Gangguan Selat Hormuz Angkat Harga Minyak, WTI Berpeluang ke US$ 90



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga komoditas energi mengawali pekan dengan penguatan. Kondisi ini menyusul konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Penutupan Selat Hormuz dan pembatasan kapal komersial di kawasan tersebut dinilai berpotensi mengganggu jalur perdagangan global, serta memicu lonjakan permintaan komoditas energi seperti minyak mentah dan gas alam.

Melansir Trading Economics pada Selasa (3/3) pukul 12.00 WIB, harga minyak mentah WTI berada di level US$ 72,6 per barel atau naik 11.38% dalam sebulan dan 26.36% Ytd.


Ada pun harga gas alam juga kembali menembus level US$ 3,0 per MMbtu setelah sempat menurun ke di US$ 2,8 pekan lalu.

Baca Juga: Saham Energi Melonjak: Cermati Peluang Cuan Saat Harga Minyak Meroket!

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, berpandangan dampak gangguan di jalur vital tersebut sangat signifikan mengingat sekitar 20% pasokan minyak global melewati kawasan itu setiap hari.

Menurut dia, harga minyak berpotensi turun kembali dengan cepat apabila konflik mereda. Sebaliknya, bila eskalasi berlanjut dan mengganggu logistik, harga minyak berpeluang terus menanjak.

“Sedang gas alam tidak begitu terpengaruh besar, secara negara bagian belahan utara dunia akan memasuki musim semi tidak lama lagi, cuaca akan mulai menghangat,” ujar Lukman kepada Kontan, Senin (2/3/2026).

Di luar faktor geopolitik, Lukman menilai saat ini tidak banyak katalis fundamental yang kuat untuk menopang harga energi.

Ia mencontohkan permintaan dari China yang diperkirakan mendekati puncak dalam beberapa tahun ke depan. Artinya, permintaan justru akan mulai menurun.

Baca Juga: Harga Minyak Memanas, Harga Saham Produsen Hingga Jasa Migas Melesat

Selain itu, peningkatan produksi di Amerika Utara serta percepatan elektrifikasi kendaraan juga berpotensi menekan permintaan minyak dalam jangka menengah. “Hanya kontrol produksi dari OPEC+ yang bisa mendukung,” katanya.

Lukman menambahkan, secara umum sentimen risk-off akibat eskalasi geopolitik sebenarnya berdampak negatif bagi komoditas. Namun dalam konteks saat ini, potensi disrupsi pasokan justru menjadi penopang harga minyak mentah.

Dengan kondisi tersebut, Lukman melihat minyak mentah berpotensi menjadi komoditas energi yang paling responsif terhadap sentimen geopolitik di Timur Tengah saat ini dibandingkan gas alam.

Dengan asumsi konflik berlanjut, Lukman memperkirakan harga WTI berpeluang bergerak di kisaran US$80 - US$90 per barel pada semester I-2026.

Baca Juga: Harga Minyak Kembali Melesat, Emiten Migas Perlu Lakukan Strategi Ini

Sementara itu, harga gas alam diproyeksikan cenderung melemah ke kisaran US$2,6 - US$2,8 per MMbtu, dengan asumsi tidak ada gangguan produksi baru dan permintaan menurun dalam waktu dekat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News