakai gas, pembakaran juga lebih baik karena oktannya lebih tinggi.

Baca Juga: Blue Bird (BIRD) Genjot Penjualan Mobil Bekas

Kemudian mengenai keamanan, armada Blue Bird sudah dilengkapi dengan perlengkapan safety yang sangat baik.

“Kami tahun ini merencanakan penambahan 500 armada, step by step, karena akan mengikuti perkembangan GasKu dan simultan dengan program-program pemerintah,” imbuh Astu.

Hardiansyah menegaskan, pihaknya akan terus mengoptimalkan pemanfaatan BBG di masa transisi menuju New Renewable Energy. Gagas juga mendukung dengan program Holding Migas Pertamina dalam menyediakan semua energi mulai dari fosil fuel hingga bahan bakar gas yang efisien serta rendah emisi.

Selain itu, BBG bersumber dari dalam negeri sekaligus dapat menyumbang peran terhadap pengurangan emisi karbon. Pemanfaatan BBG tidak berkompetisi, namun berjalan bersisian dengan bahan bakar lainnya.

“Benefit lain menggunakan gas adalah menyediakan alternatif energi tanpa menambah kuantitas kendaraan, karena hanya perlu dipasang konverter yang sudah ada," pungkas Hardiansyah.

 
BIRD Chart by TradingView

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anna Suci Perwitasari