Gangguan Selat Hormuz Tekan Pasokan, Saham MEDC Direkomendasikan Buy



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berlangsung di Pakistan gagal mencapai kesepakatan.

Kondisi ini memperpanjang ketidakpastian terhadap pasokan minyak global, terutama terkait distribusi melalui jalur strategis Selat Hormuz.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Andhika Audrey menilai, gangguan logistik akibat penutupan Selat Hormuz masih menjadi faktor utama yang menekan pasar energi.


Baca Juga: IHSG Berpeluang Menguat Terbatas Awal Pekan, Simak Rekomendasinya Senin (13/4)

Menurutnya, pengalihan rute kapal tanker melalui Tanjung Harapan menambah waktu pengiriman sekitar 10–15 hari.

Di sisi lain, biaya angkutan dan premi asuransi melonjak hingga 2–3 kali lipat.

Kondisi tersebut berpotensi memperketat pasokan minyak mentah dan produk turunannya dalam jangka pendek.

Bahkan, pasokan efektif ke kawasan Asia berisiko turun lebih dalam, sehingga meningkatkan tekanan terhadap harga minyak.

Dari sisi regional, negara-negara ASEAN tergolong rentan terhadap gangguan di Selat Hormuz. Sekitar 25%–48% impor minyak kawasan masih bergantung pada jalur tersebut.

Untuk Indonesia, ketergantungan langsung terhadap impor minyak dari Timur Tengah relatif lebih rendah, yakni sekitar 18%. Namun, risiko tidak langsung tetap signifikan.

Baca Juga: Perundingan AS–Iran Gagal, Harga Emas Berpotensi Tembus Rp 3,1 Juta per Gram

“Indonesia mengimpor sekitar 48% minyak dari Singapura, sementara lebih dari 70% pasokan minyak Singapura berasal dari Timur Tengah,” tulis Andhika dalam risetnya dikutip Senin (13/4/2026).

Secara absolut, Indonesia menghadapi potensi gangguan pasokan sekitar 324.000 barel per hari.

Angka ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan eksposur terbesar di kawasan, setelah Thailand dan Singapura.

Di tengah ketidakpastian tersebut, sektor energi khususnya emiten hulu minyak dan gas dinilai masih prospektif.

 
MEDC Chart by TradingView

PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) menjadi salah satu saham unggulan, mengingat sensitivitas kinerjanya terhadap kenaikan harga minyak.

Pada 2025, MEDC membukukan pendapatan sebesar US$ 2,40 miliar, relatif stabil secara tahunan, meskipun laba bersih turun 72,48% menjadi US$ 101 juta.

Baca Juga: Harga Saham Tambang Emas Tren Naik April 2026, Saatnya Beli atau Taking Profit?

Memasuki 2026, produksi MEDC diproyeksikan mencapai 165.000–170.000 barel per hari, atau tumbuh 5,7%–8,9% secara tahunan.

Kinerja perusahaan berpotensi terdongkrak apabila harga minyak tetap bertahan di level tinggi.

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai, emiten hulu seperti MEDC akan diuntungkan dari kenaikan average selling price (ASP) yang berpotensi memperlebar margin.

Selain itu, kebijakan pembatasan produksi oleh OPEC+ menjadi katalis tambahan yang menjaga keseimbangan pasokan global tetap ketat, sehingga menopang harga minyak.

Meski demikian, sejumlah risiko tetap perlu dicermati, terutama potensi perlambatan ekonomi global khususnya dari China yang dapat menekan permintaan energi, serta volatilitas nilai tukar yang memengaruhi pendapatan berbasis dolar AS.

Baca Juga: Saham Bank Ini Akan Bayar Dividen Rp 1,03 T, Cum Dividen 17 April 2026

Andhika merekomendasikan beli (buy) saham MEDC dengan target harga Rp 2.000 per saham.

Sementara itu, Wafi juga memberikan rekomendasi serupa dengan target harga Rp 1.800 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News