KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) saat ini berada di level terlemah sepanjang sejarah, yakni menembus Rp17.723 per dolar AS. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap industri yang masih bergantung pada bahan baku impor.
Baca Juga: Metrodata: Penjualan Ponsel Infinix Melonjak 31% pada Kuartal I-2026 Meski demikian, Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) menyebut pelemahan rupiah belum memberikan dampak signifikan terhadap harga jual tahu dan tempe di pasar. Sekretaris Jenderal Gakoptindo Wibowo Nurcahyo mengatakan, kenaikan kurs dolar tidak secara langsung memengaruhi harga produk tempe dan tahu. “Tempe tahu sebenarnya tidak terlalu berpengaruh dengan harga dolar,” ujar Wibowo kepada Kontan.co.id, Selasa (19/5/2026). Menurutnya, dampak yang lebih terasa justru dialami importir dan pelaku usaha kedelai karena harga bahan baku impor mengalami kenaikan seiring pelemahan rupiah.
Baca Juga: Dedi Mulyadi Gandeng PLN, Seluruh Warga Jabar Ditargetkan Nikmati Listrik pada 2027 “Efek produksi yang terasa di pengrajin lebih ke kemasan. Adapun harga kedelai memang naik sedikit, tetapi masih di bawah HAP (Harga Acuan Penjualan),” jelasnya. Wibowo menambahkan, kenaikan biaya produksi yang terjadi sejauh ini masih dalam batas wajar sehingga belum memicu perubahan besar pada harga jual tahu dan tempe. “Kalau dikaitkan langsung dengan dolar sebenarnya tidak ada pengaruh besar, dan saat ini juga belum ada pergerakan signifikan di bawah,” tuturnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News