Ganti Pengendali, Berkah Prima (BLUE) Bersiap Masuk Ekosistem EV?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Berkah Prima Perkasa Tbk (BLUE) telah mengumumkan perkembangan terbaru terkait rencana pengambilalihan saham perseroan oleh Dragonmine Mining yang berbasis di Hong Kong.

Berdasarkan keterbukaan informasi Kamis (19/2/2026), Dragonmine Mining selaku calon pengendali baru bersama para pemegang saham penjual yakni Herman Tansri, Siek Agung Guntoro, Fajar Tasrif, Rudy Tasrif dan PT Cetak Biru Kapital telah menandatangani perjanjian jual beli bersyarat (Conditional Share Purchase Agreement/CSPA) pada 18 Februari 2026.

Lantas, siapakah Dragonmine Mining yang akan menjadi pengendali baru BLUE? 


Baca Juga: OJK Akan Segera Terbitkan POJK Pengawasan Influencer Saham, Targetnya Semester I-2026

Berdasarkan profilnya, Dragonmine Mining merupakan perusahaan tertutup yang berkantor pusat di Hong Kong dan dimiliki oleh Huayou Hongkong Limited. Meski BLUE belum merinci identitas Dragonmine secara detail, hasil penelusuran menunjukkan Huayou Hongkong Limited adalah anak usaha dari Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd. yang berperan sebagai unit investasi luar negeri di sektor pertambangan dan mineral.

Huayou memiliki lima pilar bisnis yang mencakup seluruh rantai nilai industri material baterai lithium-ion. Indonesia, khususnya sektor nikel, menjadi salah satu fokus strategis perusahaan asal Tiongkok tersebut. Huayou juga tercatat aktif mengembangkan ekosistem baterai terintegrasi di Indonesia, termasuk melalui Proyek Titan yang bekerja sama dengan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) dan Indonesia Battery Corporation (IBC).

Head of Research NH Korindo Sekuritas Indonesia Ezaridho Ibnutama mengatakan, terdapat potensi bagi BLUE untuk mengubah haluan model bisnisnya pasca perubahan pengendali. 

Ezaridho bilang langkah ini berpotensi  memperbaiki kinerja perusahaan-perusahaan dengan performa rendah di Bursa Efek Indonesia pada masa di mana pengawasan masih minim, sehingga memungkinkan perusahaan dengan kualitas yang lebih baik untuk masuk melalui skema backdoor listing. Selain itu, BEI juga telah merilis regulasi baru yang memungkinkan perusahaan tercatat untuk mengubah kode saham perusahaan.

“Sebagai referensi, sekitar 30% dari seluruh perusahaan di BEI saat ini mencatatkan kerugian bersih. Dengan adanya reformasi pasar modal yang mewajibkan porsi saham publik (free float) lebih tinggi berdasarkan ukuran kapitalisasi pasar, regulasi baru ini memicu kemacetan baru pada aksi IPO,” ungkap Ezaridho dalam keterangannya, Senin (23/2/2026).

Langkah Dragonmine terhadap BLUE bukanlah fenomena tunggal. Untuk membaca arah transformasi BLUE, investor dapat menengok langkah yang dilakukan CNGR Advanced Material Co., Ltd. (CNGR) terhadap PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK).

Baca Juga: Efisiensi Capex ART RI–AS Jadi Angin Segar, Belum Cukup Balikkan Tren Saham Menara

Perusahaan yang awalnya bergerak di bidang kemasan ini dicaplok oleh PT Eco Energi Perkasa, yang dimiliki oleh Deng Weiming, pendiri CNGR, salah satu produsen prekursor baterai terbesar dunia. Pasca akuisisi, PACK berubah nama menjadi PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk dan mengumumkan rencana rights issue jumbo untuk menyerap aset tambang dan smelter nikel. 

BLUE sebagai pemain industri tinta dan alat tulis, kini menghadapi prospek akuisisi 80% saham oleh Dragonmine. Mengingat Dragonmine dimiliki secara langsung oleh Huayou yang sudah memiliki investasi miliaran dolar di Morowali dan Pomalaa, transmisi aset nikel ke dalam BLUE diprediksi tinggal menunggu waktu.

Selanjutnya: Bos Otorita Pantura Sebut Pembangunan Giant Sea Wall Bisa Tembus Rp 1.681 triliun

Menarik Dibaca: Ramalan Zodiak Keuangan dan Karier Besok Selasa 24 Februari 2026, Atur Ketenangan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News