Gandum hingga Susu Masih Impor, Industri Mamin Hadapi Risiko Rantai Pasok



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri makanan dan minuman (mamin) nasional masih menghadapi risiko dari ketergantungan terhadap bahan baku impor. Ketidakpastian rantai pasok global dan pergerakan nilai tukar menjadi tantangan bagi pelaku industri.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman mengatakan, ketergantungan impor tidak hanya terjadi pada satu jenis bahan baku.

Menurut Adhi, sejumlah bahan baku yang digunakan industri mamin masih mengandalkan pasokan dari luar negeri. Komoditas tersebut antara lain gandum, susu, kedelai hingga jagung.


Baca Juga: Harga Bahan Baku Naik, Industri Mamin Terjepit Daya Beli

"Banyak (impor). Kita kan ada semua lah. Mulai dari gandum juga. Dari susu ya itu juga import. Kedelai juga import. Banyak sekali gitu. Jadi jagung pun juga import," ujarnya saat ditemui di Jiexpo Kemayoran, Rabu

Ketergantungan tersebut membuat industri mamin perlu mengantisipasi perubahan kondisi pasar global. Gangguan pasokan maupun kenaikan harga di negara asal dapat meningkatkan biaya bahan baku di dalam negeri.

Di saat bersamaan, pelemahan nilai tukar juga menjadi persoalan karena membuat biaya pengadaan bahan baku impor semakin tinggi.

Adhi mengatakan, kenaikan bahan baku tersebut kemudian berhadapan dengan kondisi daya beli masyarakat. Industri tidak bisa serta-merta menaikkan harga jual secara proporsional karena produk mamin sangat sensitif terhadap harga.

"Makanan ini kan price sensitive. Jadi harga bahan baku naik, energi naik, logistik naik. Tapi kalau harga jual tidak bisa naik secara proposional itu menjadi tantangan buat industri," katanya.

Selain menjaga efisiensi, Gapmmi mendorong pemerintah memberikan ruang regulasi yang lebih fleksibel agar pelaku industri dapat merespons perubahan rantai pasok global.

Menurut Adhi, fleksibilitas diperlukan agar dunia usaha dapat mencari sumber bahan baku dan mengatur pasokan sesuai dengan kondisi pasar global.

Baca Juga: Agrinas Palma Gandeng Uncen Kaji Potensi Papua Selatan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News